Minggu, 16 Oktober 2011

Harber (Hari Bersama) Dadakan

Hari ahad, atau yang biasa disebut hari minggu merupakan hari yang selalu kunanti-nanti setiap pekannya. Soalnya, pada hari itu aku dan beberapa orang teman-teman muslimah berkumpul dalam satu majelis untuk kembali mendapatkan siraman ruhiyah, kembali mengisi otak kami dengan ilmu syar'i dan mentazkiyah jiwa-jiwa kami yang sempat gersang akibat banyaknya polusi yang mengotorinya selama beraktivitas sepekan. Selain itu di halaqah tarbiyah kami bisa saling bertemu, bertukar pikiran, berbagi, dan saling menguatkan. Di majelis tarbiyah, kuperoleh ketenangan yang tidak kudapatkan di tempat lain. Senyum para akhawaat, tazkiyah maupun materi tarbiyah yang disampaikan oleh ummu memberi kekuatan dan semangat tersendiri buatku. Aku begitu bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, nikmat keislaman, kesempatan untuk tarbiyah dan bertemu dengan saudara-saudara yang saleh, yang ketika melihatnya dapat membangkitkan rasa takut kepada Allah.. 
Namun, sabtu sore -sehari sebelum hari tarbiyah- datanglah sms dari Irma (naqibah kami) bahwa ummu tidak bisa mengisi tarbiyah hari ahad. Aku dan Firah merasa sedih tentunya, begitu pula dengan beberapa teman yang lain. Mengingat  ukhti Adri sudah akan kembali ke kampung halamannya hari kamis pekan ini. yang berarti pertemuan depan dia sudah tidak bisa hadir dalam majelis kami. 
Firah pun berinisiatif untuk mengadakan acara makan-makan di rumah k Afifah. Setelah melalui proses menghubungi sana-sini akhirnya disepakati bahwa acara makan-makan akan di adakan di rumah k Afifah hari ahad jam 10, Dengan menu Mie titi yang juga biasa disebut mie kering. Jadilah akhirnya kami melaksanakan Harber Dadakan.
Aku dan firah yang menyiapkan bahan-bahannya, kemudian membawanya ke rumah K Afifah. Hanya saja, sedikit sekali akhawat yang bisa datang. Yah.... kalo diitung-itung peserta acara ini hanya berjumlah 6 orang. Beberpa akhawaat yang nggak bisa datang disebabkan adanya agenda yang lain, seperti Irma misalnya, beliau harus mengikuti pelatihan pengajar TK/TPA di balai kota. Ukhti Eni aja, datang nya telat karena masih haru koas dibagian anestesi.
Meski hanya berjumlah 6 orang  nggak jadi masalah besar buat kami, Buktinya rumah K Afifah menjadi sangat ramai dengan kehadiran kami, duh... jadi nggak enak nih ma ustadz (suami k Afifah). Dengan riang gembira dan cekatan kami bekerja di dapur. Jujur, aku nggak tau gimana cara mie titi, soalnya aku cuma tau makan doang, tapi gara-gara acara makan-makan ini, aku jadi tau gimana cara membuatnya. Entar deh aku bagi resepnya.
Sambil masak K afifah cerita tentang perjalanan hidayahnya, dan bagaimana bisa bertemu dengan suaminya.. Beliau berbagi tips biar bisa tegar di jalan dakwah. Ini adalah bagian yang paling aku suka dalam harber selain makan tentunya, di harber kita bisa saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Seperti hari ini, aku baru tahu kalau ayah temanku adalah seorang dukun,  Dewi yang ternyata jago banget masak mie titii. lalu teman-temanku akhirnya tau kalo aku nggak suka makan sawi, dan masih banyak lagi. Ukhuwahnya terasa banget. Aku juga diajarin, kalo saat menggoreng, sodetnya jangan diayun kesana kemari, soalnya minyaknya bakan tercecer. hehehe.. afwan...abis dah jadi kebiasaan di kost, sodet dijadiin mic.
Kami masak dari jam 10.30 sampe jam 12.00. Usai melaksanaka shalat duhur berjamaah, kami pun meyantap masakan  kami. hmmmm lezat...  Seperti biasa, waktu masak lebih lama dibanding waktu makan. Abis makan kami semua pada kekenyangan yang berimplikasi pada rasa kantuk. Kami pun beristirahat sebentar di kamar anaknya k Afifah.  Aku, ukhti Adri, dan ukhti Dewi sempat tertidur sebentar.
Gema adzan Ashar membangunkan kami, setelah shalat dan beres-beres, kami pun pamit pada K afifah. Aku dibonceng Fira, Adri nebeng di mobil Dewi, sedang Eni sendiri aja di mobilnya. Mubazzir banget nih, harusnya bisa muat lebih banyak lagi, sayang teman-teman yang lain pada nggak ikutan. 
Oh iya, kami menyempatkan diri singgah di rumah murabbiyah kami, sekalian menjeguk beliau. Ternyata penyebab tidak bisanya beliau mengisi halaqah kami adalah tidak sehatnya ummu. Ummu menerima kami dengan baik dan sempat memberi kami nasehat sedikit. Intinya, sebagai muslimah kita harus bisa kuat, dan istiqamah. Meskipun nantinya kami harus kembali ke daerah kami masing-masing dan tidak ada akhawaat atau sulit bertemu dengan akhawat maka kami harus tetap memperkuat ibadah-ibadah (wajib maupun sunnah) kami dan tetap beregang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Syukran ummu....
Meskipun acaranya mendadak tapi alhamdulillah semua berjalan lancar. 
Dari perjalananku hari ini aku bisa menyaksikan langsung betapa indahnya rumah tangga Islami. Semoga aku juga bisa mewujudkannya.. amin







Ilmu dan Akhirat

Fudhail BIn Iyadh berkata: ketakutan manusia akan Allah sejajar dengan ilmunya tentang Allah, dan penolakannya dengan kenikmatan dunia sejejar dengan keinginannya dengan akhirat.

Kamis, 13 Oktober 2011

Dia....Ukhti ku...

Aku baru aja buka-buka draft dan ternyata ada tulisan ini.  Sekalian aja di edit dan dipublish. Check it out!
Semakin hari, aku merasa semakin dekat dengannya. Bahkan sudah sampe tidur bareng. ck..ck..ck... waktu emang bisa merubah segalanya. bayangkan, kami punya ranjang masing-masing tapi kami lebih memilih tidur di lantai dengan menggelar kasur yang cukup besar untuk kami berdua.
Setiap jam 10 malam meja belajar di geser, kasur dihampar, dan kelambu pun digantung. si dia udah kecanduan kelambu. Dan tiap pagi juga kami bahu membahu merapikan tempat tidur***banyakan dia sih yang ngerapihin.
Dulu sempat menangis karenanya, tapi akhirnya lebih sering tertawa bersamanya. Kalo dia lagi diam, artinya jangan tanya-tanya. so aku cuek aja sampai dia yang membuka mulut dengan gumaman, atau gurauan. 
sosok yang baik, yang kuat, pekerja keras, yang cekatan, dan sederhana, serta kadang terkesan lugu (lucu dan guriting). Mengajarkan ku banyak hal terutama soal kerapihan dan kebersihan. Dia juga suka ma'dawa-dawa di dapur. Bersamanya aku berani membuat kapurung, dan ongol-ongol. 
Dia, ukhti ku, membuat ku tertawa dengan guyonannya, dan membuatku menangis saat mendengar tangisnya di hari berpulangnya ibundanya yang tercinta, membuatku ikut kesal ketika ada yang menipunya, dan membuatku berat meniggalkan kost Flora.
Dia.. ukhti ku yang pernah menegurku saat aku kebablasan bercanda dengan seorang senior yang bukan mahramku. Syukran ukh, karena sudah menegur. Ana emang butuh itu. Itu menunjukkan cinta ukhti pada ana yang tidak ingin ana terjatuh dalam kemaksiatan.
Dia, Ukhti ku, penggemar warna hijau yang diam-diam membaca blog ku. Semua barang-barang di kamar mandi serba hijau. Sabun pun hijau. Hampir aja aku dicat hijau sama dia.
Dia, Ukhti ku, yang rajin banget ke pasar Butung dan pulang kampung dengan motornya yang dijuluki 'MORA'. Aku sering ditinggal sendirian di kamar kost. suka berkata "....sedding..". 
dia Ukhti ku, yang pusing tujuh keliling kalo ngeliat kondisi Flora yang berantakan dan rumputnya udah tinggi. Semangatnya luar biasa. Meski hanya setahun tinggal bersama tapi kesannya insyaAllah tetap tertinggal. 
Dia... ukhti ku... Rahmawati Rusli....
kaifa Haluki ya ukh....? gimana Proposalnya?


NB: Tulisan ini kudedikasikan kepada al ukh... RARA


Impian ku dan Takdir-Nya

Ketika Kehendakku  tak ,
sejalan dengan Kehendak-Nya
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan di atas hidupku
karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukku
Ketika inginku tak sesuai dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya yang menjadi skenario terbaik bagi hidupku
Karena Dia Maha Tahu segala hal tentang diriku

Biarkan tangisan mengobati kekecewaan ku
bukan kecewa pada Rabb ku
Tapi kekecewaan pada diriku sendiri
Yang tidak mampu berdiri di atas ingin-Nya

Hidup harus dijalani dengan ikhlas
Sesakit apapun di saat impian tak sejalan dengan takdir-Nya
Siap ataupun tidak harus dijalani
Karena Rabb ku tak pernah butuh persetujuan ku
Atas kehendak-Nya

Kuyakin kehendak-Nya adalah yang terbaik
daripada ingin ku

Tamasya ke Pulau Sandro Benge

Tanggal 2 Juni 2011, sehari ba’da SNMPTN para kru al Insan beserta siswa Bimbingan Belajar mengadakan Rihlah atau dalam bahasa lazimnya disebut Rekresai atau melancong ke Pulau Kadesea.

Perjalanan Di muali pukul 6.30 pagi dari Kawasan BTP (Bumi Tamalanrea Permai) asrama Siswa Al-insan. Perjalanan kami cukup lancar. meskipun harus menenmpuh rute yang asing, dan terjal. Apapun itu jika kita menikmatinya maka everything is OK. apalagi di mobil kami ada Kia, siswa yang hobynya ngelawak. sepanjang perjalanan suaranya lah yang memenuhi atmosper di kendaraan kami. mmm lumayan buat penghilang BT.

Awalnya kami sama sekali tidak berencana ke Pulau Kadesea. Tempat yang kami tuju sebenarnya adalah Pantai Galesong. namun kondisi pantai di sana tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Pasirnya hitam, dan penuh dengan ranting dan daun-daun pohon Bambu. Anak-anak tak terkecuali kami kecewa berat.

Di tengah kekecewaan kami itu, seorang ibu menawarkan untuk mengunjungi pulau Kadesea yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan. kami semua terkesima melihat sebuah pulau yang teronggok di tengah laut. dari tempat kami berdiri (di pinggir pantai Galesong) kami bisa melihat hamparan pasir putih yang mengelilingi pulau tersebut. Semangat kami pun kembali berkobar*api kali?!

Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Untuk sampai ke Pulau Kadesea, kami harus menumpang kapal milik salah seorang warga. apa yang salah dengan itu? ooh tidak, tidak salah sama sekali. kalau mau ke pulau emang harus naik kapal. yang jadi masalah adalah, kapal tidak bisa bersandar di pinggir pantaii, disebabkan kedalaman air laut yang dangkal. jadi kami pun harus berbasah-basahan melintasi air baru naik ke kapal.



setelah itu perjalanan berlangsung dengan riang gembira. aku dan 3 orang rekan duduk di bagian paling depan kapal. terjangan ombak kurasa seperti ayunan bunda. duh… kok jadi mual ya mengingatnya.

mendekati pulau, kapal kami mogok. *toeng,toeng!

ada sekitar 15 menit kami harus terombang ambing di lautan. mau turun, lautnya masih dalam banget. terpaksa kami harus bersabar menikmati buaian ombak yang semakin terasa karena mesin kapal tidak menyala.

Perjuangan kami hari itu terobati dengan keindahan pulau Kadesea. Pasinya putih, airnya pun masih jernih. serta bebatuan di dasar laut yang terlihat bahkan ketika kami masih di kapal.





Waaa….. pengen segera terjun ke laut. tapi ibu-ibu di belakangku mengingatkan.

“hati-hati mbak, kadang saking jernihnya air, orang-orang ga sadar kalo laut ini dalam, dikirain dangkal.”

aku pun urung melakukan niat ku. secara aku kan belom jago bener renangnya. kapal merapat dengan selamat di pantai Pulau Kadesea. satu- persatu kami turun dari kapal, sambil mengoper tas-tas dan barang-barang yang lain.





acara selanjutnya adalah bakar-bakar ikan dan permainan di tepi pantai. meskipun begitu ada juga peserta yang nyebur duluan. ada juga yang pergi foto-foto tapi ga ngajak-ngajak tega!





Makan siang setelah shalat duhur. abis itu pada nyebur deh di laut yang jernih nan menawan. oh, iya, di pulau kecil itu ternyata dibangun sebuah ushalla kecil juga, jaddi kita ga kesulitan untuk beribadah.

sayangnya kegembiraan kami ga berlangsung lama. karena tepat pukul dua siang kami sudah harus kembali. Yang punya kapal akan pergi melaut. hahahaha,tenyata kapalnya si Bapak the bukan kapal komersial, api kapal penangkap ikan. hahahaha…












Mau tidak mau kami pun harus rela menginggalkan pulai Kadesea. Perjalanan singkat yang berkesan. Lain kali aku bakalan ngajak teman-temanku yang lain ke pulau ini. InsyaAllah….

Setelah Setahun

Akhirnya tabir itu pun tersingkap. Aku tak pernah bermaksud untuk menyembunyikannya, hanya saja aku memang tak pernah mengatakannya secara blak-blakan, karena sejak awal aku mengira mereka semua sudah tahu. tanpa ada maksud berbohong, menipu atau merahasiakan apapun dari siapapun. Sungguh....

Tapi entah mengapa perasaan bersalah dan tidak enak itu tetap saja hadir manakala salah seorang guru di sekolah menyampaikan kepada Pak Kepsek, kalau aku sebenarnya alumni jurusan Matematika. Meskipun ibu itu menambahkan bahwa aku 'jago bahasa inggris', raut wajah kurang berkenan dari pak Kepsek tetap saja tergambar. "saya kira dari jurusan Bahasa Inggris?" Serta merta aku tak dapat berkata apa-apa dan tak mampu lagi mengangkat kepala. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati pak kepsek. Aku sempat memberikan penjelasan ke Pak Kepsek kenapa aku bisa mengajar bahasa Inggris. Entah dia bisa mengerti atau tidak, aku sama sekali tak tahu.  Ketidaktahuan ku itu menimbulkan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dada.

***

Waktu itu tanggal 7 Oktober 2010, aku menerima tawaran mengajar bahasa Inggris di SMA dari Kak Alya. Saat itu kondisi keuangan ku sangat memprihatinkan. Untuk meminta kepada mama aku sudah tak punya nyali. Aku kan sudah Sarjana, (meski baru lulus) masa masih nadahin tangan ke orang tua? ***pikir ku saat itu. Di saat yang bersamaan kak Alya menawariku pekerjaan tersebut.
"Ega, mau nggak ngajar bahasa inggris di t4 ngajar ku?"
Awalnya aku enggan, soalnya aku belum pernah menghadapi anak-anak SMA, selain itu English is not my subject. Sempat ku tanyakan hal itu kepada kak Alya, "Emang bisa?" 
Dia bilang bisa, dia aja guru biologi, ngajar TIK di sekolah. 
Alasan kenapa akhirnya aku menerima tawaran tersebut adalah ucapan kak Alya yang bilang kalau aku cuma jadi pengganti sementara dari Bu Hasmiah, soalnya beliau lagi sakit magh akut. Aku pun meng-iya kan.
hari pertama  ke sekolah aku sempat nyasar, mesti beberapa kali naik angkot. Aku disambut oleh beberapa tentara di pintu gerbang, maklum letak sekolahku berada dalam lokasi tentara. Waktu itu aku dengan PD nya menyapa pak tentara, "permisi pak, SMA MKS RY dmn ya?". " di sana" jawab pak tentara dengan  tampang bengong. Mungkin baru kali ini ada orang yang negur buat nanya alamat. hehehe...
Selanjutnya aku pun bertemu denga wakil Kepsala Sekolah, soalnya saat itu pak Kepsek lagi ke luar kota. Bu Sri mempersilahkan ku untuk mengamati kondisi sekolah dan kelas-kelas, bahkan ruang guru. Kali aja ada yang membuat ku nggak srek. Beliau  pun menjelaskan bahwa siswa-siswi di sini udah hampir sebulan nggak belajar bahasa Inggris karena nggak ada guru. Naluriku terusik, Aku merasa terpanggil. pengen jadi seperti bu Muslimah. wkwkwkwk.
Mengajar di SMA swasta dengan kondisi kelas yang padat serta kondisi siswa yang super ribut menjadi tantangan tersendiri buat ku. Di awal-awal mengajar aku sering pulang dengan leher yang sakit, serta tubuh yang penat. Belum lagi mesti korban perasaan, karena menghadapi siswa yang susah diatur. Bagaimana tidak, aku langsung memegang 3 kelas (kelas 1, 2, dan 3) dan untuk mata pelajaran bahasa Inggris, kelas IPA dan IPS digabung, kebayang ga sih gimana beratnya mengajar di situ. Tapi itulah resiko yang harus kutanggung. oh iya, aku termasuk orang yang penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, malash saking lamanya, biasanya kesempatan itu sudah pergi baru aku bisa memutuskan. Tapi ketika aku sudah memutuskan sesuatu, maka tak mudah untuk melepaskannya. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya.
Hari bergati hari, bulan pun terus bergulir akhirnya genap 3 bulan aku mengajar. Keakraban mulai terjalin baik antara aku dengan guru-guru, maupun dengan siswa. Mengajar bahasa Inggris menjadi hal yang menyenangkan buatku. meski kadang masih ada saja hal-hal yang kurang berkenan dari siswa. Dan nilai plusnya Kemampuan Bahasa Inggris ku makin bertambah. Guru kan harus lebih tahu dari pada siswa.(pikirku) aku nggak mau malu-maluin.
Setelah 3 bulan berlalu, usai Ulangan semester, aku menanyakan kepada BU Sri mengenai kelanjutan 'kontrak' ku. Tapi salah ku aku nggak pernah bilang kalau aku bukan alumni bahasa Inggris. Aku selalu merasa mereka sudah tahu dari Bu Alya. lagi perasaan ku yang bermain.
Bu Sri mengatakan agar aku tetap melanjutkan mengajar, karena bu hasmiah masih nggak ada kabarnya. Aku pun melanjutkan mengajar, karena aku belum berniat pulang kampung, "sekalian buat alasan sama mama, kalo di sini aku punya kerjaan, biar diizinin tetap di makassar untuk nuntut ilmu agama"
Begitulah, sampai saat ini, sudah setahun aku melakoni tugas ku sebagai pengajar di SMA MKS RY, tentunya bukan itu saja pekerjaan yang kujalani. Aku juga menjadi pengajar (tentor) matematika di sebuah LBB (lembaga Bimbingan Belajar) Islami di Makassar, dan nyambi as a private teacher. Meskipun gaji di kedua job ku itu lebih besar dibandingkan di skolah, tapi ada hal lain yang membuatku bertahan, yakni pengalaman. Pengalaman menjadi guru di kelas, di sekolah, berinteraksi dengan sesama guru dan siswa. 
Selama setahun ini, banyak hal yang sudah kualami di sini. Mengajar siswa dengan tingkat IQ dan sifat2 yang beraneka ragam, bagaimana menyiapkan perangkat pembelajaran bahsa Inggris (silabus, Prota, Promes, RPP, KKM), bagaimana menyusun soal ulangan, membuat kisi Ujian Sekolah, pergi mengawas UN di sekolah lain, rapat guru, ngurus ini, buat itu dll. Guru-guru di sekolah ini pun sangat menyenangkan, ramah, dan kekeluargaan. Ada ibu Sri yang blak-blakan dan suka ngasi masukan, ada bu J yang keibuan, penyayang dan kadang nyentrik juga, Pak K yang pengetahuan agamanya lumayan, yang awalnya sangat kutakuti karena ia dijuluki 'polisi bahasa' oleh guru-guru yg lain, kudu ati-ati klo ngomong sama bapak yg satu ini, tapi lama-lama aku mulai merasakn kebaikan dari beliau. bu nana, bu ipe, bu dewi, bu alya, bu Anti, bu rahma, yang termasuk guru-guru honor seperti ku. Mereka adalah senior-senior ku di Kampus, tapi di sekolah mereka adalah rekan kerja yang baik. Bu S yang baik, Pak H, Pak Haji Hrn, Pak guru Olahraga, dan masih banyak lagi. Mereka semua nggak sombong, selalu memeberikan motivasi kepada yang lain. Saling mengoreksi dan menerima masukan. Pokoknya semangat kekeluargaan di sekolah ini terasa banget. Tentunya semua ini tak lepas dari peran pak Kepsek yang rendah hati dan bijaksana. Selalu mengingkan yang terbaik buat siswa dan guru. Saat menulis ini aku baru sadar kalau ternyata banyak hal berharga yang kudapat dari 'salah alamat' ini. 
Nah... sekarang aku jadi bimbang, gundah, resah, dan sejenisnya. Sifat perasa ku kumat lagi, merasa nggak enak tanpa tahu apa yang sebenernya dirasakan oleh pak Kepsek. Sempat terpikir juga untuk mengundurkan diri, dan mencari sekolah yang lain. Hanya saja, saat ini kami tengah dalam proses merampungkan perangkat sekolah. Apa kata pak Kepsek jika tiba-tiba aku mengundurkan diri. Tadinya aku berniat menghadap ke pak Kepsek untuk menyakan masalah penentuan KKM bahasa Inggris yang aku belom ngerti caranya, karena aku bukan anak bahasa Inggris. Sayangnya, sebelum sempat menghadap, bu S sudah keburu ngomong, jadi nggak enak deh. 
Kupikir ini memang salah ku, tak ingin merahasiakan tapi tak pernah menyampaikan. (abis nggak ditanya sih)
saya sama sekali tidak pernah berpikir akan mengajar bahasa Inggris selama ini. Ini di luar rencana ku. Meski  saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah. Satu hal yang dapat menghiburku adalah aku yakin kalo aku selalu melakukan yang terbaik dalam pekerjaan yang kujalani. Aku bukan guru yang malas, malah kak Alya sebel karena aku terlalu 'rajin'. 
Aku terkesan dengan perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu: "seorang Insan dinilai dari apa yang bisa dikerjakannya dengan baik"
Hal itu memacuku untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan. Suatu pekerjaan sekecil apapun itu, ia tetap pekerjaan, lakukanlah dengan baik dan kebaikannya juga akan mengalir pada kita dan orang-orang di sekitar kita.
Mudah-mudahan itu bisa jadi pertimbangan buat pak Kepsek dalam menilai ku. Aku nggak takut dipecat, aku hanya khawatir jika pak Kepsek marah, itu saja. Aku sama sekali tidak takut kehilangan pekerjaan, yang aku takutkan adalah kehilangan kepercayaan.

Pada akhirnya aku haya bisa berharap yang terbaik pada Allah. Wish everything is OK.






Kamis, 06 Oktober 2011

Kemaksiatan Melahirkan Kemaksiatan Lainnya

catatan ini aku copas dari note seorang teman di fb.  mudah-mudahan bermanfaat. selamat membaca!

Sesungguhnya kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba akan melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain, sehingga pelakunya susah dan berat meninggalkannya. Sebagian salaf mengatakan: “Sesungguhnya diantara hukuman keburukan adalah terjadinya keburukan setelahnya, dan sesungguhnya di antara pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya”. Jika seorang hamba telah melakukan sebuah kebaikan, maka kebaikan yang berada di dekatnya mengatakan: “Hendaklah engkau mengamalkan aku juga!”. Jika dia telah mengamalkan kebaikan kedua, maka kebaikan ketiga akan mengatakan seperti itu juga , dan begitu seterusnya. Sehingga kebaikan selalu bertambah dan keuntungan berlipat ganda. Sebaliknya, keburukan juga seperti itu. Maka akhirnya ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi sifat yang melekat dan keadaan yang tetap ada pada pelakunya. Jika seorang muhsin (orang yang sudah terbiasa berbuat ketaatan dengan sebaik-baiknya) meninggalkan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya tertekan, bumi yang luas terasa sempit, dan dia merasa seperti ikan yang meninggalkan air. Sampai dia kembali melaksanakan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya akan menjadi tenang dan hatinya menjadi tenteram. Sebaliknya, jika seorang mujrim (orang yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang besar) meninggalkan kemaksiatan dan menuju ketaatan, maka jiwanya tertekan, dadanya terasa sempit, sampai dia terbiasa melaksanakan ketaatan-ketaatan (Lihat Ad-Da' wa Dawa' karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Hal ini diisyaratkan di dalam sebuah hadits Nabi Muhammmad saw dengan sabda Beliau “Hendaklah kamu selalu jujur, karena sesungguhnya jujur itu akan menuntun menuju kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan menuntun kepada surga. Dan tidaklah seseorang selalu berkata jujur dan berusaha menetapi kejujuran, sampai dia ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan hendaklah kamu selalu menjauhi dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan menuntun menuju kemaksiatan, dan sesungguhnya kemaksiatan itu akan menuntun menuju neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berkata dusta dan selalu memilih kedustaan, sampai dia ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang pendusta (HR. Muslim dari 'Abdullah bin Mas'ud)


Oleh karena itu Allah swt melarang kemaksiatan dan sarana-sarananya. Allah swt telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tidak nampak.Allah swt juga melarang mendekati perbuatan-perbuatan keji itu dan sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya. Semua itu sebagai rahmat-Nya kepada para hamba dan menjaga mereka dari perkara yang membahayakan mereka di dunia dan akhirat.


Diantara perbuatan keji yang telah Allah swt haramkan di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya adalah zina. Allah swt berfirman yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra:32)


Sarana-sarana yang menghantarkan menuju zina juga diharamkan, seperti wanita keluar rumah memakai parfum, membuka aurat kepada orang lain, berbicara manja kepada laki-laki yang bukan mahram, bersafar tanpa mahram, ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan), khalwat (laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya), tabarruj (perbuatan wanita yang memamerkan dandanan dan perhiasan), mengumbar pandangan kepada wanita yang bukan mahram, dan lain-lain.


Ketika larangan Allah swt diterjang, maka apakah yang terjadi? Kemaksiatan berantai membelenggu sang pelaku. Akhirnya berujung kepada zina. Ketika si wanita telah hamil karena zina, aborsi ditempuh sebagai solusi. Dengan banyaknya perzinaan, maka aborsi juga semakin meningkat pesat. Padahal di dalam perbuatan aborsi terdapat berbagai bahaya dan pelanggaran syariat yang dilakukan. Maka perlu ada usaha bersama untuk membendung perilaku menyimpang dari agama ini, sehingga harapan mearaih kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih oleh umat ini dengan ridha ilahi.


Diambil dari Majalah As-Sunnah, Jumadil Tsani 1430/Juni 2009
dipublish ulang oleh http://perpustakaan-islam.com/

Minggu, 16 Oktober 2011

Harber (Hari Bersama) Dadakan

Hari ahad, atau yang biasa disebut hari minggu merupakan hari yang selalu kunanti-nanti setiap pekannya. Soalnya, pada hari itu aku dan beberapa orang teman-teman muslimah berkumpul dalam satu majelis untuk kembali mendapatkan siraman ruhiyah, kembali mengisi otak kami dengan ilmu syar'i dan mentazkiyah jiwa-jiwa kami yang sempat gersang akibat banyaknya polusi yang mengotorinya selama beraktivitas sepekan. Selain itu di halaqah tarbiyah kami bisa saling bertemu, bertukar pikiran, berbagi, dan saling menguatkan. Di majelis tarbiyah, kuperoleh ketenangan yang tidak kudapatkan di tempat lain. Senyum para akhawaat, tazkiyah maupun materi tarbiyah yang disampaikan oleh ummu memberi kekuatan dan semangat tersendiri buatku. Aku begitu bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, nikmat keislaman, kesempatan untuk tarbiyah dan bertemu dengan saudara-saudara yang saleh, yang ketika melihatnya dapat membangkitkan rasa takut kepada Allah.. 
Namun, sabtu sore -sehari sebelum hari tarbiyah- datanglah sms dari Irma (naqibah kami) bahwa ummu tidak bisa mengisi tarbiyah hari ahad. Aku dan Firah merasa sedih tentunya, begitu pula dengan beberapa teman yang lain. Mengingat  ukhti Adri sudah akan kembali ke kampung halamannya hari kamis pekan ini. yang berarti pertemuan depan dia sudah tidak bisa hadir dalam majelis kami. 
Firah pun berinisiatif untuk mengadakan acara makan-makan di rumah k Afifah. Setelah melalui proses menghubungi sana-sini akhirnya disepakati bahwa acara makan-makan akan di adakan di rumah k Afifah hari ahad jam 10, Dengan menu Mie titi yang juga biasa disebut mie kering. Jadilah akhirnya kami melaksanakan Harber Dadakan.
Aku dan firah yang menyiapkan bahan-bahannya, kemudian membawanya ke rumah K Afifah. Hanya saja, sedikit sekali akhawat yang bisa datang. Yah.... kalo diitung-itung peserta acara ini hanya berjumlah 6 orang. Beberpa akhawaat yang nggak bisa datang disebabkan adanya agenda yang lain, seperti Irma misalnya, beliau harus mengikuti pelatihan pengajar TK/TPA di balai kota. Ukhti Eni aja, datang nya telat karena masih haru koas dibagian anestesi.
Meski hanya berjumlah 6 orang  nggak jadi masalah besar buat kami, Buktinya rumah K Afifah menjadi sangat ramai dengan kehadiran kami, duh... jadi nggak enak nih ma ustadz (suami k Afifah). Dengan riang gembira dan cekatan kami bekerja di dapur. Jujur, aku nggak tau gimana cara mie titi, soalnya aku cuma tau makan doang, tapi gara-gara acara makan-makan ini, aku jadi tau gimana cara membuatnya. Entar deh aku bagi resepnya.
Sambil masak K afifah cerita tentang perjalanan hidayahnya, dan bagaimana bisa bertemu dengan suaminya.. Beliau berbagi tips biar bisa tegar di jalan dakwah. Ini adalah bagian yang paling aku suka dalam harber selain makan tentunya, di harber kita bisa saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Seperti hari ini, aku baru tahu kalau ayah temanku adalah seorang dukun,  Dewi yang ternyata jago banget masak mie titii. lalu teman-temanku akhirnya tau kalo aku nggak suka makan sawi, dan masih banyak lagi. Ukhuwahnya terasa banget. Aku juga diajarin, kalo saat menggoreng, sodetnya jangan diayun kesana kemari, soalnya minyaknya bakan tercecer. hehehe.. afwan...abis dah jadi kebiasaan di kost, sodet dijadiin mic.
Kami masak dari jam 10.30 sampe jam 12.00. Usai melaksanaka shalat duhur berjamaah, kami pun meyantap masakan  kami. hmmmm lezat...  Seperti biasa, waktu masak lebih lama dibanding waktu makan. Abis makan kami semua pada kekenyangan yang berimplikasi pada rasa kantuk. Kami pun beristirahat sebentar di kamar anaknya k Afifah.  Aku, ukhti Adri, dan ukhti Dewi sempat tertidur sebentar.
Gema adzan Ashar membangunkan kami, setelah shalat dan beres-beres, kami pun pamit pada K afifah. Aku dibonceng Fira, Adri nebeng di mobil Dewi, sedang Eni sendiri aja di mobilnya. Mubazzir banget nih, harusnya bisa muat lebih banyak lagi, sayang teman-teman yang lain pada nggak ikutan. 
Oh iya, kami menyempatkan diri singgah di rumah murabbiyah kami, sekalian menjeguk beliau. Ternyata penyebab tidak bisanya beliau mengisi halaqah kami adalah tidak sehatnya ummu. Ummu menerima kami dengan baik dan sempat memberi kami nasehat sedikit. Intinya, sebagai muslimah kita harus bisa kuat, dan istiqamah. Meskipun nantinya kami harus kembali ke daerah kami masing-masing dan tidak ada akhawaat atau sulit bertemu dengan akhawat maka kami harus tetap memperkuat ibadah-ibadah (wajib maupun sunnah) kami dan tetap beregang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Syukran ummu....
Meskipun acaranya mendadak tapi alhamdulillah semua berjalan lancar. 
Dari perjalananku hari ini aku bisa menyaksikan langsung betapa indahnya rumah tangga Islami. Semoga aku juga bisa mewujudkannya.. amin







Ilmu dan Akhirat

Fudhail BIn Iyadh berkata: ketakutan manusia akan Allah sejajar dengan ilmunya tentang Allah, dan penolakannya dengan kenikmatan dunia sejejar dengan keinginannya dengan akhirat.

Kamis, 13 Oktober 2011

Dia....Ukhti ku...

Aku baru aja buka-buka draft dan ternyata ada tulisan ini.  Sekalian aja di edit dan dipublish. Check it out!
Semakin hari, aku merasa semakin dekat dengannya. Bahkan sudah sampe tidur bareng. ck..ck..ck... waktu emang bisa merubah segalanya. bayangkan, kami punya ranjang masing-masing tapi kami lebih memilih tidur di lantai dengan menggelar kasur yang cukup besar untuk kami berdua.
Setiap jam 10 malam meja belajar di geser, kasur dihampar, dan kelambu pun digantung. si dia udah kecanduan kelambu. Dan tiap pagi juga kami bahu membahu merapikan tempat tidur***banyakan dia sih yang ngerapihin.
Dulu sempat menangis karenanya, tapi akhirnya lebih sering tertawa bersamanya. Kalo dia lagi diam, artinya jangan tanya-tanya. so aku cuek aja sampai dia yang membuka mulut dengan gumaman, atau gurauan. 
sosok yang baik, yang kuat, pekerja keras, yang cekatan, dan sederhana, serta kadang terkesan lugu (lucu dan guriting). Mengajarkan ku banyak hal terutama soal kerapihan dan kebersihan. Dia juga suka ma'dawa-dawa di dapur. Bersamanya aku berani membuat kapurung, dan ongol-ongol. 
Dia, ukhti ku, membuat ku tertawa dengan guyonannya, dan membuatku menangis saat mendengar tangisnya di hari berpulangnya ibundanya yang tercinta, membuatku ikut kesal ketika ada yang menipunya, dan membuatku berat meniggalkan kost Flora.
Dia.. ukhti ku yang pernah menegurku saat aku kebablasan bercanda dengan seorang senior yang bukan mahramku. Syukran ukh, karena sudah menegur. Ana emang butuh itu. Itu menunjukkan cinta ukhti pada ana yang tidak ingin ana terjatuh dalam kemaksiatan.
Dia, Ukhti ku, penggemar warna hijau yang diam-diam membaca blog ku. Semua barang-barang di kamar mandi serba hijau. Sabun pun hijau. Hampir aja aku dicat hijau sama dia.
Dia, Ukhti ku, yang rajin banget ke pasar Butung dan pulang kampung dengan motornya yang dijuluki 'MORA'. Aku sering ditinggal sendirian di kamar kost. suka berkata "....sedding..". 
dia Ukhti ku, yang pusing tujuh keliling kalo ngeliat kondisi Flora yang berantakan dan rumputnya udah tinggi. Semangatnya luar biasa. Meski hanya setahun tinggal bersama tapi kesannya insyaAllah tetap tertinggal. 
Dia... ukhti ku... Rahmawati Rusli....
kaifa Haluki ya ukh....? gimana Proposalnya?


NB: Tulisan ini kudedikasikan kepada al ukh... RARA


Impian ku dan Takdir-Nya

Ketika Kehendakku  tak ,
sejalan dengan Kehendak-Nya
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan di atas hidupku
karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukku
Ketika inginku tak sesuai dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya yang menjadi skenario terbaik bagi hidupku
Karena Dia Maha Tahu segala hal tentang diriku

Biarkan tangisan mengobati kekecewaan ku
bukan kecewa pada Rabb ku
Tapi kekecewaan pada diriku sendiri
Yang tidak mampu berdiri di atas ingin-Nya

Hidup harus dijalani dengan ikhlas
Sesakit apapun di saat impian tak sejalan dengan takdir-Nya
Siap ataupun tidak harus dijalani
Karena Rabb ku tak pernah butuh persetujuan ku
Atas kehendak-Nya

Kuyakin kehendak-Nya adalah yang terbaik
daripada ingin ku

Tamasya ke Pulau Sandro Benge

Tanggal 2 Juni 2011, sehari ba’da SNMPTN para kru al Insan beserta siswa Bimbingan Belajar mengadakan Rihlah atau dalam bahasa lazimnya disebut Rekresai atau melancong ke Pulau Kadesea.

Perjalanan Di muali pukul 6.30 pagi dari Kawasan BTP (Bumi Tamalanrea Permai) asrama Siswa Al-insan. Perjalanan kami cukup lancar. meskipun harus menenmpuh rute yang asing, dan terjal. Apapun itu jika kita menikmatinya maka everything is OK. apalagi di mobil kami ada Kia, siswa yang hobynya ngelawak. sepanjang perjalanan suaranya lah yang memenuhi atmosper di kendaraan kami. mmm lumayan buat penghilang BT.

Awalnya kami sama sekali tidak berencana ke Pulau Kadesea. Tempat yang kami tuju sebenarnya adalah Pantai Galesong. namun kondisi pantai di sana tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Pasirnya hitam, dan penuh dengan ranting dan daun-daun pohon Bambu. Anak-anak tak terkecuali kami kecewa berat.

Di tengah kekecewaan kami itu, seorang ibu menawarkan untuk mengunjungi pulau Kadesea yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan. kami semua terkesima melihat sebuah pulau yang teronggok di tengah laut. dari tempat kami berdiri (di pinggir pantai Galesong) kami bisa melihat hamparan pasir putih yang mengelilingi pulau tersebut. Semangat kami pun kembali berkobar*api kali?!

Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Untuk sampai ke Pulau Kadesea, kami harus menumpang kapal milik salah seorang warga. apa yang salah dengan itu? ooh tidak, tidak salah sama sekali. kalau mau ke pulau emang harus naik kapal. yang jadi masalah adalah, kapal tidak bisa bersandar di pinggir pantaii, disebabkan kedalaman air laut yang dangkal. jadi kami pun harus berbasah-basahan melintasi air baru naik ke kapal.



setelah itu perjalanan berlangsung dengan riang gembira. aku dan 3 orang rekan duduk di bagian paling depan kapal. terjangan ombak kurasa seperti ayunan bunda. duh… kok jadi mual ya mengingatnya.

mendekati pulau, kapal kami mogok. *toeng,toeng!

ada sekitar 15 menit kami harus terombang ambing di lautan. mau turun, lautnya masih dalam banget. terpaksa kami harus bersabar menikmati buaian ombak yang semakin terasa karena mesin kapal tidak menyala.

Perjuangan kami hari itu terobati dengan keindahan pulau Kadesea. Pasinya putih, airnya pun masih jernih. serta bebatuan di dasar laut yang terlihat bahkan ketika kami masih di kapal.





Waaa….. pengen segera terjun ke laut. tapi ibu-ibu di belakangku mengingatkan.

“hati-hati mbak, kadang saking jernihnya air, orang-orang ga sadar kalo laut ini dalam, dikirain dangkal.”

aku pun urung melakukan niat ku. secara aku kan belom jago bener renangnya. kapal merapat dengan selamat di pantai Pulau Kadesea. satu- persatu kami turun dari kapal, sambil mengoper tas-tas dan barang-barang yang lain.





acara selanjutnya adalah bakar-bakar ikan dan permainan di tepi pantai. meskipun begitu ada juga peserta yang nyebur duluan. ada juga yang pergi foto-foto tapi ga ngajak-ngajak tega!





Makan siang setelah shalat duhur. abis itu pada nyebur deh di laut yang jernih nan menawan. oh, iya, di pulau kecil itu ternyata dibangun sebuah ushalla kecil juga, jaddi kita ga kesulitan untuk beribadah.

sayangnya kegembiraan kami ga berlangsung lama. karena tepat pukul dua siang kami sudah harus kembali. Yang punya kapal akan pergi melaut. hahahaha,tenyata kapalnya si Bapak the bukan kapal komersial, api kapal penangkap ikan. hahahaha…












Mau tidak mau kami pun harus rela menginggalkan pulai Kadesea. Perjalanan singkat yang berkesan. Lain kali aku bakalan ngajak teman-temanku yang lain ke pulau ini. InsyaAllah….

Setelah Setahun

Akhirnya tabir itu pun tersingkap. Aku tak pernah bermaksud untuk menyembunyikannya, hanya saja aku memang tak pernah mengatakannya secara blak-blakan, karena sejak awal aku mengira mereka semua sudah tahu. tanpa ada maksud berbohong, menipu atau merahasiakan apapun dari siapapun. Sungguh....

Tapi entah mengapa perasaan bersalah dan tidak enak itu tetap saja hadir manakala salah seorang guru di sekolah menyampaikan kepada Pak Kepsek, kalau aku sebenarnya alumni jurusan Matematika. Meskipun ibu itu menambahkan bahwa aku 'jago bahasa inggris', raut wajah kurang berkenan dari pak Kepsek tetap saja tergambar. "saya kira dari jurusan Bahasa Inggris?" Serta merta aku tak dapat berkata apa-apa dan tak mampu lagi mengangkat kepala. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati pak kepsek. Aku sempat memberikan penjelasan ke Pak Kepsek kenapa aku bisa mengajar bahasa Inggris. Entah dia bisa mengerti atau tidak, aku sama sekali tak tahu.  Ketidaktahuan ku itu menimbulkan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dada.

***

Waktu itu tanggal 7 Oktober 2010, aku menerima tawaran mengajar bahasa Inggris di SMA dari Kak Alya. Saat itu kondisi keuangan ku sangat memprihatinkan. Untuk meminta kepada mama aku sudah tak punya nyali. Aku kan sudah Sarjana, (meski baru lulus) masa masih nadahin tangan ke orang tua? ***pikir ku saat itu. Di saat yang bersamaan kak Alya menawariku pekerjaan tersebut.
"Ega, mau nggak ngajar bahasa inggris di t4 ngajar ku?"
Awalnya aku enggan, soalnya aku belum pernah menghadapi anak-anak SMA, selain itu English is not my subject. Sempat ku tanyakan hal itu kepada kak Alya, "Emang bisa?" 
Dia bilang bisa, dia aja guru biologi, ngajar TIK di sekolah. 
Alasan kenapa akhirnya aku menerima tawaran tersebut adalah ucapan kak Alya yang bilang kalau aku cuma jadi pengganti sementara dari Bu Hasmiah, soalnya beliau lagi sakit magh akut. Aku pun meng-iya kan.
hari pertama  ke sekolah aku sempat nyasar, mesti beberapa kali naik angkot. Aku disambut oleh beberapa tentara di pintu gerbang, maklum letak sekolahku berada dalam lokasi tentara. Waktu itu aku dengan PD nya menyapa pak tentara, "permisi pak, SMA MKS RY dmn ya?". " di sana" jawab pak tentara dengan  tampang bengong. Mungkin baru kali ini ada orang yang negur buat nanya alamat. hehehe...
Selanjutnya aku pun bertemu denga wakil Kepsala Sekolah, soalnya saat itu pak Kepsek lagi ke luar kota. Bu Sri mempersilahkan ku untuk mengamati kondisi sekolah dan kelas-kelas, bahkan ruang guru. Kali aja ada yang membuat ku nggak srek. Beliau  pun menjelaskan bahwa siswa-siswi di sini udah hampir sebulan nggak belajar bahasa Inggris karena nggak ada guru. Naluriku terusik, Aku merasa terpanggil. pengen jadi seperti bu Muslimah. wkwkwkwk.
Mengajar di SMA swasta dengan kondisi kelas yang padat serta kondisi siswa yang super ribut menjadi tantangan tersendiri buat ku. Di awal-awal mengajar aku sering pulang dengan leher yang sakit, serta tubuh yang penat. Belum lagi mesti korban perasaan, karena menghadapi siswa yang susah diatur. Bagaimana tidak, aku langsung memegang 3 kelas (kelas 1, 2, dan 3) dan untuk mata pelajaran bahasa Inggris, kelas IPA dan IPS digabung, kebayang ga sih gimana beratnya mengajar di situ. Tapi itulah resiko yang harus kutanggung. oh iya, aku termasuk orang yang penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, malash saking lamanya, biasanya kesempatan itu sudah pergi baru aku bisa memutuskan. Tapi ketika aku sudah memutuskan sesuatu, maka tak mudah untuk melepaskannya. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya.
Hari bergati hari, bulan pun terus bergulir akhirnya genap 3 bulan aku mengajar. Keakraban mulai terjalin baik antara aku dengan guru-guru, maupun dengan siswa. Mengajar bahasa Inggris menjadi hal yang menyenangkan buatku. meski kadang masih ada saja hal-hal yang kurang berkenan dari siswa. Dan nilai plusnya Kemampuan Bahasa Inggris ku makin bertambah. Guru kan harus lebih tahu dari pada siswa.(pikirku) aku nggak mau malu-maluin.
Setelah 3 bulan berlalu, usai Ulangan semester, aku menanyakan kepada BU Sri mengenai kelanjutan 'kontrak' ku. Tapi salah ku aku nggak pernah bilang kalau aku bukan alumni bahasa Inggris. Aku selalu merasa mereka sudah tahu dari Bu Alya. lagi perasaan ku yang bermain.
Bu Sri mengatakan agar aku tetap melanjutkan mengajar, karena bu hasmiah masih nggak ada kabarnya. Aku pun melanjutkan mengajar, karena aku belum berniat pulang kampung, "sekalian buat alasan sama mama, kalo di sini aku punya kerjaan, biar diizinin tetap di makassar untuk nuntut ilmu agama"
Begitulah, sampai saat ini, sudah setahun aku melakoni tugas ku sebagai pengajar di SMA MKS RY, tentunya bukan itu saja pekerjaan yang kujalani. Aku juga menjadi pengajar (tentor) matematika di sebuah LBB (lembaga Bimbingan Belajar) Islami di Makassar, dan nyambi as a private teacher. Meskipun gaji di kedua job ku itu lebih besar dibandingkan di skolah, tapi ada hal lain yang membuatku bertahan, yakni pengalaman. Pengalaman menjadi guru di kelas, di sekolah, berinteraksi dengan sesama guru dan siswa. 
Selama setahun ini, banyak hal yang sudah kualami di sini. Mengajar siswa dengan tingkat IQ dan sifat2 yang beraneka ragam, bagaimana menyiapkan perangkat pembelajaran bahsa Inggris (silabus, Prota, Promes, RPP, KKM), bagaimana menyusun soal ulangan, membuat kisi Ujian Sekolah, pergi mengawas UN di sekolah lain, rapat guru, ngurus ini, buat itu dll. Guru-guru di sekolah ini pun sangat menyenangkan, ramah, dan kekeluargaan. Ada ibu Sri yang blak-blakan dan suka ngasi masukan, ada bu J yang keibuan, penyayang dan kadang nyentrik juga, Pak K yang pengetahuan agamanya lumayan, yang awalnya sangat kutakuti karena ia dijuluki 'polisi bahasa' oleh guru-guru yg lain, kudu ati-ati klo ngomong sama bapak yg satu ini, tapi lama-lama aku mulai merasakn kebaikan dari beliau. bu nana, bu ipe, bu dewi, bu alya, bu Anti, bu rahma, yang termasuk guru-guru honor seperti ku. Mereka adalah senior-senior ku di Kampus, tapi di sekolah mereka adalah rekan kerja yang baik. Bu S yang baik, Pak H, Pak Haji Hrn, Pak guru Olahraga, dan masih banyak lagi. Mereka semua nggak sombong, selalu memeberikan motivasi kepada yang lain. Saling mengoreksi dan menerima masukan. Pokoknya semangat kekeluargaan di sekolah ini terasa banget. Tentunya semua ini tak lepas dari peran pak Kepsek yang rendah hati dan bijaksana. Selalu mengingkan yang terbaik buat siswa dan guru. Saat menulis ini aku baru sadar kalau ternyata banyak hal berharga yang kudapat dari 'salah alamat' ini. 
Nah... sekarang aku jadi bimbang, gundah, resah, dan sejenisnya. Sifat perasa ku kumat lagi, merasa nggak enak tanpa tahu apa yang sebenernya dirasakan oleh pak Kepsek. Sempat terpikir juga untuk mengundurkan diri, dan mencari sekolah yang lain. Hanya saja, saat ini kami tengah dalam proses merampungkan perangkat sekolah. Apa kata pak Kepsek jika tiba-tiba aku mengundurkan diri. Tadinya aku berniat menghadap ke pak Kepsek untuk menyakan masalah penentuan KKM bahasa Inggris yang aku belom ngerti caranya, karena aku bukan anak bahasa Inggris. Sayangnya, sebelum sempat menghadap, bu S sudah keburu ngomong, jadi nggak enak deh. 
Kupikir ini memang salah ku, tak ingin merahasiakan tapi tak pernah menyampaikan. (abis nggak ditanya sih)
saya sama sekali tidak pernah berpikir akan mengajar bahasa Inggris selama ini. Ini di luar rencana ku. Meski  saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah. Satu hal yang dapat menghiburku adalah aku yakin kalo aku selalu melakukan yang terbaik dalam pekerjaan yang kujalani. Aku bukan guru yang malas, malah kak Alya sebel karena aku terlalu 'rajin'. 
Aku terkesan dengan perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu: "seorang Insan dinilai dari apa yang bisa dikerjakannya dengan baik"
Hal itu memacuku untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan. Suatu pekerjaan sekecil apapun itu, ia tetap pekerjaan, lakukanlah dengan baik dan kebaikannya juga akan mengalir pada kita dan orang-orang di sekitar kita.
Mudah-mudahan itu bisa jadi pertimbangan buat pak Kepsek dalam menilai ku. Aku nggak takut dipecat, aku hanya khawatir jika pak Kepsek marah, itu saja. Aku sama sekali tidak takut kehilangan pekerjaan, yang aku takutkan adalah kehilangan kepercayaan.

Pada akhirnya aku haya bisa berharap yang terbaik pada Allah. Wish everything is OK.






Kamis, 06 Oktober 2011

Kemaksiatan Melahirkan Kemaksiatan Lainnya

catatan ini aku copas dari note seorang teman di fb.  mudah-mudahan bermanfaat. selamat membaca!

Sesungguhnya kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba akan melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain, sehingga pelakunya susah dan berat meninggalkannya. Sebagian salaf mengatakan: “Sesungguhnya diantara hukuman keburukan adalah terjadinya keburukan setelahnya, dan sesungguhnya di antara pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya”. Jika seorang hamba telah melakukan sebuah kebaikan, maka kebaikan yang berada di dekatnya mengatakan: “Hendaklah engkau mengamalkan aku juga!”. Jika dia telah mengamalkan kebaikan kedua, maka kebaikan ketiga akan mengatakan seperti itu juga , dan begitu seterusnya. Sehingga kebaikan selalu bertambah dan keuntungan berlipat ganda. Sebaliknya, keburukan juga seperti itu. Maka akhirnya ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi sifat yang melekat dan keadaan yang tetap ada pada pelakunya. Jika seorang muhsin (orang yang sudah terbiasa berbuat ketaatan dengan sebaik-baiknya) meninggalkan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya tertekan, bumi yang luas terasa sempit, dan dia merasa seperti ikan yang meninggalkan air. Sampai dia kembali melaksanakan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya akan menjadi tenang dan hatinya menjadi tenteram. Sebaliknya, jika seorang mujrim (orang yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang besar) meninggalkan kemaksiatan dan menuju ketaatan, maka jiwanya tertekan, dadanya terasa sempit, sampai dia terbiasa melaksanakan ketaatan-ketaatan (Lihat Ad-Da' wa Dawa' karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Hal ini diisyaratkan di dalam sebuah hadits Nabi Muhammmad saw dengan sabda Beliau “Hendaklah kamu selalu jujur, karena sesungguhnya jujur itu akan menuntun menuju kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan menuntun kepada surga. Dan tidaklah seseorang selalu berkata jujur dan berusaha menetapi kejujuran, sampai dia ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan hendaklah kamu selalu menjauhi dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan menuntun menuju kemaksiatan, dan sesungguhnya kemaksiatan itu akan menuntun menuju neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berkata dusta dan selalu memilih kedustaan, sampai dia ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang pendusta (HR. Muslim dari 'Abdullah bin Mas'ud)


Oleh karena itu Allah swt melarang kemaksiatan dan sarana-sarananya. Allah swt telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tidak nampak.Allah swt juga melarang mendekati perbuatan-perbuatan keji itu dan sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya. Semua itu sebagai rahmat-Nya kepada para hamba dan menjaga mereka dari perkara yang membahayakan mereka di dunia dan akhirat.


Diantara perbuatan keji yang telah Allah swt haramkan di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya adalah zina. Allah swt berfirman yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra:32)


Sarana-sarana yang menghantarkan menuju zina juga diharamkan, seperti wanita keluar rumah memakai parfum, membuka aurat kepada orang lain, berbicara manja kepada laki-laki yang bukan mahram, bersafar tanpa mahram, ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan), khalwat (laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya), tabarruj (perbuatan wanita yang memamerkan dandanan dan perhiasan), mengumbar pandangan kepada wanita yang bukan mahram, dan lain-lain.


Ketika larangan Allah swt diterjang, maka apakah yang terjadi? Kemaksiatan berantai membelenggu sang pelaku. Akhirnya berujung kepada zina. Ketika si wanita telah hamil karena zina, aborsi ditempuh sebagai solusi. Dengan banyaknya perzinaan, maka aborsi juga semakin meningkat pesat. Padahal di dalam perbuatan aborsi terdapat berbagai bahaya dan pelanggaran syariat yang dilakukan. Maka perlu ada usaha bersama untuk membendung perilaku menyimpang dari agama ini, sehingga harapan mearaih kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih oleh umat ini dengan ridha ilahi.


Diambil dari Majalah As-Sunnah, Jumadil Tsani 1430/Juni 2009
dipublish ulang oleh http://perpustakaan-islam.com/