Minggu, 27 Juni 2010

Banjir oh banjir....

Baru kali ini aku ngeliat banjir di depan mata. Apa lagi banjir yang kulihat itu adalah di luwu utara. Daerah di kapidi mulai tarra tallu sampai Cendana Putih semuanya terendam banjir. Bener2 udah kayak danau gitu. Alhamdulillah airnya jernih nggak ngandung lumpur. Soalnya banjir ini disebabkan meluapnya air sungai akibat pendangkalan sungai, bukan karena longsor. Di sepanjang perjalanan ke sekolah aku bisa menyaksikan ibu2 mencuci dengan memanfaatkan air banjir tsb, terus anak-anak pada berenang. Syukurnya lagi kebanyakan rumah di daerah itu adalah jenis rumah panggung. So kalo diliat sepintas seolah-olah mereka memang membangun di atas air.
Aku juga bisa meliat sungai-sungai siluman di depan maupun belakang rumah penduduk. Aku meyebutnya siluman, karena setahuku dulu ga’ ada aliran sungai di situ, tapi kok tiba-tiba ada dan alirannya juga lumayan deras plus jernih.
Masyaallah. Ini adalah kali pertama daerah ini terkena banjir. Ratusan bakan mungkin ribuan pohon kakao terancam mati karena terendam banjir. Daunnya sudah mulai menguning. Padahal buahnya lumayan banyak loh.
Setiap ke sekolah, aku dan mama harus pelan2 melewati genangan air, menyebrangi badan jalan.
“Pip…piiiipp!!!” Suara truck bergema di belakang ku.
“Ma’ ada truck di belakang!” Seru ku mencoba mengalahkan deru suara motor.
Mama tak bergeming. Dia tetap tak memberikan jalan kepada truck di belakang kami. Usut punya usut ternyata mama sengaja soalnya kalo truck di kasih jalan bisa-bisa kami kena cipratan air. Tau sendiri lah, truck itu kan kalo jalan ugal-ugalan plus ga pernah lambat. Mama ternyata cukup perhitungan juga.
Kembali ke masalah banjir. Mama cerita ke aku, pas UASnya anak SD kan banjir tuh dan banjirnya benar-benar parah sampai2 motor nggak bisa lewat. So mama terpaksa harus jalan kaki berkilo2 meter untuk sampai ke sekolah tempatnya mengajar soalnya mama kan dapat tugas ngawas UAS. Tapi kata mama perjalanan nggak terasa jauh karena jalannya rame2 sama korban yang lain yang sama2 terhadang banjir.
Itulah sekelumit cerita tentang banjir yang melanda tetangga desaku. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada orang-orang yang terkena musibah ini. Dan semoga peristiwa yang sama nggak sampe melanda desaku. *soalnya pak imam yang rumahnya di Kapidi, terpaksa pindah rumah ke desaku. Kalo kena juga kan kasian pak Imam, dah capek2 pindahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Minggu, 27 Juni 2010

Banjir oh banjir....

Baru kali ini aku ngeliat banjir di depan mata. Apa lagi banjir yang kulihat itu adalah di luwu utara. Daerah di kapidi mulai tarra tallu sampai Cendana Putih semuanya terendam banjir. Bener2 udah kayak danau gitu. Alhamdulillah airnya jernih nggak ngandung lumpur. Soalnya banjir ini disebabkan meluapnya air sungai akibat pendangkalan sungai, bukan karena longsor. Di sepanjang perjalanan ke sekolah aku bisa menyaksikan ibu2 mencuci dengan memanfaatkan air banjir tsb, terus anak-anak pada berenang. Syukurnya lagi kebanyakan rumah di daerah itu adalah jenis rumah panggung. So kalo diliat sepintas seolah-olah mereka memang membangun di atas air.
Aku juga bisa meliat sungai-sungai siluman di depan maupun belakang rumah penduduk. Aku meyebutnya siluman, karena setahuku dulu ga’ ada aliran sungai di situ, tapi kok tiba-tiba ada dan alirannya juga lumayan deras plus jernih.
Masyaallah. Ini adalah kali pertama daerah ini terkena banjir. Ratusan bakan mungkin ribuan pohon kakao terancam mati karena terendam banjir. Daunnya sudah mulai menguning. Padahal buahnya lumayan banyak loh.
Setiap ke sekolah, aku dan mama harus pelan2 melewati genangan air, menyebrangi badan jalan.
“Pip…piiiipp!!!” Suara truck bergema di belakang ku.
“Ma’ ada truck di belakang!” Seru ku mencoba mengalahkan deru suara motor.
Mama tak bergeming. Dia tetap tak memberikan jalan kepada truck di belakang kami. Usut punya usut ternyata mama sengaja soalnya kalo truck di kasih jalan bisa-bisa kami kena cipratan air. Tau sendiri lah, truck itu kan kalo jalan ugal-ugalan plus ga pernah lambat. Mama ternyata cukup perhitungan juga.
Kembali ke masalah banjir. Mama cerita ke aku, pas UASnya anak SD kan banjir tuh dan banjirnya benar-benar parah sampai2 motor nggak bisa lewat. So mama terpaksa harus jalan kaki berkilo2 meter untuk sampai ke sekolah tempatnya mengajar soalnya mama kan dapat tugas ngawas UAS. Tapi kata mama perjalanan nggak terasa jauh karena jalannya rame2 sama korban yang lain yang sama2 terhadang banjir.
Itulah sekelumit cerita tentang banjir yang melanda tetangga desaku. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada orang-orang yang terkena musibah ini. Dan semoga peristiwa yang sama nggak sampe melanda desaku. *soalnya pak imam yang rumahnya di Kapidi, terpaksa pindah rumah ke desaku. Kalo kena juga kan kasian pak Imam, dah capek2 pindahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar