Tampilkan postingan dengan label My lovely Kost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My lovely Kost. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Sendiri

Apa yang salah dengan sendiri? bukankah kita awalnya lahir sendiri dan mati pun akan sendiri?
Oho!, tentu tidak ada yang salah dengan sendiri. Hanya saja kata yang satu itu benar-benar bisa mengusik gundah dalam hati ku. Membuatku tak tenang dan gelisah. Yup I don't like being alone. Aku takut sendiri.

Sebelum aku bercerita lebih jauh ingin kusampaikan terlebih dahulu kehidupan baruku di rumah baruku. Bukan rumah baru dalam arti yang sebenarnnya tentunya, namun lebih tepat jika dikatakan tempat tinggal baru.
Saat ini aku dan rekan-rekanku di al insan tinggal di Jl. Prof. Abdurrahman Basalamah 2 No. 31 Makassar. Jalan yang dulunya bernama Racing Center ini kini menjadi saksi bisu atas jejak langkah yang kupijakkan setiap harinya. Jalanan-nya sejuk, rindang meski banyak juga kendaraan yang lalu lalang di atasnya.

Alhamdulillah, beribu syukur kupanjatkan kepada Allah atas segala resky yang diberikanNya kepada kami, kami boleh dibilang tinggal di ruko ini secara cuma-cuma. Kok bisa? ya bisalah, apa sih yang ga bisa kalau Allah berkehendak. Ceritanya gini, Bu khadijah (pemilik ruko) mengelola sebuah tahfidzul Qur'an  sabtu-ahad. Beliau terendala dari segi pengelolaan dan tenaga pengajar. Ia pun menawarkan kepada kami untuk tinggal di rumahnya sembari menjadi tenaga pengajar di Tahfidz beliau. Saat itu kami memang berencana untuk pindah dari hartako, dan bingung mau pindah kemana. Maka jadilah kami berempat (aku, Ela, Yusma dan k Nahda) pindah kemari.

Kami berempat hidup dengan damai, mesi pada awalnya suasana dan lingkungan yang masih baru membuat kami agak sulit beradaptasi. Mulai dari mencari jalur pt2 yang paling efisien, lokasi pasar yang tidak sebaik di hartako, jarak kampus dan tempat kerja yang semakin jauh membuat kami sempat sedikit tidak puas dengan keputusan kami. Belum lagi ketika pertama kali menghadapi anak-anak tahfidz yang beraneka ragam. Namun setelah hampir sebulan tinggal bersama sedikit-sedikit rasa itu semakin pupus. Kami mulai betah tinggal di sini dan menganggap ruko ini sebagai rumah kami, tempat kami melepaskan segala kepenatan yang kami rasakan di luar, tempat kami berbagi suka maupun duka, tempat mengekpresikan diri yang tidak sempat terekspresikan di luar sana. Keramahan Ibu Khadijah juga menjadikan kami nyaman tinggal di sini. meski lelah karena sering berjalan jauh, namun jika mengingat nikmat Allah atas tempat tinggal yang nyaman dan gratis ini kami lantas berucap syukur yang tiada henti. khusunya diriku.

Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Perlahan-lahan satu demi penghuni mulai jarang bermalam di rumah. Diawali dengan kak Nahdah yang berpikir untuk memaksimalkan tempat ini sebagai kantor. Ia meganggap jika ia tinggal di tempat ini maka ia hanya akan memberikan sisa-sisa waktunya saja, sehingga sulit untuk bisa mengembangkan tempat ini. Kakak yang satu ini memang suka berubah-ubah pikirannya, selalu meloncat-loncat dari satu hal ke hal lain, orangnya susah fokus, motonya: lebih baik tahu sedikit banyak hal dari pada tahu banyak sedikit hal. really not me. dengannya aku sering menemukan ketidak cocokan bahkan sering 'berantem'. Sikap ngototnya membuatku sering kesal.  tapi biar bagaimanapun dia masih punya segudang kebaikan yang nggak bisa disepelekan. love you sista, i'm sorry for everything. Akhirnya K Nahda resmi tidak menjadi penghuni ruko ini sejak bulan April, kini beliau tinggal di Antang, entah dengan siapa dan di mana tepatnya ia selalu merahasiakannya, kami adik2nya sulit mengerti tindakan yang ia lakukan namun kami tetap berusaha menerimanya.
Next
Setelah mulai bisa menerima 'hengkangnya' K Nahda dari kehidupan kami dan terbiasa menjalani hari-hari tanpa K Nahda di rumah ini, satu orang lagi mengambil langkah mundur bahkan tanpa membicarakannya lebih dulu dengan ku sebagai ketua pondokan mengenai rencananya. Ada sedikit rasa kecewa manakala kita merasa sangat bodoh karena tidak tahu apa-apa yang sedang terjadi. Seolah diri ini tidak berarti apa-apa bahkan untuk sekedar ukuran teman kost. Paling tidak ketika ingin pergi, kan bisa dia bilang "Kak mabit di rumahnya ka' sepupuku malam ini?" jadinya saya nggak perlu repot-repot menafsirkan kemana perginya dia? mau bilang apa saya sama Bu khadijah kalau ditanya.
Berbeda dengan kak Nahdah yang langsung mengatakan apa yang ada dihatinya atau yang dia lihat tanpa harus diminta tanggapan dan tanpa memperhatikan perasaan orang lain, Ela adalah tipe orang yang lebih sabar, lebih pendiam, lebih banyak nggak enaknya, dan tidak akan mengungkapkan perasaannnya kalau tidak ditanya. Ditanya pun belum tentu lengkap jawabanya, aku juga pernah menghadapi orang seperti ini sebelumnya. Aku mendapat Info dari Yusma yang juga serumahku, bahwa Ela selama satu atau dua bulan ini akan lebih banyak bermalam di Rumah sepupunya alasannya untuk menemani sepupunya ini karena pamannya sedang pergi KKN. 

Sebenarnya aku tidak akan pernah melarang, atau marah. Aku ini juga sangat pengertian meski kadang keras kepala. Aku sangat memahami mungkin ini yang terbaik untuk Ela, geraknya lebih leluasa karena ada motor di sana yang bisa ia gunakan untuk mengurusi skripsinya yang belum kelar juga. Hanya saja nggak ada salahnya kan kalau dikomunikasikan lebih awal biar kami juga nggak shock begini,  pembagian tugas rumah juga menjadi berantakan. 

Setelah seminggu menghabiskan waktu berdua dengan Yusma, aku mulai berusaha menerima apa yang terjadi pada kami. Toh, Ela masih datang bermalam minggu untuk mengurusi Tahfidz. lumayanlah.
Hari ini tibalah saat yang aku cemaskan itu, saat-saat dimana semua orang menginggalkan aku. Tadi sore, Yusma menelponku dengan suara yang takut-takut penuh harap juga. "Kak, Afwan mo ka pulkam ini. libburka selasa rabu. Kamis balik ma kemakassar"

Keget? Tentu saja, Tapi, aku mo bilang apa? apa iya aku ngelarang dia buat pulkam? nggak mungkin kan... Aku mencoba untuk tegar merelakan 'ke-pul-kam-an' Yusma. Setidaknya Yusma sudah beritikad baik dengan menginfokan terlebih dahulu kepadaku, anak yang satu ini meski cukup rumit tapi kutahu dia sangat pengertian agak mirip dengan kareter ku, mungkin karena golongan darah kami sama. Nggak seperti dua orang sebelumnya yang nanti di tanya baru mengatakan keadaan yang sebenarnya.  yang satu  karena emang cuek, yang satu karena merasa nggak enak. 

Aku pasrah saja, mau bagaimana lagi. Kalo memang harus sendiri ya sendiri. Pasti ini yang terbaik menurut Allah. InsyaAllah. Mungkin ini juga merupakan kesempatan bagiku untuk introspeksi diri. Bertanya pada diriku sendiri mengapa orang-orang begitu mudah pergi meninggalkanku. Mungkin ada banyak sifat dan sikap ku yang membuat mereka tidak tahan hidup bersamaku. :(  

Sedih...jika mengingat keadaanku saat ini. Aku juga ingin pulkam, bertemu dengan Mama, Ayu, Ilham, om, Tante, sepupu-sepupu. Pengen makan langsat yang kata Ilham lagi banyak banget. Tapi segala urusan di sini memaksaku untuk tetap tinggal. Kadang aku ingin melepas semuanya dan membiarkan diri ini bebassssssssss tapi apakah aku akan bisa bahagi setelah semuanya hilang? TIDAK, mungkin saat ini aku sedih, tapi masih banyak kebahagiaan2 lain yang tetap bisa kurasakan ditengah-tengah aktifitas ku. Masih ada manis yang bisa kuteguk di antara sekian banyak pahit.. Setidaknya aku masih bisa tersenyum setiap kali  tangis  ku reda. Aku masih bertahan. bersabarlah Ega.... tinggal sedikit lagi.  Besar harapanku semoga rasa sedih yang kurasakan karena kesendirian ini akan digantikan Allah dengan kebahagiaan yang lain. Amiiin. 

NB" belum selesai saya menulis note ini, mamanya Hilda yang tinggal di lantai 1 membawakan saya sayur sop dan Opor Ayam. wah.... Alhamdulillah... :)



Rabu, 02 November 2011

Selamat Jalan Pore

Akhirnya, setelah genap seminggu sakit, Pore pun menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pikir dia bakal sembuh, soalnya kemarin dan tadi malam dia udah bisa makan dan ngejilat-jilat tubuhnya. Tadi pagi pun aku masih ngeliat dia di pintu kamar.
Hari ini aku seharian ful di rumah, Internetan sepuasnya mumpung masih ada bonus, dan emang nggak ada schedule di luar. So asyik browsing, danmendandani blog. Menjelang shalat Ashar, waktu mo pergi ambil wudhu, tiba-tiba aku teringat Pore, si kucing yang udah seminggu sakit. Aku nggak melihat dia dari tadi. Habis wudhu, barulah aku nyariin Pore. Dimana-mana kucari ngga ketemu. Akhirnya kunyalakan lampu kamar agar bisa leih leluasa melihat. Alangkah terkejutnya aku ketika kutemukan Pore di sudut kamar sudah tergeletak kaku tak bergerak dengan mata dan mulut yang terbuka.
"innalillah...Pore dah meninggal" tak dapat kupungkiri, aku sedih atas kematiannya. Ternyata cuma sampai hari ini aja batas hidup Pore. Dan tadi malam waktu dia masuk ke kelambu dan tidur di kasurku, itu adalah salam perpisahan terakhirnya.
Hiks.... nggak ada lagi kucing cantik yang menjadi kebanggan kami. Kucing yang paling rajin mandi, kucing yang paling keras ngeongannya. yang menjadi saingan Poro kalo mo makan.
Sekarang Anak kucing Jamesha tinggal 2, rasanya nggak complete, karena aku menjumpai mereka saat masih bertiga. dan bagiku mereka adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.
Padahal Firah udah berusaha agar Pore sembuh, termasuk mengancam Pore, "Pore, kamu harus sembuh yah sebelum saya pulkam, kalo tidak nanti saya taruh di luar loh..."
Mungkin Pore ngerasa nggak kuat dan akhirnya memilih mati. hiks...
Selamat Jalan Pore. ..

Sampai saat aku nulis blog ini, Firah belum tahu kalo kucing cantiknya mati. Aku sendiri nggak berani mengangkat mayatnya. What should I do?

Selasa, 25 Oktober 2011

Kost Baru dan Kucing-kucing

Rabu 23 Agustus 2011 aku resmi meniggalkan kost Flora. Berat…. sungguh berat rasanya kaki ini melangkah meniggalkan my lovely kost. Rumah kedua ku setelah rumah yang ada di Masamba. 5 tahun bukan waktu yang singkat hingga mampu membuatku meninggalkannya. Kutatap kost ku itu dengan perasaan gamang, sambil menutup pagar depan berulang kali ku katakana “angiong Flora… sayonara…” dua kata dua bahasa yang artinya sama-sama selamat tinggal.di boncengan motor Rara, air mataku pun tumpah…. hiks sedih banget 
Tiba di kost baru, aku disambut dengan bau yang semerbak. Benar-benar menyengat. Bukan bau yang sedap, tapi bau kotoran kucing. HOEK!!! itulah kesan pertama ku di kost baru. Membersihkan tahi kucing yang ada di dekat tempat cuci piring. Karena itu aku bertekad untuk tidak membaik-baiki kucing-kucing yang ada di rumah ini. Mereka adalah kucing-kucing peliharaan teman kost ku yang baru. Sempat ada niat gini, "aku bakalan ngebaik-baikin tuh anak kucing di depan tuannya, tapi kalo tuannya ga ada aku bakalan taro mereka di luar" ***bergumam dengan tatapan sinis dan kepala yang meliuk-liuk ala pemeran antagonis di sinetron2 Indonesia
Anti sempat bilang, " tapi kan mereka lucu me..."
Aku jawab, "tapi kan tainya ga lucu  ti..."
Tapi... tapi .... itu dulu, semua rencana  jahat ku hanya ada di angan-angan. Beberapa hari tinggal di kost baru bersama Firah, Ferda dan Nisa aku mulai menyukai kucing-kucing tersebut. Apalagi dengan keberadaan Fira aku nggak bisa leluasa melakukan aksi gila ku. Bukan.. bukan karena takut sama firah, tapi karena Firah rajin ngurusin kucingnya, so aku nggak perlu direpotkan dengan urusan kotoran kucing lagi. 
Kini, hampir 2 bulan tinggal di sini aku malah jadi sayang sama kucing-kucing itu. Sering ngajakin mereka main, ngelus-ngelus bulunya, ngasih mereka makan, menatap mereka dengan tatapan kasih sayang ***kurker banget yak.
Kucing-kucing itu bernama Jamesha, Pora, Pore, dan Poro. berikut Deskripsi dari keempat kucing tersebut.
1. Jamesha, Ibu kucing yang baik hati. Sering membawakan makanan kepada anak-anaknya. Saking baiknya, dia rela mencuri demi ketiga anak-anak nya. Dia rela diusik tidurnya oleh ketiga anaknya yang ingin menyusu. Dia suka sekali menggoyang-goyangkan ekornya untuk meggoda anak-anaknya. Dia rela nggak makan demi anak-anaknya. kalo anak-anaknya lagi menyusu, dia bakalan menjilati satu persatu anaknya  dengan tujuan memandikan tentunya. Tapi akhir-akhir ini Jamesha mulai galak, mungkin karena dia hamil lagi. oh NO! 


2. PORA
 2. Pora, Kucing hitam putih. Anak pertama dari tiga kembaran. Kucing ini paling sering mengalami peristiwa tragis bahkan sejak pertama dilahirkannya. Waktu itu Jamesha sudah waktunya melahirkan, tapi dengan santainya dia jalan-jalan di dalam rumah, sementara Pora sudah bergelantungan di lubang kelahirannya. terpaksa Nisa membantu menariknya keluar. Pernah jatuh dari loteng ketika jamesha menggendongnya, pernah juga jatuh dari lemari. Sifat: paling akrab dengan manusia, paling kecil suaranya, suka makan jagung, kacang panjang  dan wajik khas mandar, plus kerupuk. 

3. Pore. Kucing belang, warisan dari Jamesha. Paling dekat dengan ibunya, paling cantik dan pemberani. selain itu kucing ini juga paling manja. Pore juga paling kerang ngeongannya, dan paling kuat firasatnya. Pernah suatu kali, pore uring-uringangan. Bawaannya lesu melulu, tampangnya sedih, kami semua khawatir melihat sikapnya saat itu. ternyata malamnya dia menjadi pembahasan dalam rapat pondokan. Anak-anak tetangga sebelah berniat untuk membuangnya. kasian Pore. Kucing yang satu ini juga punya kebiasaan yang baik, dia rajin banget mandi dan memandikan saudaranya dengan lidahnya. tidak heran jika di antara ketiga kembarannya dialah yang paling bersih.

 4. Poro. Si bungsu yang sok jago. Tapi sebenarnya dia yang paling penakut. Begitu ada ancaman, dia langsung lari ke bawah lemari. kucing yang paling agresif saat makan atau saat Jamesha membawakan makanan. Kalo aku perhatikan nih, ya ..  Poro itu adalah kucing yang paling bandel,  suka ngegangguin saudara-saudaranya yang lagi tidur. Emang sih awalnya cuma mengelus-ngelus, tapi kemudian dia tidak tahan untuk tidak menggigit telinga Pore maupun Pora. dia juga beberapa kali kepergok mencuri ikan, ***gini nih kalo kebiasaan di kasih makanan hasil curian. nah... kucing ini paling dekat dengan tikar. dia juga yang paling nyebelin. Tadi malam aja sarung ku dikencingi olehnya. PORO....!!!!!! awas kamu yah.. hehehe
 

Kami paling repot pada saat menjelang makan, kucing -kucing ini akan segera berlari ke dapur dan mengeong-ngeong di kaki kami dengan suara yang super nyaring (kecuali pora).Supaya kami bisa makan dengan tenang, kucing-kucing ini kami simpan di luar rumah dulu. kadang dengan makanannya, kadang juga tidak. Ferda tuh yang paling sering ngebooingin  kucing. Biasa juga, kami berlari ke kamar, menghindari kejaran kucing-kucing yang agresif itu dan menguncikannya. pokoknya di kost ini butuh perjuangan untuk makan.
Saat malam datang, nyamuk-nyamuk pun mulai beraksi. Berhubung aku orangnya paling anti sama anti nyamuk, maka kami memasang kelambu di ruang tamu untuk menghindari serbuan nyamuk. emang sih... serbuan nyamuk bisa dihindari, tapi serbuan lain datang kemudian. Ketika Kelambu mulai terpasang, trio kucing ini pada tawaf di sekitar kelambu. Tahu tawaf khan... itu loh prosesi mutar-mutar di sekitar ka'bah kalo orang naik haji. Kucing-kucing ini tawafnya di sekitar kelambu. kalo tawaf biasa sih nggak masalah. tapi yang jadi masalah mereka tawaf sambil menyerang kelambu. melompat-lompat dan bergelantungan di kelambu. Duh.... kucing.... kalian kenapa sih...?
Meskipun begitu, kami tetap sayang pada mereka. Aku paling suka ngeliatin mereka yang lagi tidur dengan pulas sambil berpelukan satu sama lain. Kucing aja bisa saling menyayangi, so kenapa kita (manusia) tidak?




Rabu, 19 Oktober 2011

Cowok-Cowok Penggemar FTV

            Kali ini saya mau bercerita tentang tetangga-tetangga baru saya. ups, salah, yang benar sayalah yang jadi tetangga baru mereka. Mereka memang anak-anak cowok, tapi selera mereka nggak beda-beda amat dengan selera remaja cewek. Like the title above, mereka rajin banget nonton FTV siang bareng-bareng. Entah apa yang ada di benak para pria itu ketika menyaksikan tontonan tersebut.

           Saya diam-diam memperhatikan kebiasaan mereka ini. Asal tahu saja, rumah saya dan rumah mereka hanya dibatasi oleh dinding seng, so apapun yang mereka omongin ataupun lakukan bisa terdengar jelas dari kamar kami. Saya ikut tertawa, manakala mendengar tawa mereka saat menonton FTV.

          Seperti Siang ini, lagi-lagi mereka -yang umurnya kutaksir sekitar 19-20 an - pada ngumpul rame-rame buat nonton FTV. kali Ini ceritanya tentang cowok tampan yang jadi pengantar bunga. Ketika dia sedang menjalankan tugasnya tersebut, ada pria lain yang sangat percaya pada mimpi. Dia baru saja bermmimpi bahwa ada seseorang yang memberinya bunga. dan dalam mimpi itu dikatakan bahwa orang yang memberinya bunga adalah jodohnya. nah...bertemulah 'sang pemimpi' tadi dengan cowok pengantar bunga, lalu 'sang pemimpi' berkata, "saya adalah orang yang sangat percaya pada mimpi, dan saya yakin kalau anda ini adalah jodoh saya"
           Kontan aja cowok2 tetangga kost saya pada tertawa. Mungkin mereka ngeri jika mereka mengalami hal yang sama. Kemudian mereka kembali heboh pada bagian berikut:

Cewek yang jadi pemeran utama akhirnya bertemu dengan cowok pengantar bunga,
"kamu percaya nggak, kalo ada orang bisa langsung suka pada pandangan pertama?" ciri-ciri mau menyatakan cinta tuh...

            Kali ini mereka bahkan bersorak, dan berhu....hu... ria. Saya yakin, itu adalah kalimat  yang tidak asing bagi mereka. Soalnya kemarin malam waktu Firah lagi begadang, dia sempat dengar tetangga kamar kami baik yang di sebelah kiri maupun kanan pada asyik ngegombal cewek-cewek di telepon menjelang jam 12-san. hemmm gini nih kerjaan anak muda sekarang, saya jadi iba sama cewek-cewek yang jadi korban keisengan mereka.

            Ketika melihat pemeran FTV yang ganteng, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "orang itu mirip saya kan?"
***hahaha kepedean. Temannya pun menjawab, "iya mirip, pantat dia mirip muka mu?" majelis nonton itu pun kembali berguncang oleh tawa mereka.

            Ada lagi kebiasaan mereka yang unik, mereka suka banget nonton infotainment. Setahu saya, yang suka nonton acara gosip begitu tuh cuma perempuan, ternyata pengetahuan saya salah. Wah.... tetanggaku emang unik.

Minggu, 25 September 2011

Ini Bukan Akhir cerita kost Flora


Cerita ini masih seputar kost Flora. Kost yang dihuni cewek baik-baik (ga makan kompor, maupun sabun). Agustus 2011, akhir periode kost-kosan. Pilihanx Cuma 2, menikah atau putuskan!  ups, salah! yang bener tuh, melanjutkan kontrakan, or move alias pindah.
Beberapa penghuni memutuskan untuk lanjut, ini berlaku bagi mahasiswa semester awal yang udah kesengsem sama kost flora dan malas nyari yang lebih bagus dan lebih murah. Yang lebih mahal banyak, tapi fasilitas ga sebanding dengan kost Flora ini. Yang lebih murah, apalagi. Pokoknya susah banget deh, di jaman kayak gini mo nyari kosan dengan fasilitas mendukung, dan kondisi lingkungan yang kondusif kayak gini. *waduh, dibayar berapa nih sama bu Hilda? Bukan…sungguh ga ada niat buat promo, aq cuman mau ngungkapin fakta bukan janji.
However, ada juga yang  memutuskan buat hengkang.  Yah….keputusan yang diambil dengan sangat berat hati. Pasalnya kenaikan kali ini udah diluar kemampuan kantong mereka. Lagi pula pertimbangan kuliah yang tinggal beberapa bulan. Dan mungkin udah kenyang asam garam tinggal di Flora. Siapa saja sih yang bakal pindah? Lets check it out.
TADAAA!!!!!
Para penghuni yang bakal pindah adalah flora lovers,  Rara, Upe, dan Aku.
Hmmm…. Benar-benar ga nyangka semua bakal berakkhir seperti ini. Emang sih sudah sunnatullah kalo ga aka nada yang abadi di dunia ini, termasuk kebersamaan kami. Tapi tetap aja, yang namanya perpisahan itu selalu ninggalin rasa sesak di dada, dan diiringi dengan kekosongan or kehampaan.  Selalu saja ada rasa  tak siap menerima kenyataan ini. Kami yang udah  4 tahun sama-sama bahkan ada juga yang ampe 5 tahun, mesti berpisah di tahun ini.
Ga papalah…. Ga ada yang perlu disesali, dan aku juga ga pernah menyesal. kenapa harus mesnyesal jika  hari-hari yang kami lalui bersama adalah hari-hari yang penuh makna, penuh warna kayak pelangi. Kami udah mengisinya dengan sebaik-baiknya. Kami punya banyak kenangan yang bisa kami ingat kembali saat kami sudah tidak tinggal satu atap. Kami bisa membuka kembali catatan-catatan harian kami, atau koleksi foto dan video konyol kami. Aku ngerasa ga ada yang perlu di sesali.  Justru sebaliknya, aku bersyukur banget bisa dikasih kesempatan buat tinggal di kost Flora, bisa ketemu dengan anak-anak flora, bisa berteman, bersahabat, berbagi cerita dan berbagi makanan. Hehehe.
Anak-anak kost flora yang menyenangkan, meski kadang ada juga saatsaat yang menyebalkan, tapi berujung pada kelucuan.
Adek Uppa pernah bilang, “banyak sekali kesan yang ku dapat selama tinggal di kost Flora, ada suka dan duka. Tapi kalo diitung-itung sih lebih banyak sukax” katanya sambil tertawa renyah. *biskut kali?!
Yup! Benar banget, tinggal di kost Flora emang merupakan pengalaman yang menyenangkan. Aku yang kalo di rumah jarang banget ngomong, karena jarak usia ku dengan adik-adikku pada jauhan, jadi cerewet banget pas tinggal di kost ini, soalnya aku dapat teman yang bisa di ajak share apa aja. Baik itu kakak-kakak, teman seangkatan maupun adik-adik. Jarang banget aku ngerasaain beban berat selama tinggal di kost ini. Selalu aja ada orang yang bisa menghibur, baik langsung maupun ga langsung. Saling menghibur, saling support, saling sayang-menyayangi, tenggang rasa, tepa salira, patriotism serta cinta tanah air. * tunggu..tunggu… kok jadi belajar pkn sih?
Singkatnya, Aku menemukan suadara-saudara baru di sini. Cinggu…… uhibbukifillah….(aku mencintai kalian karena Allah). Allah yang udah mempertemukan kita, dan menjalin tali ukhuwah di antara kita, mempertautkan hati-hati kita. Kita bertemu atas izin Allah, so jangan pernah sesali pertemuan dan jangan tangisi perpisahan. Ok?! (tapi kok yang nulis justru mewek?)
Aku bukan menangisi ataupun menyesali perpisahan ini. Aku hanya merasa sedih, karena merasa kehilangan. Bukankah kita hanya akan merasa kehinlangan jika yang hilang itu adalah sesuatu yang kita anggap berharga? Artinya kalian benar-benar berharga buatku. Ck..ck.ck.. Bisa-bisa nya yah..
Nggak kebayang gimana tampang kosan ini sepeninggal kami. Apa masih bakal rame juga? Apa bakal seseru waktu kami masih di sini? Atau malah makin sepi? Yah kita liat aja nanti, dan kita berikan tugas mulia untuk mengamati ini kepada adik Uppa. Omedetto (selamat ya…)
Oh iya, di antara Flora Lovers (mo di singkat flores, tapi pasti pada ga setuju) masih ada satu orang yang bakal meneruskan perjuangan kami. Dialah Achnida Zulfaidah  alias Uppa. Dia pasti bakal kesepian banget sepeninggal kami. Kachian deh adek Uppa.



Upe
2007
Pindah ke rumah kakakx di Gowa.
Uppa
2007
Menetap di Flora. Sementara menggarap proposal.
Rara
2006
Pindah ke rumah kemenakannya di jalan veteran. Kuliahx dah kelar tinggal seminar dan ujian meja.
Anti
2006
Udah pulkam tahun lalu dan sekarang ada di Cirebon, jadi hantu, ups ghost writer dan kursus menjahit.
Dedew
2006
Udah pindah sejak tahun lalu, masih di kompleks yang sama dengan kost Flora.
Nunu
2006
Jurusan fisika yang lulus bersamaan dengan ku.  Sekarang justru  jadi pegawai BRI.
Yuyu
2006
Jurusan Biologi,  lanjut S1 kedua, dan tinggal di kost lain
K Uni
2005
, pulkam ke Sulbar dan jadi guru, bentar lagi merid
K Alya
2002
Pindah ke jalan sunu, tapi lebih sering tinggal di secretariat lembaga muslimah. Sekarang juga jadi guru.
K iya’
2002
Udah merid dan punya anak, bakal berdomisili di Takalar.
K Wati
2005
Udah jadi PNS di Luwu Timur di salah satu SMK
Leli
2007
Pindah ke Abdesir, bareng 3 orang adiknya, lagi sibuk kerja di salah satu LBB dan cuti kuliah 1 semeter. Tinggal penelitian dan seminar hasil serta ujian meja.

Aku sendiri, bakalan pindah di salah satu rumah kontrakan di jalan malengkeri. Untuk sementara tinggal sama teman dulu selama 5 bulan. Berhubung rumah yang kuincar masih ada penghuninya.
Anak-anak flora…. Meskipun akhirnya kita ga tinggal sama-sama lagi, ku harap persaudaraan kita ga akan berakhir juga. Kita tetap bisa menjalin ukhuwah. Kalau kalian rindu telpon aja aku. Hehehe…
Kita masih bisa ngumpul-ngumpul bareng sekali-kali di Flora. Kan masih ada Uppa. Ok?!
Angiong cingu.
,
.
.



Jumat, 24 Desember 2010

Malam tanpa bintang tanpa kalian

Malam ini langit mendung. Di luar ga ada bintang maupun bulan.
Hanya cahaya kilat yang sesekali berpendar. Membuat suasana semakin melankolis.
Ku pandangi langit. Di sana terlihat cahaya merah dan kuning berkelap-kelip. Itu adalah pesawat yang sering kami pandangi bersama selepas shalat magrib.
Rindu..rindu…. Banget ma anak2 flora. Sama anti, dedew, nunu, leli, rara, upe, uppa. Dulu aku tak pernah sendiri memandangi langit malam. Selalu ada paling sedikit satu diantara mereka yang menemaniku. Tapi malam ini. Aku sendiri…..
Aku benar2 merasa kesepian di kost flora sekarang. Meski jumlah kami semakin banyak tapi keceriaan itu seolah berkurang. Berbanding terbalik dengan jumlah personil. Mungkin karena jarak usia yang terpaut jauh. (4 tahun aja kok). Kami belum bisa menemukan chemistry itu.
Malam ini langit tanpa bintang, tanpa kalian…rinduku semakin membuncah.

Rabu, 20 Oktober 2010

Hujan turun Lagi

MasyaAllah… di luar hujan turun dengan lebatnya. seperti air yang ditumpahkan dari langit. hm…. rasanya ingin terjun lagi. mandi-mandi hujan kayak dulu, bareng anak2 flora. Aku, Anti, Dewi, Rara, dan Upe’ plus Uppa. meskipun uppa Cuma jadi penonton. he..he..he,,
tapi sekarang, aku hanya bisa memandang jatuhnya air hujan di depan kamar. kangen…. berat ma anak-anak flora yang dulu. yang gokil, ceria, kompak, dan selalu happy. kapan ya… bisa main hujan-hujanan bareng lagi? Flora sekarang udah ga kayak dulu. anak2 pada nongkrong di kamar masing-masing, nggak mau gabung or ngumpul2 kayak dulu. Flora yang dulunya rame dan asyik, berubah jadi sepi…banget. hiks. kenapa sih harus berubah kayak gini. aku pengen anak2 flora yang dulu. yang sering ngumpul di teras. menikmati pagi, sore, or malam yang bertabur bintang maupun nggak. buka puasa berang, nonton film korea bareng, belajar dandan, makan-makan bareng, sampe foto-foto narsis.
ya sudahlah. mungkin ini emang akhir dari perjalanan Flora yang Gokil. kini Flora menjadi lebih religious, satu hal yang patut ku syukuri, hanya saja menurut ku kereligiusan itu nggak harus menjadikan kita tak saling berbagi kebahagiaan bukan? nggak membatasi kita untuk saling sharing, or ngumpul2. pokoknya aku kangen ma Flora yang dulu. karena aku ngerasa, rasa kekeluargaannya lebih kental. di flora yang dulu kita udah kayak sodara. di flora yang dulu aku nggak pernah merasa benar2 sendiri.
salam rinduku bwt anak2, flora.

Senin, 30 Agustus 2010

Keracunan Keong

Dedew baru aja pindah dari kost Flora. yah... berkurang lagi deh personil flora ceria.
Dedew pindah di kost yang dijuluki kost 'gudang'. Yah... mungkin karena kosannya nampung orang2 bekas kayak dedew (bekas Flora) he..he..he *dipelototin mata kucingnya dedew yang siap nelan aku. ampun dew, jangan makan aku.
Kondisi kost ini sangat bertolak belakang dengan kost Flora. misalnya nih ya, Kalo kost Flora cuma di huni oleh para cewek2 sok imut, nah di 'gudang' personilnya nambah cowok2 yang ga ku kenal. ya iyalah..
ada lagi nih, di Flora ada peraturan nggak boleh muter musik keras2, karena kami bersepakat bahwa nggak semua yang kita sukai juga disukai oleh orang lain, seperti suara musik termasuk aku.
2 hal ini yanglah yang menjadi bumerang bwt dewi di kost barux.
alkisah, kamar dewi tepat bersebelahan dengan kamar seorang cowok yang terkesan pendiam dan angkuh. bweh bahasanya... malam pertama dewi nggak bisa tidur. gimana bisa tidur kalo tetangga kamarnya muter musik keras-keras pake salon (speaker besar itu loh, bukan tempat potong rambut) pula. ck..ck..ck.. serasa rumah sendiri aja. belum lagi lagu yang diputar (keong racun dan cinta satu malam). itu terus yang diulang2. Dedew benar2 tersiksa. Pasalnya suaranya keras banget, tepat di kepala dedew. berkali2 dedew mencoba memberi teguran dengan cara mengetuk dinding pembatas yang terbuat dari tripleks. tapi yang ditegur tetap nggak ngeh juga. gimana mo dengar, kalo suara musiknya ngalahin suara ketukan.
Akhirnya dedew mencoba pasrah. perlahan-lahan rasa pusing mulai menjalar dikepalanya, "duh mual, Hoek!" dedew mo muntah.
"TIDAK!!!!! AKU KERACUNAN KEONG BERACUN, HIKS..HIKS..HIKS..." tangis sesal Dedew pengen balik ke Flora.

Minggu, 29 Agustus 2010

Tangisan si Rara

Kisah ini terjadi pada hari ahad tanggal 29 agustus 2010. Aku ngasih liat rara film tentang anak-anak kost flora yang kubuat di picasa movie maker. Film itu berisi kumpulan foto-foto anak2 flora sejak tahun 2008 ampe 2010. Kebersamaan yang dilewatibersama, makan bareng, nobar, kerja bakti, dandan asal-asalan, dan beragam aktivitas narsis lainnya. Waktu liat video itu rara ketawa-ketawa terus.
Tapi hal berbeda terjadi ketika ku perluhatkan film foto-foto ku ma Anti, dengan soundtrack lagunya Mytha “tentang mimpiku”. Baru di awal-awal dia udah bilang, “kayak sedih?”
Aku hanya mengangguk.aku terus aja ngoceh, menceritakan ini dan itu, kepada rara yang baring di ranjang di belakangku. Sayup-sayup kudengar isak tangis di balik punggungku.
“hiks..hiks,,”
Aku menoleh, “Rara?! Kamu nangis? Ya ampun, Ra’. Cup..cup…”
Tangisnya semakin menjadi-jadi dengan raungan yang memekakkan telinga, *nggak ding!
“Aku keingat Anti, hiks”
Aku nggak pernah nyangka reaksi Rara bakal kayak gitu banget. Cz aku aja nggak nangis ngeliatnya. (nangisx udah waktu tgl 4 agustus). Aku jadi pengen nagis ngeliat rara. Ternyata rara mendadak ingat Anti pas ngeliat foto-foto itu. Bukan maen, matax bengkak loh…
Aku nggak tahu apa maksud tangisan rara, dia kangen atau kasian ma Anti. “Wusshhh.. “ dilempar uang ma Anti. He..he.. he.. ngarep.
Anti, ternyata bukan Cuma aku aja yang merasa kehilangan mu. Semoga kau tenang di sana.
(“apaan seeh?”)

Rabu, 25 Agustus 2010

Kamar 3, kamar ceria, kamar kenangan


Kamar 3. salah satu kamar yang ada di kost Flora. Kost yang di huni oleh para cewek ajaib, aku termasuk salah satu di dalamnya. macam-macam karakter ada di sana. mulai dari yang kalem ampe yang ancur. he..he..he.. tapi nggak ampe hancur kayak WTC kok.

Kamar 3. Kamar yang kutempati bersamanya selama 4 tahun. banyak kisah dan kenangan yang kami ukir di dalamnya. ada tawa, canda, aksi gokill, cerita, kreatifitas, sedih, tangis dll, dsb yang pernah terjadi di sini. di kamar ini aku mencurahkan semua unek-unek ku . tangisku, karya ku, masakanku. Di kamar ini aku bebas mengeskpresikan diriku sekali lagi bersamanya.

Kamar 3. Kamar yang di depan pintunya tertulis kamar "Mega & Anti". Hampir di setiap sudutnya ada kenangan tantang kami berdua. kamar yang dijuluki kamar paling rame di kost flora karena keceriaan para penghuninya. Me n Anti. Kamar kreatif, kamar ceria, kamar rame, kamar ekspresi. kamar 3. kamar yang kucinta. kamar yang paling berkesan dalam hidupku. Di kamar ini aku bisa curhat dengan manusia. Bukan lagi dengan buku, atau cermin (kebiasaan waktu di rumah).

Meski sekarang Anti tak bersamaku lagi, tapi setiap kali ada di kamar ini, aku selalu teringat Anti. Setiap jengkalnya menyimpan kenangan tantangnya. Liat pintu, ingat anti, liat lemari ingat anti, liat ranjang ingat anti, dapur, lantai, kamar mandi, semuanya ingat Anti. pada setiap tempat itu aku dan anti pernah melakukan hal bersama. misal: nyuci bareng di kamar mandi, bersihin kamar mandi, antri mandi, terus nemuin si kecil yang bikin menjerit di kamar mandi. euww.. di dapur, masak bareng, dinyalain korek gas sama anti abis aku nggak kuar buat nekan gasnya, dibikinin nasi goreng, nyanyi-nyanyi pake mike sodetan dan sendok sayur. trus di ranjang kami masing-masing, ngobrol ngalor ngidul, mulai dari politik, warga flora yang biasa melanggar peraturan, masalah kuliah, film, dll. lantai,tampat nonton bareng, Senam bareng, bikin vidio aneh, ngepel bareng. di pintu, nempelin kertas kado, dan hiasan yang bertuliskan nama kami berdua. di dinding kamar kami menempelkan berbagai hasil kreatifitas kami.

hhhuhhh, berat rasanya untuk meniggalkan kamar ini. rasanya aku udah menyatu dengannya. Aku nggak sanggup ninggalin kamar kost ku ini. Tapi masalahnya aku musti pindah ke kamar 5. tinggal bersama Rara di sana. aku udah ngusulin supaya rara aja yang pindah ke kamar 3. tapi rara nggak mau dengan alasan kamar ku panas kalo siang. tapi kamar mandinya rara gelap. nggak ada lampunya. aku kan takut gelap. "kan tinggal di pasangin lampu" tukas rara.

ya sudahlah... kayaknya aku yang harus ngalah. lagian mungkin ini yang terbaik. Mungkin masa aktif ku di kamar 3 udah abis karena rekanku dah nggak ada. Aku cuma berharap mudah-mudahan penghuni selanjutnya akan merawat kamar ini dengan penuh kasih sayang. halah...lebay...

Slamat tinggal kamar 3 ......kamar ceria... kamar kenangan

Minggu, 01 Agustus 2010

Kok Gitu Sih?

“anj***, BRENGSEK!!!”
Astagfirullah. Pagi-pagi kuping ku sudah dibuat panas mendengar ucapan yang bagiku sangat kasar. Apalagi diucapkan oleh seorang cewek, muslimah lagi. Salah seorang penghuni Kost Flora yang belum lama tinggal di kost kami terus-terusan mengomel sendiri di kamarx. Aku yang lagi menjemur pakain di hari minggu yang cerah ini, mau nggak mau harus mendengar ucapan kasar tersebut. Berkali-kali aku beristigfar karena berkali-kali pula ia melontarkan ucapan yang nggak enak di dengar.
Sebut saja R. Dia sedang sibuk menelpon ke sebuah no Hp, tapi tak ada Jawaban. Sementara, ia ingin segera mendapatkan kejelasan itulah yang membuatnya kesal..tapi apakah harus sampai mengeluarkan kata-kata kasar.
“ini orang tuli kah? Hp kok nggak di angkat-angkat! Dasar Anj***, tai kucing!”
Astagfirullah.
Semua kata-kata kasar terlontar dengan sangat mulus dari bibir anak itu. Entah siapa yang diteleponnya. Tapi beberapa menit kemudian terajawablah rasa penasaranku. Dan kenyataan ini membuatku geleng-geleng kepala sambil berdecak (emangx cicak?) Miris..
“Halo, Ma. Jadi pindah nggak sih?! Kalo nggak jadi aku mo belajar kelompok bareng kelompok”
Entah apa yang diucapkan mamax diseberang sana.
“Makanya cepetan! Dari tadi di telpon nggak diangkat-angkat! Cepat sudah..!”
Mungkin mamanya menjawab tadi ketiduran, soalnya R ngomongnnya gini, “Tidur terus, udah jam berapa ini?”
Astagfirullahaladzim.
Salah satu hal yang tidak aku sukai dan paling tidak aku suka adalah mendengar orang berkata kasar. Aku yang mendengarnya merasa seolah aku yang dikata-katai. Mungkin ini sebabnya aku nggak suka nonton sinetron, banyak sumpah serapahnya sih… Apalagi dibulan yang suci ini, bulan dimana seharusnya kita belajar untuk menahan hawa nafsu, bukan hanya makan dan minum, tetapi perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Katakan yang baik atau diam.
Semoga kita tidak seperti R. Berbicara dengan orang tua sendiri terlebih lagi seorang ibu, seharusnya dengan perkataan yang lemah lembut, bukan dengan bentakan. Bagaimana pun ibu adalah orang yang paling besar pengorbanannya dalam hidup kita. Ibu yang rela menyabung nyawa saat melahirkan kita. Ibu yang salah satu kakinya sudah ada di kubur untuk memperjuangkan kita melihat dunia ini. Ibu yang dengan sabarnya mengurus kita, mulai dari bayi sampe gede. Tidak sepantasnya seorang ibu mendapat perlakuan yang tidak semena-mena dari seorang anak. (ini nih akibat terlalu berlebihan memanjakan anak).
Bukankah Allah telah menyampaikan hal ini dalam Qs. Luqman:14 yang artinya sbb:
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
Bersyukurlah kita yang masih mempunyai ibu, banyak orang yang ingin mendapat kasih sayang ibu tapi ibunya udah ga ada, atau yang sejak lahir udah nggak tau siapa ibunya. So, selagi masih punya ibu, perlakukanlah ibu kita dengan sebaik-baiknya. Karena ridha Allah terletak pada ridhanya ibu kita. Nah.. Mumpung lagi bulan suci, bulan dimana segala pahala amal ibadah kita dilipatgandakan, marilah kita berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, termasuk kepada ibunda kita.
Untuk ibuku yang tercinta… sungguh aku mencintaimu karena Allah. Terimakasih atas segala do’a dan kasih sayang yang kau berikan pada ku. Tak dapat kuhitung sudah berapa banyak pengorbanan yang kau lakukan demi aku. Ku tahu aku tak kan bisa membalas semua jasamu padaku. Karena itu aku akan berusaha untuk menjadi anak yang shaleh supaya bisa menjadi tabunganmu di akhirat kelak. Amin…
NB: tiga hal yang pahalanya terus mengalir kepada orang yang sudah wafat: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang saleh.

Minggu, 30 Mei 2010

Bom Pagi Hari

"arghhh.......!!!, printernya macet...! hiks..hiks...kenapa ga mau jalan lagi?...." seru K uun di kamar 2. kayaknya printernya ngadat lagi deh.
"Aish. mo mandi nggak ada air. ngg.... malas ku deh!" itu suara risa di kamar 8.
"o...mama... kenapa lagi ini?" uppa juga ngomel-ngomel di kamarnya ga tau deh kenapa.
"kak rara...tok..tok...tok... pinjam setrika ta' dulu..." upe kalang kabut cari setrika.
"wah nggak ada air ya?! kita kan mau mandi juga" anti ikutan ngeluh.
yang tetap stay cool tuh irma dan rara. aku sih asyik-asyik aja jadi pemerhati. rasanya pengen ketawa negliat semua tingkah anak-anak kos pagi ini. semuanya pada panik. pusing. Persis bom di pagi hari.

Kamis, 20 Mei 2010

Teori Seputar Tokek


Ada cerita unik seputar tokek yang sempat nongol di Kost Flora, kosan khusus cewek, dengan penghuni yang seringkali bertingkah ‘kurang kerjaan’, walaupun sebenarnya tugas-tugas kuliahnya menumpuk.
Cerita ini dimulai saat aku baru saja pulang dari pondokan teman bersama Fira, sahabatku di kampus. Ia mengantarku pulang sekaligus mampir sebentar. Sebelum pulang, tiba-tiba terdengar bunyi yang tak asing bagi penghuni Kost Flora.
“Tokke’..Tokke’..”
“ih, tokek! Dimana?” tanya Fira antusias.
“Semangat banget.., lo suka ma tokek juga? Kirain cuma suka kucing” tanyaku heran pada pecinta kucing ini. Saking cintanya pada kucing, dia sampai dijuluki Ummu Hurairah (Ibu Kucing).
“Nggak lah, cuman katanya tokek itu maksimal berbunyi 7 kali dan paling sering 6 kali,” jawabnya serius.
“O ya?!, aku nggak tau tuh soalnya nggak pernah ngitung,”
“coba aja lo hitung,” masih dengan wajah serius.
Awalnya aku nggak begitu peduli dengan hal ini. Beberapa hari kemudian ketika lagi nyantai di kamar kos, tokek kembali berbunyi. Jadi teringat kata-kata Fira.. Bener ga’ sih teorinya?
“ngrrrkk, Tokke’..”
“satu..”
“Tokke’..”
“Dua..” aku terus menghitung sampai toke’-an ke 6.
Aku mulai terpikir kata-kata Fira, “wow, amazing. Jangan – jangan emang bener” pikirku.
Begitulah, satiap harinya aku sibuk mengamati suara tokek. Teman sekamarku, Anti awalnya menertawaiku, tapi setelah kujelaskan dengan mimik “ini penting banget, lo tau ga sih?” akhirnya ia pun mengikuti kebiasaanku untuk membuktikan teori yang nggak tau siapa yang telah mengeluarkannya.
Sampai pada suatu hari, Kak Alya, senior mantan ketua kost kami datang bertandang. Bukan untuk sidak loh. Aku dan beliau memang sedang ada bisnis. Ce ile, bisnis. Iya, kami berencana membuka lembaga privat untuk anak sekolah. Dan dia datang untuk membicarakannya. Tokek yang ramah dan nggak kenal waktu itu pun turut menemani.
“Tokek…”
Aku langsung menghitung. Kak Alya jelas heran dengan tingkahku.
“ngapain lo? Kayak nggak ada kerjaan aja” celanya.
“Ngitung bunyi tokek. Eh, kak tau nggak, bunyi tokek itu maksimal 7 kali dan paling sering 6 kali” ungkapku serius.
“Masa sih?”
“yap, aku udah sering ngitung. Dan emang benar nggak pernah lebh dari 7 kali. Subhanallah, kan?”
“masa sih? Coba itung lagi kalo bunyi’”
Dan bener aja, ketika tokek itu berbunyi aku segera menghitung. Sengaja kukeraskan suaraku.
“Tokek..”
“Satu..”
“Tokek…”
“Dua…”
Sampai pada bunyi ketujuh. Tapi… ups..
“Tokek..”
“Delapan?!! Hah yang benar aja, kok bisa gini?” aku pusing sendiri.
“Salah itung kali, coba itung lagi” hibur kak Alya.
Aku pun melakukan hal yang sama, tapi tetap saja jumlah bunyinya 8 kali.
“Yah… jadi teorinya salah donk, atau memang tokeknya lagi aneh, ya?” ucapku dengan nada yang masih nggak percaya.
“Emang teorinya beneran gitu ya? Coba Tanya ulang. Emangnya dengar dari siapa sih?” Kak Alya memberikan komentarnya.
“Dari fira.”
Malam harinya, aku putuskan untuk menghubungi Fira leawt sms. Maklum anak kost nggak punya banyak persediaan pulsa buat nelpon. Apalagi mengingat hal yang bakal dibicarakan bukanlah hal yang urgen.
“Fir, berapa kali sih maksimal bunyi Tokek? Cz di kosan ku bunyi sampe 8x?”
Tanpa ragu aku menekan tombol Send/ok. Anti cuma geleng-geleng kepala melihatku. Tak lama berselang, datang lah balasan dari Fira.
“Maksimal 7 kali, dan yang paling sering 6 kali. Coba hitung ulang, trus laporkan”
Aku tercengang menatap layar Hp. Benar-benar sulit dipercaya kalo Fira bakal menanggapi ku seserius ini. Hari sabtu kami kembali betemu dan membahas masalah tokek ini.
“emangnya itu teori siapa sih, Fir?”
“oh.. itu Nuri yang bilang. Waktu di lokasi KKN juga ada tokek di posko, dan emang nggak pernah lebih dari 7 kali bunyinya.”
“oo… Kak Nuri. Kok saya bisa dengar 8 kali ya? Mana waktu itu lagi ada kak Alya. Khan malu”
“iya, yah kok bisa 8. Aku sih paling sering dengar 6kali nggak pernah lebih.”
Kami sama-sama tak mengerti.
Setelah kejadian tokek berbunyi 8x itu, kost ku jadi rame, karena bukan hanya aku yang sibuk menghitung bunyi tokek. Penghuni kost lainnnya yang tergabung dalam partner in crime-nya Kost Flora turut menghitung. So tunggu aja, kalo Tokek sudah mulai menggeram tanda akan start berbunyi, maka kami juga bersiap siap menghitung.
“satu..dua…tiga…”
Dan selalu berakhir sampai bunyi ke 6. Begitu seterusnya. Kami seolah mendapat mainan baru. Murah dan unik, katanya. Dasar anak kost. Sampai-sampai terkadang pada bunyi kelima si Tokek sudah mau berhenti, tapi mungkin karena kami membantunya menghitung maka ia menambahkan bunyinya sekali lagi
“Tokek..” ia menutup lagunya dengan anggun
Akan tetapi kesenangan kami tidak berlangsung lama. Sejak atap kost tempat si Tokek menetap di renovasi - karena sudah rapuh-, kami tak pernah lagi mendengar suarannya. Kami merasa kehilangan… (apa coba?)
“Oh tokek, dimanakah dirimu kini?”
“Lebay deh” miss Uppa dengan istilah tetapnya menanggapiku.
Sudahlah, mungkin ini sudah takdir tokek. Mungkin dia juga sudah lelah menjadi bulan-bulanan kami. Atau jangan-jangan dia merasa privasinya diusik dan akhirnya pergi. Padahal kami tidak bermasud jahat kami hanya ingin membantunya menghitung. Mulia banget niat kami. (Alah lebay lagi deh)
Malam selasa, saat sedang konsentrasi mengikuti rapat, Hp ku berbunyi tanda masuknya pesan. Ups dari Fira.
“Fren, barusn tokek di rmhku bunyinya 13x..”
&**)$(**&
Tampilkan postingan dengan label My lovely Kost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My lovely Kost. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Sendiri

Apa yang salah dengan sendiri? bukankah kita awalnya lahir sendiri dan mati pun akan sendiri?
Oho!, tentu tidak ada yang salah dengan sendiri. Hanya saja kata yang satu itu benar-benar bisa mengusik gundah dalam hati ku. Membuatku tak tenang dan gelisah. Yup I don't like being alone. Aku takut sendiri.

Sebelum aku bercerita lebih jauh ingin kusampaikan terlebih dahulu kehidupan baruku di rumah baruku. Bukan rumah baru dalam arti yang sebenarnnya tentunya, namun lebih tepat jika dikatakan tempat tinggal baru.
Saat ini aku dan rekan-rekanku di al insan tinggal di Jl. Prof. Abdurrahman Basalamah 2 No. 31 Makassar. Jalan yang dulunya bernama Racing Center ini kini menjadi saksi bisu atas jejak langkah yang kupijakkan setiap harinya. Jalanan-nya sejuk, rindang meski banyak juga kendaraan yang lalu lalang di atasnya.

Alhamdulillah, beribu syukur kupanjatkan kepada Allah atas segala resky yang diberikanNya kepada kami, kami boleh dibilang tinggal di ruko ini secara cuma-cuma. Kok bisa? ya bisalah, apa sih yang ga bisa kalau Allah berkehendak. Ceritanya gini, Bu khadijah (pemilik ruko) mengelola sebuah tahfidzul Qur'an  sabtu-ahad. Beliau terendala dari segi pengelolaan dan tenaga pengajar. Ia pun menawarkan kepada kami untuk tinggal di rumahnya sembari menjadi tenaga pengajar di Tahfidz beliau. Saat itu kami memang berencana untuk pindah dari hartako, dan bingung mau pindah kemana. Maka jadilah kami berempat (aku, Ela, Yusma dan k Nahda) pindah kemari.

Kami berempat hidup dengan damai, mesi pada awalnya suasana dan lingkungan yang masih baru membuat kami agak sulit beradaptasi. Mulai dari mencari jalur pt2 yang paling efisien, lokasi pasar yang tidak sebaik di hartako, jarak kampus dan tempat kerja yang semakin jauh membuat kami sempat sedikit tidak puas dengan keputusan kami. Belum lagi ketika pertama kali menghadapi anak-anak tahfidz yang beraneka ragam. Namun setelah hampir sebulan tinggal bersama sedikit-sedikit rasa itu semakin pupus. Kami mulai betah tinggal di sini dan menganggap ruko ini sebagai rumah kami, tempat kami melepaskan segala kepenatan yang kami rasakan di luar, tempat kami berbagi suka maupun duka, tempat mengekpresikan diri yang tidak sempat terekspresikan di luar sana. Keramahan Ibu Khadijah juga menjadikan kami nyaman tinggal di sini. meski lelah karena sering berjalan jauh, namun jika mengingat nikmat Allah atas tempat tinggal yang nyaman dan gratis ini kami lantas berucap syukur yang tiada henti. khusunya diriku.

Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Perlahan-lahan satu demi penghuni mulai jarang bermalam di rumah. Diawali dengan kak Nahdah yang berpikir untuk memaksimalkan tempat ini sebagai kantor. Ia meganggap jika ia tinggal di tempat ini maka ia hanya akan memberikan sisa-sisa waktunya saja, sehingga sulit untuk bisa mengembangkan tempat ini. Kakak yang satu ini memang suka berubah-ubah pikirannya, selalu meloncat-loncat dari satu hal ke hal lain, orangnya susah fokus, motonya: lebih baik tahu sedikit banyak hal dari pada tahu banyak sedikit hal. really not me. dengannya aku sering menemukan ketidak cocokan bahkan sering 'berantem'. Sikap ngototnya membuatku sering kesal.  tapi biar bagaimanapun dia masih punya segudang kebaikan yang nggak bisa disepelekan. love you sista, i'm sorry for everything. Akhirnya K Nahda resmi tidak menjadi penghuni ruko ini sejak bulan April, kini beliau tinggal di Antang, entah dengan siapa dan di mana tepatnya ia selalu merahasiakannya, kami adik2nya sulit mengerti tindakan yang ia lakukan namun kami tetap berusaha menerimanya.
Next
Setelah mulai bisa menerima 'hengkangnya' K Nahda dari kehidupan kami dan terbiasa menjalani hari-hari tanpa K Nahda di rumah ini, satu orang lagi mengambil langkah mundur bahkan tanpa membicarakannya lebih dulu dengan ku sebagai ketua pondokan mengenai rencananya. Ada sedikit rasa kecewa manakala kita merasa sangat bodoh karena tidak tahu apa-apa yang sedang terjadi. Seolah diri ini tidak berarti apa-apa bahkan untuk sekedar ukuran teman kost. Paling tidak ketika ingin pergi, kan bisa dia bilang "Kak mabit di rumahnya ka' sepupuku malam ini?" jadinya saya nggak perlu repot-repot menafsirkan kemana perginya dia? mau bilang apa saya sama Bu khadijah kalau ditanya.
Berbeda dengan kak Nahdah yang langsung mengatakan apa yang ada dihatinya atau yang dia lihat tanpa harus diminta tanggapan dan tanpa memperhatikan perasaan orang lain, Ela adalah tipe orang yang lebih sabar, lebih pendiam, lebih banyak nggak enaknya, dan tidak akan mengungkapkan perasaannnya kalau tidak ditanya. Ditanya pun belum tentu lengkap jawabanya, aku juga pernah menghadapi orang seperti ini sebelumnya. Aku mendapat Info dari Yusma yang juga serumahku, bahwa Ela selama satu atau dua bulan ini akan lebih banyak bermalam di Rumah sepupunya alasannya untuk menemani sepupunya ini karena pamannya sedang pergi KKN. 

Sebenarnya aku tidak akan pernah melarang, atau marah. Aku ini juga sangat pengertian meski kadang keras kepala. Aku sangat memahami mungkin ini yang terbaik untuk Ela, geraknya lebih leluasa karena ada motor di sana yang bisa ia gunakan untuk mengurusi skripsinya yang belum kelar juga. Hanya saja nggak ada salahnya kan kalau dikomunikasikan lebih awal biar kami juga nggak shock begini,  pembagian tugas rumah juga menjadi berantakan. 

Setelah seminggu menghabiskan waktu berdua dengan Yusma, aku mulai berusaha menerima apa yang terjadi pada kami. Toh, Ela masih datang bermalam minggu untuk mengurusi Tahfidz. lumayanlah.
Hari ini tibalah saat yang aku cemaskan itu, saat-saat dimana semua orang menginggalkan aku. Tadi sore, Yusma menelponku dengan suara yang takut-takut penuh harap juga. "Kak, Afwan mo ka pulkam ini. libburka selasa rabu. Kamis balik ma kemakassar"

Keget? Tentu saja, Tapi, aku mo bilang apa? apa iya aku ngelarang dia buat pulkam? nggak mungkin kan... Aku mencoba untuk tegar merelakan 'ke-pul-kam-an' Yusma. Setidaknya Yusma sudah beritikad baik dengan menginfokan terlebih dahulu kepadaku, anak yang satu ini meski cukup rumit tapi kutahu dia sangat pengertian agak mirip dengan kareter ku, mungkin karena golongan darah kami sama. Nggak seperti dua orang sebelumnya yang nanti di tanya baru mengatakan keadaan yang sebenarnya.  yang satu  karena emang cuek, yang satu karena merasa nggak enak. 

Aku pasrah saja, mau bagaimana lagi. Kalo memang harus sendiri ya sendiri. Pasti ini yang terbaik menurut Allah. InsyaAllah. Mungkin ini juga merupakan kesempatan bagiku untuk introspeksi diri. Bertanya pada diriku sendiri mengapa orang-orang begitu mudah pergi meninggalkanku. Mungkin ada banyak sifat dan sikap ku yang membuat mereka tidak tahan hidup bersamaku. :(  

Sedih...jika mengingat keadaanku saat ini. Aku juga ingin pulkam, bertemu dengan Mama, Ayu, Ilham, om, Tante, sepupu-sepupu. Pengen makan langsat yang kata Ilham lagi banyak banget. Tapi segala urusan di sini memaksaku untuk tetap tinggal. Kadang aku ingin melepas semuanya dan membiarkan diri ini bebassssssssss tapi apakah aku akan bisa bahagi setelah semuanya hilang? TIDAK, mungkin saat ini aku sedih, tapi masih banyak kebahagiaan2 lain yang tetap bisa kurasakan ditengah-tengah aktifitas ku. Masih ada manis yang bisa kuteguk di antara sekian banyak pahit.. Setidaknya aku masih bisa tersenyum setiap kali  tangis  ku reda. Aku masih bertahan. bersabarlah Ega.... tinggal sedikit lagi.  Besar harapanku semoga rasa sedih yang kurasakan karena kesendirian ini akan digantikan Allah dengan kebahagiaan yang lain. Amiiin. 

NB" belum selesai saya menulis note ini, mamanya Hilda yang tinggal di lantai 1 membawakan saya sayur sop dan Opor Ayam. wah.... Alhamdulillah... :)



Rabu, 02 November 2011

Selamat Jalan Pore

Akhirnya, setelah genap seminggu sakit, Pore pun menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pikir dia bakal sembuh, soalnya kemarin dan tadi malam dia udah bisa makan dan ngejilat-jilat tubuhnya. Tadi pagi pun aku masih ngeliat dia di pintu kamar.
Hari ini aku seharian ful di rumah, Internetan sepuasnya mumpung masih ada bonus, dan emang nggak ada schedule di luar. So asyik browsing, danmendandani blog. Menjelang shalat Ashar, waktu mo pergi ambil wudhu, tiba-tiba aku teringat Pore, si kucing yang udah seminggu sakit. Aku nggak melihat dia dari tadi. Habis wudhu, barulah aku nyariin Pore. Dimana-mana kucari ngga ketemu. Akhirnya kunyalakan lampu kamar agar bisa leih leluasa melihat. Alangkah terkejutnya aku ketika kutemukan Pore di sudut kamar sudah tergeletak kaku tak bergerak dengan mata dan mulut yang terbuka.
"innalillah...Pore dah meninggal" tak dapat kupungkiri, aku sedih atas kematiannya. Ternyata cuma sampai hari ini aja batas hidup Pore. Dan tadi malam waktu dia masuk ke kelambu dan tidur di kasurku, itu adalah salam perpisahan terakhirnya.
Hiks.... nggak ada lagi kucing cantik yang menjadi kebanggan kami. Kucing yang paling rajin mandi, kucing yang paling keras ngeongannya. yang menjadi saingan Poro kalo mo makan.
Sekarang Anak kucing Jamesha tinggal 2, rasanya nggak complete, karena aku menjumpai mereka saat masih bertiga. dan bagiku mereka adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.
Padahal Firah udah berusaha agar Pore sembuh, termasuk mengancam Pore, "Pore, kamu harus sembuh yah sebelum saya pulkam, kalo tidak nanti saya taruh di luar loh..."
Mungkin Pore ngerasa nggak kuat dan akhirnya memilih mati. hiks...
Selamat Jalan Pore. ..

Sampai saat aku nulis blog ini, Firah belum tahu kalo kucing cantiknya mati. Aku sendiri nggak berani mengangkat mayatnya. What should I do?

Selasa, 25 Oktober 2011

Kost Baru dan Kucing-kucing

Rabu 23 Agustus 2011 aku resmi meniggalkan kost Flora. Berat…. sungguh berat rasanya kaki ini melangkah meniggalkan my lovely kost. Rumah kedua ku setelah rumah yang ada di Masamba. 5 tahun bukan waktu yang singkat hingga mampu membuatku meninggalkannya. Kutatap kost ku itu dengan perasaan gamang, sambil menutup pagar depan berulang kali ku katakana “angiong Flora… sayonara…” dua kata dua bahasa yang artinya sama-sama selamat tinggal.di boncengan motor Rara, air mataku pun tumpah…. hiks sedih banget 
Tiba di kost baru, aku disambut dengan bau yang semerbak. Benar-benar menyengat. Bukan bau yang sedap, tapi bau kotoran kucing. HOEK!!! itulah kesan pertama ku di kost baru. Membersihkan tahi kucing yang ada di dekat tempat cuci piring. Karena itu aku bertekad untuk tidak membaik-baiki kucing-kucing yang ada di rumah ini. Mereka adalah kucing-kucing peliharaan teman kost ku yang baru. Sempat ada niat gini, "aku bakalan ngebaik-baikin tuh anak kucing di depan tuannya, tapi kalo tuannya ga ada aku bakalan taro mereka di luar" ***bergumam dengan tatapan sinis dan kepala yang meliuk-liuk ala pemeran antagonis di sinetron2 Indonesia
Anti sempat bilang, " tapi kan mereka lucu me..."
Aku jawab, "tapi kan tainya ga lucu  ti..."
Tapi... tapi .... itu dulu, semua rencana  jahat ku hanya ada di angan-angan. Beberapa hari tinggal di kost baru bersama Firah, Ferda dan Nisa aku mulai menyukai kucing-kucing tersebut. Apalagi dengan keberadaan Fira aku nggak bisa leluasa melakukan aksi gila ku. Bukan.. bukan karena takut sama firah, tapi karena Firah rajin ngurusin kucingnya, so aku nggak perlu direpotkan dengan urusan kotoran kucing lagi. 
Kini, hampir 2 bulan tinggal di sini aku malah jadi sayang sama kucing-kucing itu. Sering ngajakin mereka main, ngelus-ngelus bulunya, ngasih mereka makan, menatap mereka dengan tatapan kasih sayang ***kurker banget yak.
Kucing-kucing itu bernama Jamesha, Pora, Pore, dan Poro. berikut Deskripsi dari keempat kucing tersebut.
1. Jamesha, Ibu kucing yang baik hati. Sering membawakan makanan kepada anak-anaknya. Saking baiknya, dia rela mencuri demi ketiga anak-anak nya. Dia rela diusik tidurnya oleh ketiga anaknya yang ingin menyusu. Dia suka sekali menggoyang-goyangkan ekornya untuk meggoda anak-anaknya. Dia rela nggak makan demi anak-anaknya. kalo anak-anaknya lagi menyusu, dia bakalan menjilati satu persatu anaknya  dengan tujuan memandikan tentunya. Tapi akhir-akhir ini Jamesha mulai galak, mungkin karena dia hamil lagi. oh NO! 


2. PORA
 2. Pora, Kucing hitam putih. Anak pertama dari tiga kembaran. Kucing ini paling sering mengalami peristiwa tragis bahkan sejak pertama dilahirkannya. Waktu itu Jamesha sudah waktunya melahirkan, tapi dengan santainya dia jalan-jalan di dalam rumah, sementara Pora sudah bergelantungan di lubang kelahirannya. terpaksa Nisa membantu menariknya keluar. Pernah jatuh dari loteng ketika jamesha menggendongnya, pernah juga jatuh dari lemari. Sifat: paling akrab dengan manusia, paling kecil suaranya, suka makan jagung, kacang panjang  dan wajik khas mandar, plus kerupuk. 

3. Pore. Kucing belang, warisan dari Jamesha. Paling dekat dengan ibunya, paling cantik dan pemberani. selain itu kucing ini juga paling manja. Pore juga paling kerang ngeongannya, dan paling kuat firasatnya. Pernah suatu kali, pore uring-uringangan. Bawaannya lesu melulu, tampangnya sedih, kami semua khawatir melihat sikapnya saat itu. ternyata malamnya dia menjadi pembahasan dalam rapat pondokan. Anak-anak tetangga sebelah berniat untuk membuangnya. kasian Pore. Kucing yang satu ini juga punya kebiasaan yang baik, dia rajin banget mandi dan memandikan saudaranya dengan lidahnya. tidak heran jika di antara ketiga kembarannya dialah yang paling bersih.

 4. Poro. Si bungsu yang sok jago. Tapi sebenarnya dia yang paling penakut. Begitu ada ancaman, dia langsung lari ke bawah lemari. kucing yang paling agresif saat makan atau saat Jamesha membawakan makanan. Kalo aku perhatikan nih, ya ..  Poro itu adalah kucing yang paling bandel,  suka ngegangguin saudara-saudaranya yang lagi tidur. Emang sih awalnya cuma mengelus-ngelus, tapi kemudian dia tidak tahan untuk tidak menggigit telinga Pore maupun Pora. dia juga beberapa kali kepergok mencuri ikan, ***gini nih kalo kebiasaan di kasih makanan hasil curian. nah... kucing ini paling dekat dengan tikar. dia juga yang paling nyebelin. Tadi malam aja sarung ku dikencingi olehnya. PORO....!!!!!! awas kamu yah.. hehehe
 

Kami paling repot pada saat menjelang makan, kucing -kucing ini akan segera berlari ke dapur dan mengeong-ngeong di kaki kami dengan suara yang super nyaring (kecuali pora).Supaya kami bisa makan dengan tenang, kucing-kucing ini kami simpan di luar rumah dulu. kadang dengan makanannya, kadang juga tidak. Ferda tuh yang paling sering ngebooingin  kucing. Biasa juga, kami berlari ke kamar, menghindari kejaran kucing-kucing yang agresif itu dan menguncikannya. pokoknya di kost ini butuh perjuangan untuk makan.
Saat malam datang, nyamuk-nyamuk pun mulai beraksi. Berhubung aku orangnya paling anti sama anti nyamuk, maka kami memasang kelambu di ruang tamu untuk menghindari serbuan nyamuk. emang sih... serbuan nyamuk bisa dihindari, tapi serbuan lain datang kemudian. Ketika Kelambu mulai terpasang, trio kucing ini pada tawaf di sekitar kelambu. Tahu tawaf khan... itu loh prosesi mutar-mutar di sekitar ka'bah kalo orang naik haji. Kucing-kucing ini tawafnya di sekitar kelambu. kalo tawaf biasa sih nggak masalah. tapi yang jadi masalah mereka tawaf sambil menyerang kelambu. melompat-lompat dan bergelantungan di kelambu. Duh.... kucing.... kalian kenapa sih...?
Meskipun begitu, kami tetap sayang pada mereka. Aku paling suka ngeliatin mereka yang lagi tidur dengan pulas sambil berpelukan satu sama lain. Kucing aja bisa saling menyayangi, so kenapa kita (manusia) tidak?




Rabu, 19 Oktober 2011

Cowok-Cowok Penggemar FTV

            Kali ini saya mau bercerita tentang tetangga-tetangga baru saya. ups, salah, yang benar sayalah yang jadi tetangga baru mereka. Mereka memang anak-anak cowok, tapi selera mereka nggak beda-beda amat dengan selera remaja cewek. Like the title above, mereka rajin banget nonton FTV siang bareng-bareng. Entah apa yang ada di benak para pria itu ketika menyaksikan tontonan tersebut.

           Saya diam-diam memperhatikan kebiasaan mereka ini. Asal tahu saja, rumah saya dan rumah mereka hanya dibatasi oleh dinding seng, so apapun yang mereka omongin ataupun lakukan bisa terdengar jelas dari kamar kami. Saya ikut tertawa, manakala mendengar tawa mereka saat menonton FTV.

          Seperti Siang ini, lagi-lagi mereka -yang umurnya kutaksir sekitar 19-20 an - pada ngumpul rame-rame buat nonton FTV. kali Ini ceritanya tentang cowok tampan yang jadi pengantar bunga. Ketika dia sedang menjalankan tugasnya tersebut, ada pria lain yang sangat percaya pada mimpi. Dia baru saja bermmimpi bahwa ada seseorang yang memberinya bunga. dan dalam mimpi itu dikatakan bahwa orang yang memberinya bunga adalah jodohnya. nah...bertemulah 'sang pemimpi' tadi dengan cowok pengantar bunga, lalu 'sang pemimpi' berkata, "saya adalah orang yang sangat percaya pada mimpi, dan saya yakin kalau anda ini adalah jodoh saya"
           Kontan aja cowok2 tetangga kost saya pada tertawa. Mungkin mereka ngeri jika mereka mengalami hal yang sama. Kemudian mereka kembali heboh pada bagian berikut:

Cewek yang jadi pemeran utama akhirnya bertemu dengan cowok pengantar bunga,
"kamu percaya nggak, kalo ada orang bisa langsung suka pada pandangan pertama?" ciri-ciri mau menyatakan cinta tuh...

            Kali ini mereka bahkan bersorak, dan berhu....hu... ria. Saya yakin, itu adalah kalimat  yang tidak asing bagi mereka. Soalnya kemarin malam waktu Firah lagi begadang, dia sempat dengar tetangga kamar kami baik yang di sebelah kiri maupun kanan pada asyik ngegombal cewek-cewek di telepon menjelang jam 12-san. hemmm gini nih kerjaan anak muda sekarang, saya jadi iba sama cewek-cewek yang jadi korban keisengan mereka.

            Ketika melihat pemeran FTV yang ganteng, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "orang itu mirip saya kan?"
***hahaha kepedean. Temannya pun menjawab, "iya mirip, pantat dia mirip muka mu?" majelis nonton itu pun kembali berguncang oleh tawa mereka.

            Ada lagi kebiasaan mereka yang unik, mereka suka banget nonton infotainment. Setahu saya, yang suka nonton acara gosip begitu tuh cuma perempuan, ternyata pengetahuan saya salah. Wah.... tetanggaku emang unik.

Minggu, 25 September 2011

Ini Bukan Akhir cerita kost Flora


Cerita ini masih seputar kost Flora. Kost yang dihuni cewek baik-baik (ga makan kompor, maupun sabun). Agustus 2011, akhir periode kost-kosan. Pilihanx Cuma 2, menikah atau putuskan!  ups, salah! yang bener tuh, melanjutkan kontrakan, or move alias pindah.
Beberapa penghuni memutuskan untuk lanjut, ini berlaku bagi mahasiswa semester awal yang udah kesengsem sama kost flora dan malas nyari yang lebih bagus dan lebih murah. Yang lebih mahal banyak, tapi fasilitas ga sebanding dengan kost Flora ini. Yang lebih murah, apalagi. Pokoknya susah banget deh, di jaman kayak gini mo nyari kosan dengan fasilitas mendukung, dan kondisi lingkungan yang kondusif kayak gini. *waduh, dibayar berapa nih sama bu Hilda? Bukan…sungguh ga ada niat buat promo, aq cuman mau ngungkapin fakta bukan janji.
However, ada juga yang  memutuskan buat hengkang.  Yah….keputusan yang diambil dengan sangat berat hati. Pasalnya kenaikan kali ini udah diluar kemampuan kantong mereka. Lagi pula pertimbangan kuliah yang tinggal beberapa bulan. Dan mungkin udah kenyang asam garam tinggal di Flora. Siapa saja sih yang bakal pindah? Lets check it out.
TADAAA!!!!!
Para penghuni yang bakal pindah adalah flora lovers,  Rara, Upe, dan Aku.
Hmmm…. Benar-benar ga nyangka semua bakal berakkhir seperti ini. Emang sih sudah sunnatullah kalo ga aka nada yang abadi di dunia ini, termasuk kebersamaan kami. Tapi tetap aja, yang namanya perpisahan itu selalu ninggalin rasa sesak di dada, dan diiringi dengan kekosongan or kehampaan.  Selalu saja ada rasa  tak siap menerima kenyataan ini. Kami yang udah  4 tahun sama-sama bahkan ada juga yang ampe 5 tahun, mesti berpisah di tahun ini.
Ga papalah…. Ga ada yang perlu disesali, dan aku juga ga pernah menyesal. kenapa harus mesnyesal jika  hari-hari yang kami lalui bersama adalah hari-hari yang penuh makna, penuh warna kayak pelangi. Kami udah mengisinya dengan sebaik-baiknya. Kami punya banyak kenangan yang bisa kami ingat kembali saat kami sudah tidak tinggal satu atap. Kami bisa membuka kembali catatan-catatan harian kami, atau koleksi foto dan video konyol kami. Aku ngerasa ga ada yang perlu di sesali.  Justru sebaliknya, aku bersyukur banget bisa dikasih kesempatan buat tinggal di kost Flora, bisa ketemu dengan anak-anak flora, bisa berteman, bersahabat, berbagi cerita dan berbagi makanan. Hehehe.
Anak-anak kost flora yang menyenangkan, meski kadang ada juga saatsaat yang menyebalkan, tapi berujung pada kelucuan.
Adek Uppa pernah bilang, “banyak sekali kesan yang ku dapat selama tinggal di kost Flora, ada suka dan duka. Tapi kalo diitung-itung sih lebih banyak sukax” katanya sambil tertawa renyah. *biskut kali?!
Yup! Benar banget, tinggal di kost Flora emang merupakan pengalaman yang menyenangkan. Aku yang kalo di rumah jarang banget ngomong, karena jarak usia ku dengan adik-adikku pada jauhan, jadi cerewet banget pas tinggal di kost ini, soalnya aku dapat teman yang bisa di ajak share apa aja. Baik itu kakak-kakak, teman seangkatan maupun adik-adik. Jarang banget aku ngerasaain beban berat selama tinggal di kost ini. Selalu aja ada orang yang bisa menghibur, baik langsung maupun ga langsung. Saling menghibur, saling support, saling sayang-menyayangi, tenggang rasa, tepa salira, patriotism serta cinta tanah air. * tunggu..tunggu… kok jadi belajar pkn sih?
Singkatnya, Aku menemukan suadara-saudara baru di sini. Cinggu…… uhibbukifillah….(aku mencintai kalian karena Allah). Allah yang udah mempertemukan kita, dan menjalin tali ukhuwah di antara kita, mempertautkan hati-hati kita. Kita bertemu atas izin Allah, so jangan pernah sesali pertemuan dan jangan tangisi perpisahan. Ok?! (tapi kok yang nulis justru mewek?)
Aku bukan menangisi ataupun menyesali perpisahan ini. Aku hanya merasa sedih, karena merasa kehilangan. Bukankah kita hanya akan merasa kehinlangan jika yang hilang itu adalah sesuatu yang kita anggap berharga? Artinya kalian benar-benar berharga buatku. Ck..ck.ck.. Bisa-bisa nya yah..
Nggak kebayang gimana tampang kosan ini sepeninggal kami. Apa masih bakal rame juga? Apa bakal seseru waktu kami masih di sini? Atau malah makin sepi? Yah kita liat aja nanti, dan kita berikan tugas mulia untuk mengamati ini kepada adik Uppa. Omedetto (selamat ya…)
Oh iya, di antara Flora Lovers (mo di singkat flores, tapi pasti pada ga setuju) masih ada satu orang yang bakal meneruskan perjuangan kami. Dialah Achnida Zulfaidah  alias Uppa. Dia pasti bakal kesepian banget sepeninggal kami. Kachian deh adek Uppa.



Upe
2007
Pindah ke rumah kakakx di Gowa.
Uppa
2007
Menetap di Flora. Sementara menggarap proposal.
Rara
2006
Pindah ke rumah kemenakannya di jalan veteran. Kuliahx dah kelar tinggal seminar dan ujian meja.
Anti
2006
Udah pulkam tahun lalu dan sekarang ada di Cirebon, jadi hantu, ups ghost writer dan kursus menjahit.
Dedew
2006
Udah pindah sejak tahun lalu, masih di kompleks yang sama dengan kost Flora.
Nunu
2006
Jurusan fisika yang lulus bersamaan dengan ku.  Sekarang justru  jadi pegawai BRI.
Yuyu
2006
Jurusan Biologi,  lanjut S1 kedua, dan tinggal di kost lain
K Uni
2005
, pulkam ke Sulbar dan jadi guru, bentar lagi merid
K Alya
2002
Pindah ke jalan sunu, tapi lebih sering tinggal di secretariat lembaga muslimah. Sekarang juga jadi guru.
K iya’
2002
Udah merid dan punya anak, bakal berdomisili di Takalar.
K Wati
2005
Udah jadi PNS di Luwu Timur di salah satu SMK
Leli
2007
Pindah ke Abdesir, bareng 3 orang adiknya, lagi sibuk kerja di salah satu LBB dan cuti kuliah 1 semeter. Tinggal penelitian dan seminar hasil serta ujian meja.

Aku sendiri, bakalan pindah di salah satu rumah kontrakan di jalan malengkeri. Untuk sementara tinggal sama teman dulu selama 5 bulan. Berhubung rumah yang kuincar masih ada penghuninya.
Anak-anak flora…. Meskipun akhirnya kita ga tinggal sama-sama lagi, ku harap persaudaraan kita ga akan berakhir juga. Kita tetap bisa menjalin ukhuwah. Kalau kalian rindu telpon aja aku. Hehehe…
Kita masih bisa ngumpul-ngumpul bareng sekali-kali di Flora. Kan masih ada Uppa. Ok?!
Angiong cingu.
,
.
.



Jumat, 24 Desember 2010

Malam tanpa bintang tanpa kalian

Malam ini langit mendung. Di luar ga ada bintang maupun bulan.
Hanya cahaya kilat yang sesekali berpendar. Membuat suasana semakin melankolis.
Ku pandangi langit. Di sana terlihat cahaya merah dan kuning berkelap-kelip. Itu adalah pesawat yang sering kami pandangi bersama selepas shalat magrib.
Rindu..rindu…. Banget ma anak2 flora. Sama anti, dedew, nunu, leli, rara, upe, uppa. Dulu aku tak pernah sendiri memandangi langit malam. Selalu ada paling sedikit satu diantara mereka yang menemaniku. Tapi malam ini. Aku sendiri…..
Aku benar2 merasa kesepian di kost flora sekarang. Meski jumlah kami semakin banyak tapi keceriaan itu seolah berkurang. Berbanding terbalik dengan jumlah personil. Mungkin karena jarak usia yang terpaut jauh. (4 tahun aja kok). Kami belum bisa menemukan chemistry itu.
Malam ini langit tanpa bintang, tanpa kalian…rinduku semakin membuncah.

Rabu, 20 Oktober 2010

Hujan turun Lagi

MasyaAllah… di luar hujan turun dengan lebatnya. seperti air yang ditumpahkan dari langit. hm…. rasanya ingin terjun lagi. mandi-mandi hujan kayak dulu, bareng anak2 flora. Aku, Anti, Dewi, Rara, dan Upe’ plus Uppa. meskipun uppa Cuma jadi penonton. he..he..he,,
tapi sekarang, aku hanya bisa memandang jatuhnya air hujan di depan kamar. kangen…. berat ma anak-anak flora yang dulu. yang gokil, ceria, kompak, dan selalu happy. kapan ya… bisa main hujan-hujanan bareng lagi? Flora sekarang udah ga kayak dulu. anak2 pada nongkrong di kamar masing-masing, nggak mau gabung or ngumpul2 kayak dulu. Flora yang dulunya rame dan asyik, berubah jadi sepi…banget. hiks. kenapa sih harus berubah kayak gini. aku pengen anak2 flora yang dulu. yang sering ngumpul di teras. menikmati pagi, sore, or malam yang bertabur bintang maupun nggak. buka puasa berang, nonton film korea bareng, belajar dandan, makan-makan bareng, sampe foto-foto narsis.
ya sudahlah. mungkin ini emang akhir dari perjalanan Flora yang Gokil. kini Flora menjadi lebih religious, satu hal yang patut ku syukuri, hanya saja menurut ku kereligiusan itu nggak harus menjadikan kita tak saling berbagi kebahagiaan bukan? nggak membatasi kita untuk saling sharing, or ngumpul2. pokoknya aku kangen ma Flora yang dulu. karena aku ngerasa, rasa kekeluargaannya lebih kental. di flora yang dulu kita udah kayak sodara. di flora yang dulu aku nggak pernah merasa benar2 sendiri.
salam rinduku bwt anak2, flora.

Senin, 30 Agustus 2010

Keracunan Keong

Dedew baru aja pindah dari kost Flora. yah... berkurang lagi deh personil flora ceria.
Dedew pindah di kost yang dijuluki kost 'gudang'. Yah... mungkin karena kosannya nampung orang2 bekas kayak dedew (bekas Flora) he..he..he *dipelototin mata kucingnya dedew yang siap nelan aku. ampun dew, jangan makan aku.
Kondisi kost ini sangat bertolak belakang dengan kost Flora. misalnya nih ya, Kalo kost Flora cuma di huni oleh para cewek2 sok imut, nah di 'gudang' personilnya nambah cowok2 yang ga ku kenal. ya iyalah..
ada lagi nih, di Flora ada peraturan nggak boleh muter musik keras2, karena kami bersepakat bahwa nggak semua yang kita sukai juga disukai oleh orang lain, seperti suara musik termasuk aku.
2 hal ini yanglah yang menjadi bumerang bwt dewi di kost barux.
alkisah, kamar dewi tepat bersebelahan dengan kamar seorang cowok yang terkesan pendiam dan angkuh. bweh bahasanya... malam pertama dewi nggak bisa tidur. gimana bisa tidur kalo tetangga kamarnya muter musik keras-keras pake salon (speaker besar itu loh, bukan tempat potong rambut) pula. ck..ck..ck.. serasa rumah sendiri aja. belum lagi lagu yang diputar (keong racun dan cinta satu malam). itu terus yang diulang2. Dedew benar2 tersiksa. Pasalnya suaranya keras banget, tepat di kepala dedew. berkali2 dedew mencoba memberi teguran dengan cara mengetuk dinding pembatas yang terbuat dari tripleks. tapi yang ditegur tetap nggak ngeh juga. gimana mo dengar, kalo suara musiknya ngalahin suara ketukan.
Akhirnya dedew mencoba pasrah. perlahan-lahan rasa pusing mulai menjalar dikepalanya, "duh mual, Hoek!" dedew mo muntah.
"TIDAK!!!!! AKU KERACUNAN KEONG BERACUN, HIKS..HIKS..HIKS..." tangis sesal Dedew pengen balik ke Flora.

Minggu, 29 Agustus 2010

Tangisan si Rara

Kisah ini terjadi pada hari ahad tanggal 29 agustus 2010. Aku ngasih liat rara film tentang anak-anak kost flora yang kubuat di picasa movie maker. Film itu berisi kumpulan foto-foto anak2 flora sejak tahun 2008 ampe 2010. Kebersamaan yang dilewatibersama, makan bareng, nobar, kerja bakti, dandan asal-asalan, dan beragam aktivitas narsis lainnya. Waktu liat video itu rara ketawa-ketawa terus.
Tapi hal berbeda terjadi ketika ku perluhatkan film foto-foto ku ma Anti, dengan soundtrack lagunya Mytha “tentang mimpiku”. Baru di awal-awal dia udah bilang, “kayak sedih?”
Aku hanya mengangguk.aku terus aja ngoceh, menceritakan ini dan itu, kepada rara yang baring di ranjang di belakangku. Sayup-sayup kudengar isak tangis di balik punggungku.
“hiks..hiks,,”
Aku menoleh, “Rara?! Kamu nangis? Ya ampun, Ra’. Cup..cup…”
Tangisnya semakin menjadi-jadi dengan raungan yang memekakkan telinga, *nggak ding!
“Aku keingat Anti, hiks”
Aku nggak pernah nyangka reaksi Rara bakal kayak gitu banget. Cz aku aja nggak nangis ngeliatnya. (nangisx udah waktu tgl 4 agustus). Aku jadi pengen nagis ngeliat rara. Ternyata rara mendadak ingat Anti pas ngeliat foto-foto itu. Bukan maen, matax bengkak loh…
Aku nggak tahu apa maksud tangisan rara, dia kangen atau kasian ma Anti. “Wusshhh.. “ dilempar uang ma Anti. He..he.. he.. ngarep.
Anti, ternyata bukan Cuma aku aja yang merasa kehilangan mu. Semoga kau tenang di sana.
(“apaan seeh?”)

Rabu, 25 Agustus 2010

Kamar 3, kamar ceria, kamar kenangan


Kamar 3. salah satu kamar yang ada di kost Flora. Kost yang di huni oleh para cewek ajaib, aku termasuk salah satu di dalamnya. macam-macam karakter ada di sana. mulai dari yang kalem ampe yang ancur. he..he..he.. tapi nggak ampe hancur kayak WTC kok.

Kamar 3. Kamar yang kutempati bersamanya selama 4 tahun. banyak kisah dan kenangan yang kami ukir di dalamnya. ada tawa, canda, aksi gokill, cerita, kreatifitas, sedih, tangis dll, dsb yang pernah terjadi di sini. di kamar ini aku mencurahkan semua unek-unek ku . tangisku, karya ku, masakanku. Di kamar ini aku bebas mengeskpresikan diriku sekali lagi bersamanya.

Kamar 3. Kamar yang di depan pintunya tertulis kamar "Mega & Anti". Hampir di setiap sudutnya ada kenangan tantang kami berdua. kamar yang dijuluki kamar paling rame di kost flora karena keceriaan para penghuninya. Me n Anti. Kamar kreatif, kamar ceria, kamar rame, kamar ekspresi. kamar 3. kamar yang kucinta. kamar yang paling berkesan dalam hidupku. Di kamar ini aku bisa curhat dengan manusia. Bukan lagi dengan buku, atau cermin (kebiasaan waktu di rumah).

Meski sekarang Anti tak bersamaku lagi, tapi setiap kali ada di kamar ini, aku selalu teringat Anti. Setiap jengkalnya menyimpan kenangan tantangnya. Liat pintu, ingat anti, liat lemari ingat anti, liat ranjang ingat anti, dapur, lantai, kamar mandi, semuanya ingat Anti. pada setiap tempat itu aku dan anti pernah melakukan hal bersama. misal: nyuci bareng di kamar mandi, bersihin kamar mandi, antri mandi, terus nemuin si kecil yang bikin menjerit di kamar mandi. euww.. di dapur, masak bareng, dinyalain korek gas sama anti abis aku nggak kuar buat nekan gasnya, dibikinin nasi goreng, nyanyi-nyanyi pake mike sodetan dan sendok sayur. trus di ranjang kami masing-masing, ngobrol ngalor ngidul, mulai dari politik, warga flora yang biasa melanggar peraturan, masalah kuliah, film, dll. lantai,tampat nonton bareng, Senam bareng, bikin vidio aneh, ngepel bareng. di pintu, nempelin kertas kado, dan hiasan yang bertuliskan nama kami berdua. di dinding kamar kami menempelkan berbagai hasil kreatifitas kami.

hhhuhhh, berat rasanya untuk meniggalkan kamar ini. rasanya aku udah menyatu dengannya. Aku nggak sanggup ninggalin kamar kost ku ini. Tapi masalahnya aku musti pindah ke kamar 5. tinggal bersama Rara di sana. aku udah ngusulin supaya rara aja yang pindah ke kamar 3. tapi rara nggak mau dengan alasan kamar ku panas kalo siang. tapi kamar mandinya rara gelap. nggak ada lampunya. aku kan takut gelap. "kan tinggal di pasangin lampu" tukas rara.

ya sudahlah... kayaknya aku yang harus ngalah. lagian mungkin ini yang terbaik. Mungkin masa aktif ku di kamar 3 udah abis karena rekanku dah nggak ada. Aku cuma berharap mudah-mudahan penghuni selanjutnya akan merawat kamar ini dengan penuh kasih sayang. halah...lebay...

Slamat tinggal kamar 3 ......kamar ceria... kamar kenangan

Minggu, 01 Agustus 2010

Kok Gitu Sih?

“anj***, BRENGSEK!!!”
Astagfirullah. Pagi-pagi kuping ku sudah dibuat panas mendengar ucapan yang bagiku sangat kasar. Apalagi diucapkan oleh seorang cewek, muslimah lagi. Salah seorang penghuni Kost Flora yang belum lama tinggal di kost kami terus-terusan mengomel sendiri di kamarx. Aku yang lagi menjemur pakain di hari minggu yang cerah ini, mau nggak mau harus mendengar ucapan kasar tersebut. Berkali-kali aku beristigfar karena berkali-kali pula ia melontarkan ucapan yang nggak enak di dengar.
Sebut saja R. Dia sedang sibuk menelpon ke sebuah no Hp, tapi tak ada Jawaban. Sementara, ia ingin segera mendapatkan kejelasan itulah yang membuatnya kesal..tapi apakah harus sampai mengeluarkan kata-kata kasar.
“ini orang tuli kah? Hp kok nggak di angkat-angkat! Dasar Anj***, tai kucing!”
Astagfirullah.
Semua kata-kata kasar terlontar dengan sangat mulus dari bibir anak itu. Entah siapa yang diteleponnya. Tapi beberapa menit kemudian terajawablah rasa penasaranku. Dan kenyataan ini membuatku geleng-geleng kepala sambil berdecak (emangx cicak?) Miris..
“Halo, Ma. Jadi pindah nggak sih?! Kalo nggak jadi aku mo belajar kelompok bareng kelompok”
Entah apa yang diucapkan mamax diseberang sana.
“Makanya cepetan! Dari tadi di telpon nggak diangkat-angkat! Cepat sudah..!”
Mungkin mamanya menjawab tadi ketiduran, soalnya R ngomongnnya gini, “Tidur terus, udah jam berapa ini?”
Astagfirullahaladzim.
Salah satu hal yang tidak aku sukai dan paling tidak aku suka adalah mendengar orang berkata kasar. Aku yang mendengarnya merasa seolah aku yang dikata-katai. Mungkin ini sebabnya aku nggak suka nonton sinetron, banyak sumpah serapahnya sih… Apalagi dibulan yang suci ini, bulan dimana seharusnya kita belajar untuk menahan hawa nafsu, bukan hanya makan dan minum, tetapi perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Katakan yang baik atau diam.
Semoga kita tidak seperti R. Berbicara dengan orang tua sendiri terlebih lagi seorang ibu, seharusnya dengan perkataan yang lemah lembut, bukan dengan bentakan. Bagaimana pun ibu adalah orang yang paling besar pengorbanannya dalam hidup kita. Ibu yang rela menyabung nyawa saat melahirkan kita. Ibu yang salah satu kakinya sudah ada di kubur untuk memperjuangkan kita melihat dunia ini. Ibu yang dengan sabarnya mengurus kita, mulai dari bayi sampe gede. Tidak sepantasnya seorang ibu mendapat perlakuan yang tidak semena-mena dari seorang anak. (ini nih akibat terlalu berlebihan memanjakan anak).
Bukankah Allah telah menyampaikan hal ini dalam Qs. Luqman:14 yang artinya sbb:
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
Bersyukurlah kita yang masih mempunyai ibu, banyak orang yang ingin mendapat kasih sayang ibu tapi ibunya udah ga ada, atau yang sejak lahir udah nggak tau siapa ibunya. So, selagi masih punya ibu, perlakukanlah ibu kita dengan sebaik-baiknya. Karena ridha Allah terletak pada ridhanya ibu kita. Nah.. Mumpung lagi bulan suci, bulan dimana segala pahala amal ibadah kita dilipatgandakan, marilah kita berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, termasuk kepada ibunda kita.
Untuk ibuku yang tercinta… sungguh aku mencintaimu karena Allah. Terimakasih atas segala do’a dan kasih sayang yang kau berikan pada ku. Tak dapat kuhitung sudah berapa banyak pengorbanan yang kau lakukan demi aku. Ku tahu aku tak kan bisa membalas semua jasamu padaku. Karena itu aku akan berusaha untuk menjadi anak yang shaleh supaya bisa menjadi tabunganmu di akhirat kelak. Amin…
NB: tiga hal yang pahalanya terus mengalir kepada orang yang sudah wafat: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang saleh.

Minggu, 30 Mei 2010

Bom Pagi Hari

"arghhh.......!!!, printernya macet...! hiks..hiks...kenapa ga mau jalan lagi?...." seru K uun di kamar 2. kayaknya printernya ngadat lagi deh.
"Aish. mo mandi nggak ada air. ngg.... malas ku deh!" itu suara risa di kamar 8.
"o...mama... kenapa lagi ini?" uppa juga ngomel-ngomel di kamarnya ga tau deh kenapa.
"kak rara...tok..tok...tok... pinjam setrika ta' dulu..." upe kalang kabut cari setrika.
"wah nggak ada air ya?! kita kan mau mandi juga" anti ikutan ngeluh.
yang tetap stay cool tuh irma dan rara. aku sih asyik-asyik aja jadi pemerhati. rasanya pengen ketawa negliat semua tingkah anak-anak kos pagi ini. semuanya pada panik. pusing. Persis bom di pagi hari.

Kamis, 20 Mei 2010

Teori Seputar Tokek


Ada cerita unik seputar tokek yang sempat nongol di Kost Flora, kosan khusus cewek, dengan penghuni yang seringkali bertingkah ‘kurang kerjaan’, walaupun sebenarnya tugas-tugas kuliahnya menumpuk.
Cerita ini dimulai saat aku baru saja pulang dari pondokan teman bersama Fira, sahabatku di kampus. Ia mengantarku pulang sekaligus mampir sebentar. Sebelum pulang, tiba-tiba terdengar bunyi yang tak asing bagi penghuni Kost Flora.
“Tokke’..Tokke’..”
“ih, tokek! Dimana?” tanya Fira antusias.
“Semangat banget.., lo suka ma tokek juga? Kirain cuma suka kucing” tanyaku heran pada pecinta kucing ini. Saking cintanya pada kucing, dia sampai dijuluki Ummu Hurairah (Ibu Kucing).
“Nggak lah, cuman katanya tokek itu maksimal berbunyi 7 kali dan paling sering 6 kali,” jawabnya serius.
“O ya?!, aku nggak tau tuh soalnya nggak pernah ngitung,”
“coba aja lo hitung,” masih dengan wajah serius.
Awalnya aku nggak begitu peduli dengan hal ini. Beberapa hari kemudian ketika lagi nyantai di kamar kos, tokek kembali berbunyi. Jadi teringat kata-kata Fira.. Bener ga’ sih teorinya?
“ngrrrkk, Tokke’..”
“satu..”
“Tokke’..”
“Dua..” aku terus menghitung sampai toke’-an ke 6.
Aku mulai terpikir kata-kata Fira, “wow, amazing. Jangan – jangan emang bener” pikirku.
Begitulah, satiap harinya aku sibuk mengamati suara tokek. Teman sekamarku, Anti awalnya menertawaiku, tapi setelah kujelaskan dengan mimik “ini penting banget, lo tau ga sih?” akhirnya ia pun mengikuti kebiasaanku untuk membuktikan teori yang nggak tau siapa yang telah mengeluarkannya.
Sampai pada suatu hari, Kak Alya, senior mantan ketua kost kami datang bertandang. Bukan untuk sidak loh. Aku dan beliau memang sedang ada bisnis. Ce ile, bisnis. Iya, kami berencana membuka lembaga privat untuk anak sekolah. Dan dia datang untuk membicarakannya. Tokek yang ramah dan nggak kenal waktu itu pun turut menemani.
“Tokek…”
Aku langsung menghitung. Kak Alya jelas heran dengan tingkahku.
“ngapain lo? Kayak nggak ada kerjaan aja” celanya.
“Ngitung bunyi tokek. Eh, kak tau nggak, bunyi tokek itu maksimal 7 kali dan paling sering 6 kali” ungkapku serius.
“Masa sih?”
“yap, aku udah sering ngitung. Dan emang benar nggak pernah lebh dari 7 kali. Subhanallah, kan?”
“masa sih? Coba itung lagi kalo bunyi’”
Dan bener aja, ketika tokek itu berbunyi aku segera menghitung. Sengaja kukeraskan suaraku.
“Tokek..”
“Satu..”
“Tokek…”
“Dua…”
Sampai pada bunyi ketujuh. Tapi… ups..
“Tokek..”
“Delapan?!! Hah yang benar aja, kok bisa gini?” aku pusing sendiri.
“Salah itung kali, coba itung lagi” hibur kak Alya.
Aku pun melakukan hal yang sama, tapi tetap saja jumlah bunyinya 8 kali.
“Yah… jadi teorinya salah donk, atau memang tokeknya lagi aneh, ya?” ucapku dengan nada yang masih nggak percaya.
“Emang teorinya beneran gitu ya? Coba Tanya ulang. Emangnya dengar dari siapa sih?” Kak Alya memberikan komentarnya.
“Dari fira.”
Malam harinya, aku putuskan untuk menghubungi Fira leawt sms. Maklum anak kost nggak punya banyak persediaan pulsa buat nelpon. Apalagi mengingat hal yang bakal dibicarakan bukanlah hal yang urgen.
“Fir, berapa kali sih maksimal bunyi Tokek? Cz di kosan ku bunyi sampe 8x?”
Tanpa ragu aku menekan tombol Send/ok. Anti cuma geleng-geleng kepala melihatku. Tak lama berselang, datang lah balasan dari Fira.
“Maksimal 7 kali, dan yang paling sering 6 kali. Coba hitung ulang, trus laporkan”
Aku tercengang menatap layar Hp. Benar-benar sulit dipercaya kalo Fira bakal menanggapi ku seserius ini. Hari sabtu kami kembali betemu dan membahas masalah tokek ini.
“emangnya itu teori siapa sih, Fir?”
“oh.. itu Nuri yang bilang. Waktu di lokasi KKN juga ada tokek di posko, dan emang nggak pernah lebih dari 7 kali bunyinya.”
“oo… Kak Nuri. Kok saya bisa dengar 8 kali ya? Mana waktu itu lagi ada kak Alya. Khan malu”
“iya, yah kok bisa 8. Aku sih paling sering dengar 6kali nggak pernah lebih.”
Kami sama-sama tak mengerti.
Setelah kejadian tokek berbunyi 8x itu, kost ku jadi rame, karena bukan hanya aku yang sibuk menghitung bunyi tokek. Penghuni kost lainnnya yang tergabung dalam partner in crime-nya Kost Flora turut menghitung. So tunggu aja, kalo Tokek sudah mulai menggeram tanda akan start berbunyi, maka kami juga bersiap siap menghitung.
“satu..dua…tiga…”
Dan selalu berakhir sampai bunyi ke 6. Begitu seterusnya. Kami seolah mendapat mainan baru. Murah dan unik, katanya. Dasar anak kost. Sampai-sampai terkadang pada bunyi kelima si Tokek sudah mau berhenti, tapi mungkin karena kami membantunya menghitung maka ia menambahkan bunyinya sekali lagi
“Tokek..” ia menutup lagunya dengan anggun
Akan tetapi kesenangan kami tidak berlangsung lama. Sejak atap kost tempat si Tokek menetap di renovasi - karena sudah rapuh-, kami tak pernah lagi mendengar suarannya. Kami merasa kehilangan… (apa coba?)
“Oh tokek, dimanakah dirimu kini?”
“Lebay deh” miss Uppa dengan istilah tetapnya menanggapiku.
Sudahlah, mungkin ini sudah takdir tokek. Mungkin dia juga sudah lelah menjadi bulan-bulanan kami. Atau jangan-jangan dia merasa privasinya diusik dan akhirnya pergi. Padahal kami tidak bermasud jahat kami hanya ingin membantunya menghitung. Mulia banget niat kami. (Alah lebay lagi deh)
Malam selasa, saat sedang konsentrasi mengikuti rapat, Hp ku berbunyi tanda masuknya pesan. Ups dari Fira.
“Fren, barusn tokek di rmhku bunyinya 13x..”
&**)$(**&