Jumat, 24 Desember 2010

Setitik Maaf Buat Bapak

malam-malam aku sendiri.... di kamar, Rara pulkam mungkin besok baru balik ke Makassar. Lagi asyik2x nyantap masakanku telpon berdering. “siapa lagi sih? Ganggu aja” ku lihat layar hp, hmmm no baru. “nox anak flora kali” gumamaku,
“halo”
“ini, mega ya?” terdengar suara wanita dari seberang sana
“iya, knp?” jawabku.
“ini bapakmu mau bicara, boleh?”
Mendengar nama bapak disebut, perasaan ku jadi nggak enak.
“emangnya ini siapa?”
“saya istrinya bapakmu di kalimantan, bisakah bapak mu bicara?” what?! istri bapak? ibu tiri donk. huhh berani2x dia menelponku.
“mana coba?” Aku penasaran juga.
“assalamualaykum” suara itu begitu asing di telingaku.
“waalaykum salam”
“mega bagaimana kabarmu nak”
“baik”
“sudah selesai sekolahmu ?”
“sudah”
“bapak minta maaf sudah ninggalin kalian”
“ini bapak ku betul kah?”
“iya ini bapa, nak. Kamu ndak kenal kah suaranya bapak?”
“sudah lupa” kataku sembari menggigit bibir. Tak dapat kubendung air mata ku kini. setega itu kah aku pada bapakku. tapi itulah kenyataannya. aku sama sekali lupa dengan suaranya.
“iya, nggak papa. Bapak tau bapak yang salah. Sudah lama ninggalin kamu”
“kenapa baru telpon sekarang?”
“bapak baru dapat nomor kamu,nak. Sudah cari kemana-mana, bahkan ayu dan mamamu ndak mau ngasih, adekmu ilham juga ndak mau bicara sama bapak.”
Tentu saja mama marah, bayangkan setelah bercerai dengan mama, papa pergi begitu saja, tanpa pernah memberikan nafkah sepeser pun kepada anak-anaknya. Itu terjadi sekitar 12 tahun yang lalu, ketika itu usiaku baru menginjak 10 tahun, Ilham 6 tahun dan Ayu 2 tahun. Kami masih kecil. Mama waktu itu belum jadi guru. Beliau melakukan apa saja untuk bisa menafkahi kami. Berusaha sekuat tenaga agar anak2nya bisa makan dan sekolah. bahkan Ayu sempat dititip di saudara jauhnya mama supaya bisa hidup layak dan sekolah. Aku ingat mama pernah jadi penjual pecel di sd tempatku sekolah, juga pernah membantu orang memotong padi, bahkan pernah berdagang kelapa, pisang dan jeruk sampai ke makassar. Selain mebiayai aku dan adik mama juga membiayai adik bungsunya yang justru kini tidak memperdulikan mamaku.
Nah saat semua sudah membaik, bapak muncul lagi di kehidupan kami. Apa yang harus ku lakukan? Marah? Bahagia? Dan berkata pada dunia “dengarlah ayahku menelpon dan meminta maaf padaku? Begitukah? Ntahlah aku bingung. Aku tak pernah merindukanya, tak pernah mengharapkannya. Kadang aku malah berpikir orang tua ku hanya mama seorang. Aku tidak peduli dengan kepergiannya, toh waktu masih bersamanya aku tak pernah merasakan kasih sayang bapak. Jadi ada atau pun tiada itu sama saja,. Aku justru bahagia tanpa nya. Sungguh….
Dia bertanya tentang sekolah ku “sudah selesai kuliahmu?”
“sudah” inginnya kusambung (itu semua atas perjuangan mama dan tanpa bantuan sedikitpun darimu, pak)
Bapak meminta maaf, dia terima jika kami semua marah dan mencaci maki nya, dia terima karena ini memang kesalahannya, inginnya aku tertawa. “begitu mudahkah meminta maaf atas kesalahan sekian tahun yang kau lakukan. Menikah dan membiayai 4 orang anak tiri dan melupakan kami begitu saja. dan begitu keadaan membaik, kau kembali mengusik ketenangan kami, merasa tanggungjawabmu sudah purna. Hhhehh. Hebat!
Memakimu? untuk apa? tidak puaskah kau meninggalkan kami dan kini menyuruh kami melakukan dosa dengan memakimu. aku tak akan melakukannya, tidak. setidaknya tidak secara langsung. Mama tak pernah mengajari kami membencimu. tapi kerasnya perjuangan yang dilakukan mama untuk kami, membuat kami lupa bahwa kami punya ayah.
Mudah saja memafkannya. Bagi ku tak ada bedanya memafkan atau pun tidak. Bagaimanapun juga, sebagai anak aku masih wajib memperlakukan bapak dengan baik. Iya kan, Pak! lagi pula aku tak ingin membuatnya terus merasa bersalah. itu tak kan mendatangkan keuntungan bagiku. malah dosa yang kudapat.
Aku menunggu telpon di tutup. Ingin rasanya megakhiri sambungan ini. Aku sudah tidak tahan. air mata ku terus saja mengalir. bukan air mata haru, tapi air mata kekesalan dan kemarahan.
“ya sudah, hati-hati kamu disitu nak yah…”
“iya, bapak juga hidup baik-baik saja di situ”
“assalamu’alaykum”
“wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh”
Aneh rasanya mendengar bapak bicara baik-baik dan lembut kepadaku. Waktu kecil aku tak bahkan sangat jarang berbicara dengannya. tak pernah ku dengar sapaan, “nak” darinya Aku dan bapak seperti orang lain. Sangat aneh bagiku menyebut kata bapak kepadanya. Aneh. Kaku. Unusual. Lebih nyaman ketika menyapa Pak Nurdin dengan sapaan Bapak.
Benarkah aku sudah memaafkannya? Mungkin. Tapi aku tak ingin bertemu dengannya. Aku ingin menjalani hariku just like now, without him.
Ya Allah… mohon berikan aku hati yang bersih, hati yang senantiasa ridha dengan apa yang kau berikan, hati yang senantiasa bisa memafkan kesalahan orang lain. bantulah aku untuk bisa ikhlas memafkan bapak. mungkin hanya ini lah yang bisa membuatnya tenang. akhirnya aku sampai pada suatu keputusan…..


Bapak aku memafkanmu karena Allah….

Minggu, 12 Desember 2010

rindu berat

Pagi ini aku tiba dengan selamat di Makassar. Kota yang ku tinggali selama 4 tahun lebih ini, tampak sepi. Ketika ku pijakkan kaki masuk di kost flora, lagi2 ku temui hal berbeda dengan 7 bulan yang lalu. Saat itu masih ada Dewi, Nunu, Anti, Rara, Upe Uppa dll. Tapi pagi ini aku tidak menemukan itu. Bahkan tak ada yang menjawab salam ku. Entahlah.. mungkin pada nggak dengar. Yenyum adek indah yang menyapaku cukup mengobati kekecewaanku, meski itu masih kurang.
Kangen.... berat... sama "flora girl", yang always ceria dan rame. Rindu pada sorak sorai mereka. Pada kegokilan mereka.
Saat lagi istirahat siang kubuka kembali vidio kenangan ku dan Anti. hiks... pengen nangis... kangen... skrg aku ga bisa kayak dulu lagi. Cuma dia yang bisa ku ajak ngelakuin hal-hal gokil bin narsis kayak gitu. Cuma dia! nggak yang lain.. dia adalah sahabat yang tak kan terganti. Always forever...
Miss you my best friend

Rabu, 20 Oktober 2010

i luv math

Tulisan ini sebenarnya kibwt waktu bulan ramadhan lalu. tapi lupa diposting. baru sekarang bisa dibagi. nggak papa yah....

Nggak terasa udah jam 4.12 pm. Hari ini aku nggak puasa loh. Biasa cewek, dapet dispensasi tiap bulan. Pantas aja kalau rasulullah mengatakan bahwa agamanya wanita itu hanya setengah. Setengah harian aku ngeprint skripsi 2 rangkap. Masyaallah cuman dua tapi lamanya minta ampun, masih sisa 2 rangkap lagi, yang insyaallah dilanutin besok. Sambil ngeprint aku nyempetin buat video foto-foto kenangan aku ma anti. Meskipun movie maker aku transistion effectnya ilang tapi hasilnya tetap bagus kok. Mungkin karena objeknya kali yah….biar digimanain juga tetap bagus. Aku cukup puas dengan hasil karya ku hari ini.
Jam 12. Aku selesai ngeprint. Baru deh aku bisa mandi, soalnya aku emang kayak gitu, nggak bisa ninggalin pekerjaan, istilah umumnya, nanggung…. Wuih muka ku penuh tinta, ada hitam, merah, kuning, biru. Persis kayak pelangi. *emang pelangi ada yang warna hitam?. Tapi nggak indah coz berantakan. Kok bisa muka penuh pelangi, ups maksudnya tinta? Itu tuh.. Cartridge printer tadi sempat ngadat, alias banjir, terus waktu cartridge berwarna yang kuisi , tintanya nyembur. Hiks..hiks…
Abis mandi, ngapain ya…oh iya, karena nggak ada kerajaan aku ngerjain soal spmb. Tau nih, udah 2 hari ni aku keranjingan ngerjain soal-soal spmb. Padahal aku kan nggak bakal ikut spmb. Yah.. Iseng-iseng bermutu gito ceritanya. Dah lama banget nggak ngerjain soal matematika. Udah hampri setahun. Mulai dari semester 7 aku emang udah nggak program mata kuliah yang di kelas, waktu itu aku ppl (Praktek Pengenalan Lapangan), semeseter 8, kkn dan tugas akhir. Jadi kalo nggak di latih bisa –bisa ilang semua rumus yang pernah dipelajari. Ternyata emang seru ngerain soal-soal matematika. Dari film yang pernah ku nonton judulnya master of study (drama korea) disebutkan bahwa matematika adalah pelajaran yang membutuhkan reflex yang cepat dari yang memperlarinya, bukan hanya otak yang bekerja tapi sebisa mungkin selutuh anggota tubuh bisa bereaksi ketika mengerjakan soal matematika. Tapi nggak berarti ketika kita ngerain soal kita harus salto atau loncat-loncatan kayak kuda lumping. Maksudnya nih ya, misal kita ngadepin sebuah soal. Pertama-tama yang dilakukan , tentunya membaca soal tsb, kemudian jangan cuma membaca terus “bilang ini susah”, tapi usahakan tangan menulis hal-hal yang diketahui, sambil otak memikirkan langkah-langkah serta rumus-rumus yang berkaitan dengan penyelesaian soal tersebut. Dan ingat jangan hanya terpaku pada satu rumus, semua pengetahuan, mau itu teori, aksioma,, syarat, harus digunakan. Loh kok aku jadi kayak pakar matematika gini ya? Nggak lagi. itu cuma tips dari aku berdasarkan pengalaman yang kudapat selama ini. Dalam mengerjakan soal matematika nggak boleh ada kata putus asa. Coba-coba dan coba. Dan ketika kita bisa menemukan jawaban dari masalah yang kita anggap rumit, dan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, rasanya pasti menyenangkan, ada kepuasan tersendiri ketika itu. Mungkin ini sebabnya aku suka matematika. Matematika mengajarkanku untuk berpikir kritis, pantang menyerah, sistematis, dan taat asas. I luv math.
Berhubung, udah sore, aku mo nyiapin buka puasa dulu. Meskipun aku nggak puasa, tapi memberi makan orang yang berpuasa itu kan juga mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala puasa orang tersebut.
selamat puasa..

Hujan turun Lagi

MasyaAllah… di luar hujan turun dengan lebatnya. seperti air yang ditumpahkan dari langit. hm…. rasanya ingin terjun lagi. mandi-mandi hujan kayak dulu, bareng anak2 flora. Aku, Anti, Dewi, Rara, dan Upe’ plus Uppa. meskipun uppa Cuma jadi penonton. he..he..he,,
tapi sekarang, aku hanya bisa memandang jatuhnya air hujan di depan kamar. kangen…. berat ma anak-anak flora yang dulu. yang gokil, ceria, kompak, dan selalu happy. kapan ya… bisa main hujan-hujanan bareng lagi? Flora sekarang udah ga kayak dulu. anak2 pada nongkrong di kamar masing-masing, nggak mau gabung or ngumpul2 kayak dulu. Flora yang dulunya rame dan asyik, berubah jadi sepi…banget. hiks. kenapa sih harus berubah kayak gini. aku pengen anak2 flora yang dulu. yang sering ngumpul di teras. menikmati pagi, sore, or malam yang bertabur bintang maupun nggak. buka puasa berang, nonton film korea bareng, belajar dandan, makan-makan bareng, sampe foto-foto narsis.
ya sudahlah. mungkin ini emang akhir dari perjalanan Flora yang Gokil. kini Flora menjadi lebih religious, satu hal yang patut ku syukuri, hanya saja menurut ku kereligiusan itu nggak harus menjadikan kita tak saling berbagi kebahagiaan bukan? nggak membatasi kita untuk saling sharing, or ngumpul2. pokoknya aku kangen ma Flora yang dulu. karena aku ngerasa, rasa kekeluargaannya lebih kental. di flora yang dulu kita udah kayak sodara. di flora yang dulu aku nggak pernah merasa benar2 sendiri.
salam rinduku bwt anak2, flora.

MY BFF: Jauh di mata dekat di telinga


Hari ini, Kamis 14 Oktober 2010. Seharian aku di kamar kost. Cuma keluar waktu pagi untuk beli sayur mayur. Abis itu ya di kamar aja. Aku lagi kena sindrom malas kayaknya. Padahal aku dapat tugas Mading untuk membuat bahasan utama mengenai masalah futur. Aku Cuma bisa nyelesaiin 2 paragraf aja. buntu (kayak WC). No idea. Sulit mengembangkan paragraphnya. Yah aku sadari, aku memang belum meliki kafa’ah di bidang ini.
Siang abis masak, mandi, shalat duhur dan makan siang, aku bobo. Cerintanya sih mo nyiapin energi bwt musyawarah ntar sore bareng anak2 diklat. Tapi fakta berbicara lain. Bangun tidur kepalaku sakit banget. Untuk shalat aja aku susah. Apalagi mo jalan ke Tabaria yang jaraknya sekitar 2 kiloan dari kost ku. Oh No.
Lagi sakit-sakitnya kepala ini. Hp ku berdering, ku pikir dari Kadep, ternyata dari Fera. One of my BBF. Senang… banget, di telpon ma Fera, apalagi si Fera tuh mengkonferensikannya dengan Anti. Trus aku usul bwt ngajak Iin. Jadi deh kita ber4 ngobrol seru. Seru…banget. Cz semuanya pada mo ngomong, sampe nggak jelas siapa yang lagi ngomong dan lagi ngomogin apa. Gini nih kalo 4 gadis jadi-jadian ketemu. Tema pembicaraannya beragam, mulai dari tanya2 kabar masing2, baik kesehatan, aktivitas skrg, maupun kapan merid. Bagi yang merid nggak ngundang2 bakal digigit ma Fera si pembawa virus Rabies. Selama ngobrol Iin paling sering nyebut2 kata “boker”. Kalo Anti, apa ya? Kayaknya dia yang suaranya paling jauh… sayup2 gimana gitu….
Ketika ditanya gimana perasaannya saat ini, jawabannya macam-macam.
Anti : terus terang tadi aku tuh suntuk banget. nggak tau mo ngapain. kangen….berat ma kalian. tapi skrg ga lagi, cz dah dengar suara kalian
Aku : tadi lagi sakit kepala, tapi mendengar suara kalian yang kayak kerumunan lebah tiba2 nggak pengen sakit kepala lagi. nggak sanggup kalo musti skait kepala ganda.
Iin : sekarang aku malah sakit kepala, cz lagi tidur siang dibangunin ma telponx fera, trus ngobrol ma kalian. huh. (berlagak nggak butuh)
Aku dan Anti : oohhh gitu ya? (nada sinis)
Fera : In, putusin aja telponnya, sudah get out aja.
Iin : bededeh. santai fren….
Fera : kalo saya lagi flu ini. mo bagi-bagi flu ma kalian. kita kan harus saling berbagi. mau toh?
Anti : nggak usah, Fer. untuk yang satu inii kami ikhlas ga di kasih
Iin : iya, flux bwt Fera aja
Aku : nggak semua hal bisa dibagi, say. kamu pake puas2 dah tuh flu.
Ada hal yang bikin kami semua “GUBRRAAKK”. Fera belum tahu kalo Anti dah berhenti kuliah di Biologi. ck..ck..ck… tuh Anak benar2 lugu ato gimana ya? padahal dari kemaren2 aku dan Anti udah ngasih isyarat bahkan udah pernah bilang. Fera heran, pasalx Anti nggak balik2 ke Makassar. Dikiranya si Anti lagi libur panjang…. emang sih… tapi panjang….banget.
Aku : ok, Fer, sepertinya Anti kesulitan untuk menjelaskannya pada dirimu mbak. so biar dakuw saja yang melakukan tugas diplomasi ini.
Anti : hu… gaya…
Fera : iya cepatan. Ntar ku gigit lo
Aku : Ok, mbak. dengar baik2 ya. karena aku nggak akan mengulanginya. Jadi harus pasang telinga lebar2. siap?
Fera : hm. apa? cepat mi!
Aku : Bismillahirrahmanirahim. I love you. ha..ha…ha…!
Anti : Gyaaaaa! Mega….!!!
Fera : woi serius donk. ntar kugigit beneran nih. menetes mi ini iler ku’
Aku : gini loh Fera. pertama: Anti nggak suka biologi. Kedua Anti pengen kabur dari biologi. ketiga Anti pengen kabur dari saya
Iin : ya. karena Mega suka boker-boker!
terdengar tawa dari mereka bertiga. aku pun complain.
haha…..ha… begitulah seterusnya. hingga akhirnya terjadi perdebatan singkat. Fera menyayangkan keputusan Anti. Katanya sayang… tinggal sedikit lagi. Wah..blom tau dia kalo Anti tuh yang sedikit bukan sisanya, tapi yang sudah diprogram. Fera menyarankan untuk meneruskan dulu kuliahnya Anti.
Aku yang dari awal udah tau wataknya Anti yang very-very keras - lo mo ngomong apa juga ga bakal mempan - mencoba menengahi. Aku mengibaratkan kuliahnya Anti di Biologi sebagai makanan yang membuatnya sakit perut. Apakah dia harus terus memakannya atau menghentikannya. Tanggapan forum berbeda2.
Anti : Me…. bagus banget pengibaratannya…
Fera : kalo menurut saya, kita mesti lihat manfaat dan mudharatnya.
Anti :Justru itu fer kenapa aku berhenti dari bio. cz aku ngarasa lebih besar mudharatnya bagi dirikuw.
Iin : kalo saya, pergi dulu boker, baru habis itu lanjut lagi makannya.
aku, anti dan fera : Hu… dari tadi boker aja yang di omongin….
Anti emang nggak berminat melanjutkan kuliahnya yang keteteran di Biologi. ia dari awal memang sudah gak suka. tapi nyadarnya telat. So ketika dia memutuskan untuk berhenti banyak yang terkejut. Emang susah menjalani sesuatu yang ga dicintai, meskipun ada yang bilang “jangan hanya mau melakukan apa yang kamu cintai, tapi cobalah mencintai apa yang kamu kerjakan”. Aku sih setuju banget dengan kalimat itu. Tapi ada sebahagian orang yang tidak dapat melakukannya. Dan mungkin itu termasuk Anti. Dia tidak mencintai biologi, dan tidak berusaha untuk mencintainya. Dia cinta menulis, kalo boleh kubilang (maaf ya anti) dia “gila menulis”. Siang malam dia menulis dan menulis. Dia sanggup begadang, cuman bwt nulis cerita. Salut deh bwt semangatnya. Coba aja kuliahnya juga kayak gitu. Yakin deh dia bakal jadi mahasiswa teladan.
Akhirnya, Fera pun berusaha untuk memahami keputusan Anti. Sedangkan Aku dan Iin yang memang sudah dari awal menerima keputusan Anti, adem-adem aja mendengar perdebatan kecil di antara mereka. itulah gunanya teman. Tugas kita adalah untuk menasehatinya dan memberikan semangat bukan untuk memaksakan kehendak kita. Karena belum tentu yang kita anggap baik, juga dirasa baik oleh sahabat kita. Kita bakal tunggu anti melanjutkan kuliahnya tahun depan di bidang yang diminatinya. Tulis-menulis. CAYO ANTI. GANBATTE KUDASAI! KAMI AKAN MENDUKUNGMU KAWAN!
Ada lagi nih, kami sempat tebak2an warna baju. Dimulai dari menebak warna baju Iin
Aku : Iin pake baju warna putih.
Fera : warna cokelat.
Anti : me’ kamu tadi nebaknya warna apa?
Aku : warna putih
Anti :In, warna apa bajumu?
Fera : ih curang, anti jawab dulu donk!
Aku : iya, Ti’. Tebak dulu warna bajunya Iin
Anti : kalo aku warna merah.
Iin : Jawabannya putih. Cz aku lagi pake bau dalam.
Aku : ya..ye..ye..ye… aku menang,..next. Tebak aku pake baju warna apa?
Anti : Aku…aku..Jawab dulu. Tadi sempat dengar Rara teriak. Bajunya Mega warna hijau.
Fera & IIN : curang….
Aku : iya.. Curang, masa’ Anti nguping?
Anti : eits.. Tunggu dulu. Itu membuktikan kalo pendengaranku masih bagus.. He…
Aku : ya udah warna bajuku dah ketebak, lanjut, bajunya Anti
Fera : warna biru
Iin : warna cokelat
Aku : mmm.. Apa ya? Kayaknya warna cokelat batik2 gitu.
Iin : ih..saya duluan yang tebak warna cokelat.
Aku : Nggak papa kali kalo sama
Ant : iya, nggak papa tawwa sama
Fera : Jawabannya?
Anti : Warna cokelat…
Fera : ya… salah lagi
Aku & Iin : he.. Fera sudah dua kali salah.
Terakhir nebak warna bajunya Fera
Iin : warna Pink
Anti : iya, pasti bajunya warna PINK
Aku : iya, eh nggak. Fera pake baju warna hijau.
Fera :hehehehe… aku nggak pake baju
GUBRAKKKK. Ternyata si Fera cuman lagi pake sarung. Ih… rantasa’na deh.
Anti : kalo gitu warna sarungnya, apa?
Fera : warna biru kotak2, he.. (sambil nyengir)
HUAHHAHAHA NGGAK ADA YANG BENAR.
Begitulah isi obrolan 4 cewek aneh yang nggak jelas visi misi hidupnya. Nggak ding. Meskipun kami semua rada2 gimana… gitu. Tapi kami semua punya cita-cita yang luhur. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kepada….”
Priiittttt!!!!! Udah..udah..nggak usah dilanjutin baca undang-undangnya. Ini kan hari kamis.
Ok back to us. Fera S.Ked., sekarang lagi sibuk Koas untuk meraih gelar Dokter. Masih ada setahun lebih baru selesai. sempat merid dan sempat punya anak. hoho! Iin si suster ngesot udah selesai kuliahnya. Dan sekarang lagi magang di RS Andi Djemma masamba. Dakuw , generasi Kartini yang udah S.Pd., ini akhirnya dapat kerja ngajar selama 3 bulan di SMA Makassar Raya sebagai guru Bahasa Inggris. Luar biasa. 4 tahun kuliah di matematika, eh selesainya malah ngajar Bahasa Inggris. Orang2 pada heran, but so what? Dari pada nganggur. Trus Anti, calon sarjana Bio yang memutuskan untuk mundur demi sebuah cita2 terpendam yang akhirnya ditemukannya kini bersemedi di Wotu demi kelancaran kariernya di masa mendatang. sebanarnya sahabat kami masih ada satu lagi, namanya Ika Rahayu. dia lulusan kebidanan, dan sekarang lagi di ternate, ikut suami. no hpx jg nggak aktif. kata Fera, kayaknya ika ada di pedalaman hutan ternate deh. he…he..he..
Kami semua punya cita2, semua punya cara yang berbeda untuk mewujudkannya. meski berbeda pandangan tapi kami berusaha untuk menerima perbedaan itu dan menghargai prinsip hidup masing-masing. karena tak seharusnya perbedaan menjadi jurang. bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi. nggak modal banget deh… nyontek lagunya melly goeslaw. misi mbak.. melly. whatever lah. pokoknya Jadilah yang terbaik siapapun kau adanya. aku jadi teringat pada puisi yang pernah kutempel di dinding kamarku dan Anti.
Luv U All my Best Friend Forever.

Midnight call

In the middle of one night at 12.00 o’clock, sarah couldn’t sleep. She couldn’t close her eyes, she didn’t know why she thought about her friend, lupita.
When her eyes were about to close, the thelepone rang. She got p of her bed and took the telephone.
Sarah : “who is this?”
Lupita : this is me, lupita.
Sarah : oh, lupita. Long time nit see, how are you?
Lupita : don’t worry i’am fine and i hope you are fine too.
Sarah : thanks. Btw, what is the matter. It’s not usual you phone me in the middle night.
Lupita : oh. I would like you to go to my house tomorrow morning.
Sarah : what for?
Lupita : you will know it tomorrow. Ok?! See you…
Sarah : see you
The following day, sarah keep her promise. She goes to lupita’s house. But she was so surprised when she looks a white flag in front of lupita’s house. When she was at the door, Lupita’s sister amberaces her.
Sarah : what s going on?
Lusita : Lupita died last night, she got heart attack. Hiks…
Sarah : how can? But she phone last night at 12.00 pm. And said that she was all right.
Lusita : it’s impossible , lupita died at 11.00 pm
Sarah : so, who called me last night?
But of them confused,
Sarah come back to her home. Until night, she still thinking about people who phoned her last night. Suddenly the telephone ring. She takes the telephone soon. She is very surprised when she listen the voice. She is lupita.
“good bye sarah, my friend. Do you want to follow me?”

kemarin aku di sms sama dewi yang bikin aku ketawa ini nih isi sms nya

Jumat, 24 Desember 2010

Setitik Maaf Buat Bapak

malam-malam aku sendiri.... di kamar, Rara pulkam mungkin besok baru balik ke Makassar. Lagi asyik2x nyantap masakanku telpon berdering. “siapa lagi sih? Ganggu aja” ku lihat layar hp, hmmm no baru. “nox anak flora kali” gumamaku,
“halo”
“ini, mega ya?” terdengar suara wanita dari seberang sana
“iya, knp?” jawabku.
“ini bapakmu mau bicara, boleh?”
Mendengar nama bapak disebut, perasaan ku jadi nggak enak.
“emangnya ini siapa?”
“saya istrinya bapakmu di kalimantan, bisakah bapak mu bicara?” what?! istri bapak? ibu tiri donk. huhh berani2x dia menelponku.
“mana coba?” Aku penasaran juga.
“assalamualaykum” suara itu begitu asing di telingaku.
“waalaykum salam”
“mega bagaimana kabarmu nak”
“baik”
“sudah selesai sekolahmu ?”
“sudah”
“bapak minta maaf sudah ninggalin kalian”
“ini bapak ku betul kah?”
“iya ini bapa, nak. Kamu ndak kenal kah suaranya bapak?”
“sudah lupa” kataku sembari menggigit bibir. Tak dapat kubendung air mata ku kini. setega itu kah aku pada bapakku. tapi itulah kenyataannya. aku sama sekali lupa dengan suaranya.
“iya, nggak papa. Bapak tau bapak yang salah. Sudah lama ninggalin kamu”
“kenapa baru telpon sekarang?”
“bapak baru dapat nomor kamu,nak. Sudah cari kemana-mana, bahkan ayu dan mamamu ndak mau ngasih, adekmu ilham juga ndak mau bicara sama bapak.”
Tentu saja mama marah, bayangkan setelah bercerai dengan mama, papa pergi begitu saja, tanpa pernah memberikan nafkah sepeser pun kepada anak-anaknya. Itu terjadi sekitar 12 tahun yang lalu, ketika itu usiaku baru menginjak 10 tahun, Ilham 6 tahun dan Ayu 2 tahun. Kami masih kecil. Mama waktu itu belum jadi guru. Beliau melakukan apa saja untuk bisa menafkahi kami. Berusaha sekuat tenaga agar anak2nya bisa makan dan sekolah. bahkan Ayu sempat dititip di saudara jauhnya mama supaya bisa hidup layak dan sekolah. Aku ingat mama pernah jadi penjual pecel di sd tempatku sekolah, juga pernah membantu orang memotong padi, bahkan pernah berdagang kelapa, pisang dan jeruk sampai ke makassar. Selain mebiayai aku dan adik mama juga membiayai adik bungsunya yang justru kini tidak memperdulikan mamaku.
Nah saat semua sudah membaik, bapak muncul lagi di kehidupan kami. Apa yang harus ku lakukan? Marah? Bahagia? Dan berkata pada dunia “dengarlah ayahku menelpon dan meminta maaf padaku? Begitukah? Ntahlah aku bingung. Aku tak pernah merindukanya, tak pernah mengharapkannya. Kadang aku malah berpikir orang tua ku hanya mama seorang. Aku tidak peduli dengan kepergiannya, toh waktu masih bersamanya aku tak pernah merasakan kasih sayang bapak. Jadi ada atau pun tiada itu sama saja,. Aku justru bahagia tanpa nya. Sungguh….
Dia bertanya tentang sekolah ku “sudah selesai kuliahmu?”
“sudah” inginnya kusambung (itu semua atas perjuangan mama dan tanpa bantuan sedikitpun darimu, pak)
Bapak meminta maaf, dia terima jika kami semua marah dan mencaci maki nya, dia terima karena ini memang kesalahannya, inginnya aku tertawa. “begitu mudahkah meminta maaf atas kesalahan sekian tahun yang kau lakukan. Menikah dan membiayai 4 orang anak tiri dan melupakan kami begitu saja. dan begitu keadaan membaik, kau kembali mengusik ketenangan kami, merasa tanggungjawabmu sudah purna. Hhhehh. Hebat!
Memakimu? untuk apa? tidak puaskah kau meninggalkan kami dan kini menyuruh kami melakukan dosa dengan memakimu. aku tak akan melakukannya, tidak. setidaknya tidak secara langsung. Mama tak pernah mengajari kami membencimu. tapi kerasnya perjuangan yang dilakukan mama untuk kami, membuat kami lupa bahwa kami punya ayah.
Mudah saja memafkannya. Bagi ku tak ada bedanya memafkan atau pun tidak. Bagaimanapun juga, sebagai anak aku masih wajib memperlakukan bapak dengan baik. Iya kan, Pak! lagi pula aku tak ingin membuatnya terus merasa bersalah. itu tak kan mendatangkan keuntungan bagiku. malah dosa yang kudapat.
Aku menunggu telpon di tutup. Ingin rasanya megakhiri sambungan ini. Aku sudah tidak tahan. air mata ku terus saja mengalir. bukan air mata haru, tapi air mata kekesalan dan kemarahan.
“ya sudah, hati-hati kamu disitu nak yah…”
“iya, bapak juga hidup baik-baik saja di situ”
“assalamu’alaykum”
“wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh”
Aneh rasanya mendengar bapak bicara baik-baik dan lembut kepadaku. Waktu kecil aku tak bahkan sangat jarang berbicara dengannya. tak pernah ku dengar sapaan, “nak” darinya Aku dan bapak seperti orang lain. Sangat aneh bagiku menyebut kata bapak kepadanya. Aneh. Kaku. Unusual. Lebih nyaman ketika menyapa Pak Nurdin dengan sapaan Bapak.
Benarkah aku sudah memaafkannya? Mungkin. Tapi aku tak ingin bertemu dengannya. Aku ingin menjalani hariku just like now, without him.
Ya Allah… mohon berikan aku hati yang bersih, hati yang senantiasa ridha dengan apa yang kau berikan, hati yang senantiasa bisa memafkan kesalahan orang lain. bantulah aku untuk bisa ikhlas memafkan bapak. mungkin hanya ini lah yang bisa membuatnya tenang. akhirnya aku sampai pada suatu keputusan…..


Bapak aku memafkanmu karena Allah….

Minggu, 12 Desember 2010

rindu berat

Pagi ini aku tiba dengan selamat di Makassar. Kota yang ku tinggali selama 4 tahun lebih ini, tampak sepi. Ketika ku pijakkan kaki masuk di kost flora, lagi2 ku temui hal berbeda dengan 7 bulan yang lalu. Saat itu masih ada Dewi, Nunu, Anti, Rara, Upe Uppa dll. Tapi pagi ini aku tidak menemukan itu. Bahkan tak ada yang menjawab salam ku. Entahlah.. mungkin pada nggak dengar. Yenyum adek indah yang menyapaku cukup mengobati kekecewaanku, meski itu masih kurang.
Kangen.... berat... sama "flora girl", yang always ceria dan rame. Rindu pada sorak sorai mereka. Pada kegokilan mereka.
Saat lagi istirahat siang kubuka kembali vidio kenangan ku dan Anti. hiks... pengen nangis... kangen... skrg aku ga bisa kayak dulu lagi. Cuma dia yang bisa ku ajak ngelakuin hal-hal gokil bin narsis kayak gitu. Cuma dia! nggak yang lain.. dia adalah sahabat yang tak kan terganti. Always forever...
Miss you my best friend

Rabu, 20 Oktober 2010

i luv math

Tulisan ini sebenarnya kibwt waktu bulan ramadhan lalu. tapi lupa diposting. baru sekarang bisa dibagi. nggak papa yah....

Nggak terasa udah jam 4.12 pm. Hari ini aku nggak puasa loh. Biasa cewek, dapet dispensasi tiap bulan. Pantas aja kalau rasulullah mengatakan bahwa agamanya wanita itu hanya setengah. Setengah harian aku ngeprint skripsi 2 rangkap. Masyaallah cuman dua tapi lamanya minta ampun, masih sisa 2 rangkap lagi, yang insyaallah dilanutin besok. Sambil ngeprint aku nyempetin buat video foto-foto kenangan aku ma anti. Meskipun movie maker aku transistion effectnya ilang tapi hasilnya tetap bagus kok. Mungkin karena objeknya kali yah….biar digimanain juga tetap bagus. Aku cukup puas dengan hasil karya ku hari ini.
Jam 12. Aku selesai ngeprint. Baru deh aku bisa mandi, soalnya aku emang kayak gitu, nggak bisa ninggalin pekerjaan, istilah umumnya, nanggung…. Wuih muka ku penuh tinta, ada hitam, merah, kuning, biru. Persis kayak pelangi. *emang pelangi ada yang warna hitam?. Tapi nggak indah coz berantakan. Kok bisa muka penuh pelangi, ups maksudnya tinta? Itu tuh.. Cartridge printer tadi sempat ngadat, alias banjir, terus waktu cartridge berwarna yang kuisi , tintanya nyembur. Hiks..hiks…
Abis mandi, ngapain ya…oh iya, karena nggak ada kerajaan aku ngerjain soal spmb. Tau nih, udah 2 hari ni aku keranjingan ngerjain soal-soal spmb. Padahal aku kan nggak bakal ikut spmb. Yah.. Iseng-iseng bermutu gito ceritanya. Dah lama banget nggak ngerjain soal matematika. Udah hampri setahun. Mulai dari semester 7 aku emang udah nggak program mata kuliah yang di kelas, waktu itu aku ppl (Praktek Pengenalan Lapangan), semeseter 8, kkn dan tugas akhir. Jadi kalo nggak di latih bisa –bisa ilang semua rumus yang pernah dipelajari. Ternyata emang seru ngerain soal-soal matematika. Dari film yang pernah ku nonton judulnya master of study (drama korea) disebutkan bahwa matematika adalah pelajaran yang membutuhkan reflex yang cepat dari yang memperlarinya, bukan hanya otak yang bekerja tapi sebisa mungkin selutuh anggota tubuh bisa bereaksi ketika mengerjakan soal matematika. Tapi nggak berarti ketika kita ngerain soal kita harus salto atau loncat-loncatan kayak kuda lumping. Maksudnya nih ya, misal kita ngadepin sebuah soal. Pertama-tama yang dilakukan , tentunya membaca soal tsb, kemudian jangan cuma membaca terus “bilang ini susah”, tapi usahakan tangan menulis hal-hal yang diketahui, sambil otak memikirkan langkah-langkah serta rumus-rumus yang berkaitan dengan penyelesaian soal tersebut. Dan ingat jangan hanya terpaku pada satu rumus, semua pengetahuan, mau itu teori, aksioma,, syarat, harus digunakan. Loh kok aku jadi kayak pakar matematika gini ya? Nggak lagi. itu cuma tips dari aku berdasarkan pengalaman yang kudapat selama ini. Dalam mengerjakan soal matematika nggak boleh ada kata putus asa. Coba-coba dan coba. Dan ketika kita bisa menemukan jawaban dari masalah yang kita anggap rumit, dan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, rasanya pasti menyenangkan, ada kepuasan tersendiri ketika itu. Mungkin ini sebabnya aku suka matematika. Matematika mengajarkanku untuk berpikir kritis, pantang menyerah, sistematis, dan taat asas. I luv math.
Berhubung, udah sore, aku mo nyiapin buka puasa dulu. Meskipun aku nggak puasa, tapi memberi makan orang yang berpuasa itu kan juga mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala puasa orang tersebut.
selamat puasa..

Hujan turun Lagi

MasyaAllah… di luar hujan turun dengan lebatnya. seperti air yang ditumpahkan dari langit. hm…. rasanya ingin terjun lagi. mandi-mandi hujan kayak dulu, bareng anak2 flora. Aku, Anti, Dewi, Rara, dan Upe’ plus Uppa. meskipun uppa Cuma jadi penonton. he..he..he,,
tapi sekarang, aku hanya bisa memandang jatuhnya air hujan di depan kamar. kangen…. berat ma anak-anak flora yang dulu. yang gokil, ceria, kompak, dan selalu happy. kapan ya… bisa main hujan-hujanan bareng lagi? Flora sekarang udah ga kayak dulu. anak2 pada nongkrong di kamar masing-masing, nggak mau gabung or ngumpul2 kayak dulu. Flora yang dulunya rame dan asyik, berubah jadi sepi…banget. hiks. kenapa sih harus berubah kayak gini. aku pengen anak2 flora yang dulu. yang sering ngumpul di teras. menikmati pagi, sore, or malam yang bertabur bintang maupun nggak. buka puasa berang, nonton film korea bareng, belajar dandan, makan-makan bareng, sampe foto-foto narsis.
ya sudahlah. mungkin ini emang akhir dari perjalanan Flora yang Gokil. kini Flora menjadi lebih religious, satu hal yang patut ku syukuri, hanya saja menurut ku kereligiusan itu nggak harus menjadikan kita tak saling berbagi kebahagiaan bukan? nggak membatasi kita untuk saling sharing, or ngumpul2. pokoknya aku kangen ma Flora yang dulu. karena aku ngerasa, rasa kekeluargaannya lebih kental. di flora yang dulu kita udah kayak sodara. di flora yang dulu aku nggak pernah merasa benar2 sendiri.
salam rinduku bwt anak2, flora.

MY BFF: Jauh di mata dekat di telinga


Hari ini, Kamis 14 Oktober 2010. Seharian aku di kamar kost. Cuma keluar waktu pagi untuk beli sayur mayur. Abis itu ya di kamar aja. Aku lagi kena sindrom malas kayaknya. Padahal aku dapat tugas Mading untuk membuat bahasan utama mengenai masalah futur. Aku Cuma bisa nyelesaiin 2 paragraf aja. buntu (kayak WC). No idea. Sulit mengembangkan paragraphnya. Yah aku sadari, aku memang belum meliki kafa’ah di bidang ini.
Siang abis masak, mandi, shalat duhur dan makan siang, aku bobo. Cerintanya sih mo nyiapin energi bwt musyawarah ntar sore bareng anak2 diklat. Tapi fakta berbicara lain. Bangun tidur kepalaku sakit banget. Untuk shalat aja aku susah. Apalagi mo jalan ke Tabaria yang jaraknya sekitar 2 kiloan dari kost ku. Oh No.
Lagi sakit-sakitnya kepala ini. Hp ku berdering, ku pikir dari Kadep, ternyata dari Fera. One of my BBF. Senang… banget, di telpon ma Fera, apalagi si Fera tuh mengkonferensikannya dengan Anti. Trus aku usul bwt ngajak Iin. Jadi deh kita ber4 ngobrol seru. Seru…banget. Cz semuanya pada mo ngomong, sampe nggak jelas siapa yang lagi ngomong dan lagi ngomogin apa. Gini nih kalo 4 gadis jadi-jadian ketemu. Tema pembicaraannya beragam, mulai dari tanya2 kabar masing2, baik kesehatan, aktivitas skrg, maupun kapan merid. Bagi yang merid nggak ngundang2 bakal digigit ma Fera si pembawa virus Rabies. Selama ngobrol Iin paling sering nyebut2 kata “boker”. Kalo Anti, apa ya? Kayaknya dia yang suaranya paling jauh… sayup2 gimana gitu….
Ketika ditanya gimana perasaannya saat ini, jawabannya macam-macam.
Anti : terus terang tadi aku tuh suntuk banget. nggak tau mo ngapain. kangen….berat ma kalian. tapi skrg ga lagi, cz dah dengar suara kalian
Aku : tadi lagi sakit kepala, tapi mendengar suara kalian yang kayak kerumunan lebah tiba2 nggak pengen sakit kepala lagi. nggak sanggup kalo musti skait kepala ganda.
Iin : sekarang aku malah sakit kepala, cz lagi tidur siang dibangunin ma telponx fera, trus ngobrol ma kalian. huh. (berlagak nggak butuh)
Aku dan Anti : oohhh gitu ya? (nada sinis)
Fera : In, putusin aja telponnya, sudah get out aja.
Iin : bededeh. santai fren….
Fera : kalo saya lagi flu ini. mo bagi-bagi flu ma kalian. kita kan harus saling berbagi. mau toh?
Anti : nggak usah, Fer. untuk yang satu inii kami ikhlas ga di kasih
Iin : iya, flux bwt Fera aja
Aku : nggak semua hal bisa dibagi, say. kamu pake puas2 dah tuh flu.
Ada hal yang bikin kami semua “GUBRRAAKK”. Fera belum tahu kalo Anti dah berhenti kuliah di Biologi. ck..ck..ck… tuh Anak benar2 lugu ato gimana ya? padahal dari kemaren2 aku dan Anti udah ngasih isyarat bahkan udah pernah bilang. Fera heran, pasalx Anti nggak balik2 ke Makassar. Dikiranya si Anti lagi libur panjang…. emang sih… tapi panjang….banget.
Aku : ok, Fer, sepertinya Anti kesulitan untuk menjelaskannya pada dirimu mbak. so biar dakuw saja yang melakukan tugas diplomasi ini.
Anti : hu… gaya…
Fera : iya cepatan. Ntar ku gigit lo
Aku : Ok, mbak. dengar baik2 ya. karena aku nggak akan mengulanginya. Jadi harus pasang telinga lebar2. siap?
Fera : hm. apa? cepat mi!
Aku : Bismillahirrahmanirahim. I love you. ha..ha…ha…!
Anti : Gyaaaaa! Mega….!!!
Fera : woi serius donk. ntar kugigit beneran nih. menetes mi ini iler ku’
Aku : gini loh Fera. pertama: Anti nggak suka biologi. Kedua Anti pengen kabur dari biologi. ketiga Anti pengen kabur dari saya
Iin : ya. karena Mega suka boker-boker!
terdengar tawa dari mereka bertiga. aku pun complain.
haha…..ha… begitulah seterusnya. hingga akhirnya terjadi perdebatan singkat. Fera menyayangkan keputusan Anti. Katanya sayang… tinggal sedikit lagi. Wah..blom tau dia kalo Anti tuh yang sedikit bukan sisanya, tapi yang sudah diprogram. Fera menyarankan untuk meneruskan dulu kuliahnya Anti.
Aku yang dari awal udah tau wataknya Anti yang very-very keras - lo mo ngomong apa juga ga bakal mempan - mencoba menengahi. Aku mengibaratkan kuliahnya Anti di Biologi sebagai makanan yang membuatnya sakit perut. Apakah dia harus terus memakannya atau menghentikannya. Tanggapan forum berbeda2.
Anti : Me…. bagus banget pengibaratannya…
Fera : kalo menurut saya, kita mesti lihat manfaat dan mudharatnya.
Anti :Justru itu fer kenapa aku berhenti dari bio. cz aku ngarasa lebih besar mudharatnya bagi dirikuw.
Iin : kalo saya, pergi dulu boker, baru habis itu lanjut lagi makannya.
aku, anti dan fera : Hu… dari tadi boker aja yang di omongin….
Anti emang nggak berminat melanjutkan kuliahnya yang keteteran di Biologi. ia dari awal memang sudah gak suka. tapi nyadarnya telat. So ketika dia memutuskan untuk berhenti banyak yang terkejut. Emang susah menjalani sesuatu yang ga dicintai, meskipun ada yang bilang “jangan hanya mau melakukan apa yang kamu cintai, tapi cobalah mencintai apa yang kamu kerjakan”. Aku sih setuju banget dengan kalimat itu. Tapi ada sebahagian orang yang tidak dapat melakukannya. Dan mungkin itu termasuk Anti. Dia tidak mencintai biologi, dan tidak berusaha untuk mencintainya. Dia cinta menulis, kalo boleh kubilang (maaf ya anti) dia “gila menulis”. Siang malam dia menulis dan menulis. Dia sanggup begadang, cuman bwt nulis cerita. Salut deh bwt semangatnya. Coba aja kuliahnya juga kayak gitu. Yakin deh dia bakal jadi mahasiswa teladan.
Akhirnya, Fera pun berusaha untuk memahami keputusan Anti. Sedangkan Aku dan Iin yang memang sudah dari awal menerima keputusan Anti, adem-adem aja mendengar perdebatan kecil di antara mereka. itulah gunanya teman. Tugas kita adalah untuk menasehatinya dan memberikan semangat bukan untuk memaksakan kehendak kita. Karena belum tentu yang kita anggap baik, juga dirasa baik oleh sahabat kita. Kita bakal tunggu anti melanjutkan kuliahnya tahun depan di bidang yang diminatinya. Tulis-menulis. CAYO ANTI. GANBATTE KUDASAI! KAMI AKAN MENDUKUNGMU KAWAN!
Ada lagi nih, kami sempat tebak2an warna baju. Dimulai dari menebak warna baju Iin
Aku : Iin pake baju warna putih.
Fera : warna cokelat.
Anti : me’ kamu tadi nebaknya warna apa?
Aku : warna putih
Anti :In, warna apa bajumu?
Fera : ih curang, anti jawab dulu donk!
Aku : iya, Ti’. Tebak dulu warna bajunya Iin
Anti : kalo aku warna merah.
Iin : Jawabannya putih. Cz aku lagi pake bau dalam.
Aku : ya..ye..ye..ye… aku menang,..next. Tebak aku pake baju warna apa?
Anti : Aku…aku..Jawab dulu. Tadi sempat dengar Rara teriak. Bajunya Mega warna hijau.
Fera & IIN : curang….
Aku : iya.. Curang, masa’ Anti nguping?
Anti : eits.. Tunggu dulu. Itu membuktikan kalo pendengaranku masih bagus.. He…
Aku : ya udah warna bajuku dah ketebak, lanjut, bajunya Anti
Fera : warna biru
Iin : warna cokelat
Aku : mmm.. Apa ya? Kayaknya warna cokelat batik2 gitu.
Iin : ih..saya duluan yang tebak warna cokelat.
Aku : Nggak papa kali kalo sama
Ant : iya, nggak papa tawwa sama
Fera : Jawabannya?
Anti : Warna cokelat…
Fera : ya… salah lagi
Aku & Iin : he.. Fera sudah dua kali salah.
Terakhir nebak warna bajunya Fera
Iin : warna Pink
Anti : iya, pasti bajunya warna PINK
Aku : iya, eh nggak. Fera pake baju warna hijau.
Fera :hehehehe… aku nggak pake baju
GUBRAKKKK. Ternyata si Fera cuman lagi pake sarung. Ih… rantasa’na deh.
Anti : kalo gitu warna sarungnya, apa?
Fera : warna biru kotak2, he.. (sambil nyengir)
HUAHHAHAHA NGGAK ADA YANG BENAR.
Begitulah isi obrolan 4 cewek aneh yang nggak jelas visi misi hidupnya. Nggak ding. Meskipun kami semua rada2 gimana… gitu. Tapi kami semua punya cita-cita yang luhur. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kepada….”
Priiittttt!!!!! Udah..udah..nggak usah dilanjutin baca undang-undangnya. Ini kan hari kamis.
Ok back to us. Fera S.Ked., sekarang lagi sibuk Koas untuk meraih gelar Dokter. Masih ada setahun lebih baru selesai. sempat merid dan sempat punya anak. hoho! Iin si suster ngesot udah selesai kuliahnya. Dan sekarang lagi magang di RS Andi Djemma masamba. Dakuw , generasi Kartini yang udah S.Pd., ini akhirnya dapat kerja ngajar selama 3 bulan di SMA Makassar Raya sebagai guru Bahasa Inggris. Luar biasa. 4 tahun kuliah di matematika, eh selesainya malah ngajar Bahasa Inggris. Orang2 pada heran, but so what? Dari pada nganggur. Trus Anti, calon sarjana Bio yang memutuskan untuk mundur demi sebuah cita2 terpendam yang akhirnya ditemukannya kini bersemedi di Wotu demi kelancaran kariernya di masa mendatang. sebanarnya sahabat kami masih ada satu lagi, namanya Ika Rahayu. dia lulusan kebidanan, dan sekarang lagi di ternate, ikut suami. no hpx jg nggak aktif. kata Fera, kayaknya ika ada di pedalaman hutan ternate deh. he…he..he..
Kami semua punya cita2, semua punya cara yang berbeda untuk mewujudkannya. meski berbeda pandangan tapi kami berusaha untuk menerima perbedaan itu dan menghargai prinsip hidup masing-masing. karena tak seharusnya perbedaan menjadi jurang. bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi. nggak modal banget deh… nyontek lagunya melly goeslaw. misi mbak.. melly. whatever lah. pokoknya Jadilah yang terbaik siapapun kau adanya. aku jadi teringat pada puisi yang pernah kutempel di dinding kamarku dan Anti.
Luv U All my Best Friend Forever.

Midnight call

In the middle of one night at 12.00 o’clock, sarah couldn’t sleep. She couldn’t close her eyes, she didn’t know why she thought about her friend, lupita.
When her eyes were about to close, the thelepone rang. She got p of her bed and took the telephone.
Sarah : “who is this?”
Lupita : this is me, lupita.
Sarah : oh, lupita. Long time nit see, how are you?
Lupita : don’t worry i’am fine and i hope you are fine too.
Sarah : thanks. Btw, what is the matter. It’s not usual you phone me in the middle night.
Lupita : oh. I would like you to go to my house tomorrow morning.
Sarah : what for?
Lupita : you will know it tomorrow. Ok?! See you…
Sarah : see you
The following day, sarah keep her promise. She goes to lupita’s house. But she was so surprised when she looks a white flag in front of lupita’s house. When she was at the door, Lupita’s sister amberaces her.
Sarah : what s going on?
Lusita : Lupita died last night, she got heart attack. Hiks…
Sarah : how can? But she phone last night at 12.00 pm. And said that she was all right.
Lusita : it’s impossible , lupita died at 11.00 pm
Sarah : so, who called me last night?
But of them confused,
Sarah come back to her home. Until night, she still thinking about people who phoned her last night. Suddenly the telephone ring. She takes the telephone soon. She is very surprised when she listen the voice. She is lupita.
“good bye sarah, my friend. Do you want to follow me?”

kemarin aku di sms sama dewi yang bikin aku ketawa ini nih isi sms nya